Posted by: hagemman | July 28, 2009

SAKSI TERAKHIR

HarryPatchMOS1111_468x587Kisah kekejaman Perang Dunia (PD) I tak banyak diketahui generasi umat manusia pada era saat ini. Akan tetapi, dunia masih bisa bersyukur, di sisa-sisa akhir hidupnya, Harry Patch, mantan tentara yang terlibat perang itu, sempat mengungkapkan catatannya mengenai kekejaman PD I itu.

Harry Patch tutup usia pada tanggal 25/7, pada usianya ke-111 tahun. Dia kemungkinan besar adalah saksi terakhir PD I, sekaligus simbol terakhir sebuah generasi yang hilang.

Patch adalah prajurit Inggeris yang terluka pada tahun 1917 saat pertempuran ketiga di Ypres, dekat Desa Passchendaele, di Belgia. Pertempuran di tempat itu dia gambarkan sebagai “lumpur, lumpur, dan lebih banyak lumpur yang bercampur dengan darah.”

Sejak cedera dalam perang itu hingga sehat kembali dan PD I berakhir, Patch tidak pernah mau menceritakan pengalaman maupun penglihatannya mengenai perang yang terjadi pada 1914 – 1918 itu. Selama perang itu, sekitar 9,7 juta pemuda tewas.

Baru ketika menginjak usia ke-100, atau 11 tahun lalu, Patch mulai mau bercerita mengenai kekejaman PD I. Sebuah perang dimana pertama kali digunakan tank, senapan mesin, gas mustard, pesawat terbang dan strategi serta taktik pertempuran parit yang statis.

Sangat trauma

Dia memang sangat trauma dengan apa yang dialaminya pada pertempuran di Paschendaele. Pertempuran itu menewaskan sekitar 325.000 tentara Sekutu dan 260.000 tentara Jerman, dari tanggal 31 Juli sampai 6 Nopember 1917.

PD Ia“ Siapa pun yang mengatakan kepada Anda bahwa di parit-parit mereka tidak ketakutan, dia adalah pembohong besar. Anda ketakutan sepanjang waktu, “ ungkap Patch dalam buku kesaksiannya, The Last Fighting Tommy, yang ditulis sejarawan Richard van Emden.

Kementerian Pertahanan Inggeris menyebut Patch sebagai tentara terakhir yang selamat dari PD I, yang menewaskan sekitar 20 juta orang. PD I itu merupakan pertempuran antara Sekutu yang dipimpin Inggeris, Prancis, dan AS melawan Jerman dan sekutunya.

“ Kami tidak akan melupakan keberanian dan pengorbanan yang besar dari generasinya, “ ungkap Ratu Elizabeth II melepas kepergian Patch. Pemerintah Inggeris pun memberikan penghormatan khusus atas kepergian Patch.

Tidak ada seorang pun veteran PD I dari Prancis atau Jerman yang masih hidup hingga saat ini. Veteran PD I terakhir AS adalah Franck Buckles dari Charlestown, yang berusia 108 tahun.

soldiers_01Patch yang lahir di barat daya Inggeris tahun 1898, sebelumnya ia adalah tukang pipa muda ketika dipanggil masuk militer pada 1916. Dalam bukunya ia melukiskan bagaimana seorang kawannya terluka parah akibat peluru di bagian bawah tubuhnya, sehingga meminta dia untuk menembaknya agar cepat mati. Dia tewas sebelum Patch mencabut revolvernya.

“ Saya bersama dia 60 detik terakhir dalam hidupnya. Dia menyebut satu kata terakhir ‘ Ibu ‘. Kata-kata itu terus teringat dalam otak saya selama 88 tahun. Saya tidak akan melupakan itu, “ uangkapnya.

“ Perang tak layak untuk satu pun nyawa, “ kata Patch mengingatkan kepada kita semua.

Sumber  :  Kompas | Guardian, 27.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: