Posted by: hagemman | July 30, 2009

SEKARANG SOAL KEDELAI

kedelaiKebijakan pemerintah mendorong pengembangan budidaya kedelai masih setengah hati. Oleh karena itu, target swasembada kedelai tahun 2014 akan sulit tercapai. Pendapat itu terungkap dalam Simposium Jagung dan Kedelai di Jakarta (29/7).

Menurut Ketua Umum Dewan Kedelai Nasional Benny Kusbini, hingga kini belum ada regulasi yang mendorong harga jual kedelai petani. Ini membuat petani tak bergairah menanam kedelai.

Dijelaskan, pemerintah belum berupaya mendorong penyediaan sarana dasar produksi kedelai, antara lain penyediaan benih unggul, teknologi penyimpanan pascapanen, dan perbaikan infrastruktur. “ Selama persoalan mendasar belum dibenahi, maka sulit untuk mencapai target swasembada kedelai, “ ujar Benny.

Saat ini kebutuhan kedelai nasional dipenuhi dengan mengimpor dari AS, Brazil, dan Kanada. Harga kedelai impor Rp. 5.200 – Rp. 5.300 per kilogram. Sementara itu, harga kedelai lokal di tingkat petani rata-rata Rp. 5.200 per kilogram. Harga kedelai petani merosot saat panen raya.

Produksi kedelai nasional saat ini sekitar 850.000 ton per tahun, sementara kebutuhan dalam negeri 2,3 juta ton. Laju permintaan kedelai untuk pakan ternak setiap tahun naik antara 10 – 15 persen.

Adapun kapasitas produksi kedelai di Indonesia saat ini 0,8 – 1,2 ton per hektar. Untuk mencapai swasembada kedelai diperlukan peningkatan produktifitas, setidaknya 2 – 2,5 ton per hektar.

Ketua Kerukunan Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir berpendapat, pemerintah harus menentukan harga dasar kedelai terlebih dahulu untuk mengantisipaso fluktuasi harga. Penentuan harga dasar akan menyelamatkan harga di tingkat petani saat panen raya.

Ketua Umum Induk Koperasi Tahu Tempe Sutaryo mengemukakan, kebutuhan kedelai untuk industri tahu-tempe setiap tahun mencapai 2 juta ton. Sutaryo menyarankan agar pemerintah memberlakukan bea impor kedelai untuk meningkatkan daya saing produksi kedelai dalam negeri serta melindungi harga di tingkat petani.

“ Besaran bea impor yang ideal adalah 10 persen, “ tuturnya. Dijelaskan, tingginya kebutuhan kedelai untuk industri tahu-tempe menunjukan ada potensi besar di industri ini. Omzet industri tahu-tempe setiap tahun sekitar Rp 15 triliun.

Namun, berkembangnya industri tahu-tempe belum diikuti perluasan pasar. Sebagian besar produk tahu-tempe hanya dipasok di pasar tradisional. Padahal produk ini tidak tahan lama. “ Para perajin perlu meningkatkan daya saing dengan membuat produk tempe dan tahu yang berkualitas, “ ujarnya.

Sumber : Kompas, 30.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: