Posted by: hagemman | July 30, 2009

MASIH SOAL GARAM

garamRendahnya produktifitas garam menjadi salah satu penyebab produksi garam dalam negeri tidak mampu bersaing dengan garam impor. Untuk itu, pemerintah diminta merelokasi usaha tani garam ke wilayah Indonesia timur yang iklimnya lebih kering.

Menurut Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo di Jakarta (22/7), selain rendahnya harga jual garam di tingkat petani, produksi garam yang dihasilkan petani juga rendah.

“ Terus-menerus memproteksi garam dalam negeri juga tidak baik tanpa diimbangi dengan peningkatan produktifitas dan kualitas, “  katanya.

Siswono menjelaskan, hampir semua garam impor yang masuk ke Indonesia berasal dari Australia bagian barat. “ Di sana udaranya lebih kering, curah hujan tendah, sehingga kadar keasinan air laut tinggi. Karena itu, produktifitasnya sangat tinggi sehingga harganya bisa rendah, “ tutur Siswono.

Selain itu, lanjut Siswono di Australia juga terjadi industrialisasi garam. Untuk memproduksi 4 juta ton garam hanya butuh 5.000 tenaga kerja. Adapun di Indonesia, untuk memproduksi sekitar 1 juta ton garam butuh 40.000 tenaga kerja.

Di Indonesia, produksi garam dilakukan di daerah yang curah hujannya tinggi, seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat. Akibatnya, produktifitas per hektar rendah. “ Karena itu, relokasi usaha tani garam mendesak dilakukan, terutama ke daerah kering seperti di NTT, “ ujar Siswono.

Selain itu, harus dilakukan modernisasi. “ Sejak terjadi monopoli distribusi garam, pemerintah gagal melakukan modernisasi alat-alat produksi. Produksi garam masih menggunakan cara lama yang biasa dipakai nenek moyang kita, “ katanya.

Sementara dari potensi alamnya, pengembangan industri garam di Indonesia terbuka lebar. Masih menurut Siswono Yudo Husodo ; Indonesia punya garis pantai 80.000 kilometer, salah satu terpanjang di dunia. Jadi mestinya Indonesia menjadi pengekspor garam. Atau setidaknya bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Tapi pada kenyataannya impor garam Indonesia 1,63 juta ton per tahun, yakni 60 persen dari total kebutuhan nasional.

Menurut Direktur Lembaga Pengembangan Bisnis Harmoni Idrus Zen, Departemen Perindustrian seharusnya membenahi pergaraman nasional, yakni dengan mengeluarkan langkah-langkah strategis untuk menolong petani garam.

Garam termasuk komoditas bahan pokok. Karena itu, kata Idrus, pemerintah bisa memanfaatkan Perum Bulog guna membeli garam petani agar harga garam petani terangkat dan stabil. “ Tingginya deviasi harga di tingkat petani dan konsumen menunjukan sistem perdagangan garam lemah, “ katanya.

Jika kita mencoba mengidentifikasikan faktor penyebab permasalahan pada pergaraman nasional ini ; Hermas E Prabowo dalam tulisannya yang menarik dengan judul Asin-Pahitnya Petani Garam (Kompas, 29/7) memaparkan sebagai berikut :

Pertama, karena terlalu panjangnya rantai perdagangan garam yang menjadi salah satu penyebab harga garam di tingkat petani rendah.

Kedua, pascakrisis moneter pemerintah membuat kebijakan impor bebas dengan bea masuk 0 persen. Harga garam pun jatuh. Pernah Rp 25 per kilogram.

Ketiga, masih terkait kebijakan impor garam. Lemahnya kontrol kebijakan pemerintah dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2005 tertanggal 30.09.2005 yang mewajibkan importir produsen (IP) beryodium dan pedagang sebagai importir terdaftar (IT) menyerap garam petani untuk mendapatkan alokasi impor. Karena kontrol pemerintah lemah dalam pelaksanaan peraturan ini, maka manipulasi terjadi sehingga akibatnya timbul oversupply garam yang menyebabkan jatuhnya harga.

Keempat, lemahnya posisi tawar petani garam membuat mereka tidak berdaya saat harga beli ditekan. Apalagi industri memanfaatkan para tengkulak untuk mendapatkan harga garam murah. Petani pun tidak berdaya karena terdesak kebutuhan hidup.

Selain empat hal di atas, masalah yang tak kalah pentingnya seperti yang dipaparkan di atas, yakni (a)  lambatnya restrukturisasi dan modernisasi usaha tani garam dan (b)  pemilihan lokasi sentra produksi garam yang tidak tepat, karena berada di daerah dengan curah hujan tinggi seperti di Jawa.

Berkaca pada gula

Lebih lanjut Hermas E. Prabowo menulis bahwa apa yang menimpa petani garam sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan petani tebu pada tahun lalu. Namun, pemerintah bisa menyelesaikan kisruh pergulaan nasional setelah punya kemauan politik yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan petani tebu dan membangun industri gula dalam negeri.

Bukan tidak mungkin pola serupa diterapkan pada komoditas garam. Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian Achmad Mangga Barani yang juga Sekretaris Dewan Gula mengatakan, stabilitas harga gula pada tingkat petani pada posisi menguntungkan tercapai setelah tata niaga gula diperbaiki.

Jadi pola yang sama sesungguhnya bisa diimplementasikan pada komoditas garam. Selain mengontrol impor agar ada keseimbangan supply and demand, pemerintah juga perlu melakukan langkah modernisasi hingga relokasi lahan budidaya garam.

Bila pilihan itu yang dilakukan pemerintah, garam pasti tak terasa “pahit” bagi petani.

Sumber : Kompas, 28 & 29.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: