Posted by: hagemman | July 28, 2009

BALIBO FIVE

baliboPemutaran perdana film yang berjudul Balibo, dibintangi Anthony LaPaglia, pada ajang Festival Film Internasional Melbourne, Australia (24/7) ; membuat Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta buka suara soal tewasnya 5 wartawan asing yang juga diisitilahkan Balibo Five, di Timor Timur 34 tahun silam.

Ramos Horta mengatakan, dia memeriksa kematian kelima wartawan itu tidak lama setelah mereka tewas di batas kota Balibo. “ Mereka tidak hanya dieksekusi. Dari yang saya ingat saat itu, salah satunya disiksa secara sangat sangat brutal, “  katanya saat penayangan perdana film Balibo dengan pengambilan gambar di Timor Leste ini. Harap dimaklumi Ramos Horta sendiri waktu itu adalah pemimpin Fretilin dan menjadi tokoh sentral dalam film ini.

Balibo Five terdiri dari, Reporter Greg Shackleton dan Juru Kamera TV Channel 7 Melbourne, Tony Stewart (Australia), Juru Kamera Brian Peters (Inggeris) dan Teknisi TV Channel 9 Sydney Gary Cunningham (Selandia Baru) dan Reporter Malcolm Renie (Inggeris), yang tewas saat pasukan Indonesia menyerbu Balibo pada Oktober 1975. Kelima wartawan itu bertujuan meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Timur untuk jaringan televisi Australia.

Di lain pihak, masih ada wartawan keenam, Roger East, yang datang ke Indonesia untuk menyelidiki nasib rekan-rekannya ini, ia tewas di Dili, ibu kota Timor Timur, enam pekan kemudian saat tentara Indonesia menguasai kota itu. Versi film Balibo ini menggambarkan East dipukuli dan kemudian dibunuh.

Pemerintah Indonesia telah resmi menyatakan bahwa kelima wartawan itu tewas tanpa sengaja karena terjebak di tengah baku tembak tentara dan kelompok Fretilin. Versi ini pun telah diterima oleh Pemerintah Australia.

a-jose_ramos_hortaMenurut Ramos Horta, pejabat Indonesia telah melakukan penyembunyian bukti dengan memerintahkan agar mayat kelima wartawan itu dibakar. “ Orang-orang yang membunuh mereka merasa perlu untuk membakar mayat mereka karena pejabat senior tiba di lokasi dan melihat apa yang terjadi, “  kata Ramos Horta lagi, “ Orang-orang itu tahu apa konsekuensinya sehingga mereka harus menghilangkan bukti bahwa para wartawan itu ditangkap hidup-hidup lalu dibunuh dengan brutal. Itulah sebabnya, mayat mereka dibakar untuk menghilangkan bukti penyiksaan.”

Tahun 2007, seorang koroner Australia yang meninjau kembali bukti-bukti kematian menemukan bahwa para wartawan itu tewas saat mereka mencoba menyerahkan diri kepada tentara Indonesia. Dia merekomendasikan agar para pembunuhnya dituntut atas kejahatan perang. Akan tetapi, pemeriksaan tidak menyebut adanya penyiksaan. Hampir 18 bulan setelah temuan itu diserahkan, Pemerintah Australia tidak merespons seruan sang koroner tersebut. Sampai kemudian film Balibo diluncurkan dengan harapan dapat mendorong Pemerintah Australia untuk bertindak.

Versi lain Balibo Five

1701292Dari sekian banyak versi yang terkait hal ini, salah satunya bisa kita lihat dalam buku Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur,  karya Hendro Subroto (1996). Ia menuliskan berdasarkan pemantauan lapangan bahwa perebutan Balibo dimulai pukul 06.00 pagi tanggal 16.10.1975. Pertempuran hanya berlangsung sekitar 45 menit, serangan mortir mengenai salah satu rumah yang digunakan sebagai pertahanan Freitilin yang hancur dan terbakar. Belakangan ditemukan 15 jenazah dalam rumah tersebut yang hangus terbakar dan empat di antaranya empat jenazah orang kulit putih.

Kemudian pihak Apodeti, ketika melakukan pengamanan, menemukan dua jenazah lainnya dalam hutan di luar Balibo pada tanggal 27.10.1975, pada jalur yang digunakan Fretilin untuk mengundurkan diri dari Balibo, satu di antaranya adalah orang kulit putih disamping satu set kamera dan dokumen.

Memang tidak disebutkan adanya investigasi rinci terkait total lima jenazah orang kulit putih ini ; yang jelas pihak Apodeti, UDT dan Kota ; faksi-faksi yang menentang Fretilin, membuat surat pernyataan bersama pada tanggal 22.10.1975 yang menyatakan ketidak-yakinan mereka jenazah orang kulit putih itu sebagai wartawan Australia. Sebab maklum pertempuran sengit dan medan tempur yang kacau tampaknya tidak memungkinkan dilakukan penyidikan khusus yang seksama pada waktu itu, termasuk pula pembakaran jenazah yang tampaknya untuk kepraktisan semata karena kondisi jenazah yang rusak.

Tanggal 05.12.1975, abu jenazah kelima wartawan Australia itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta, atas permintaan pihak keluarga. Upacara pemakaman ini dihadiri oleh Dubes Australia untuk Indonesia Woolcott dan Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sunardi D.M.

Tapi satu hal yang menarik, dalam tulisannya Hendro Subroto menyebut Frank Palmos Chief Reporter TV Channel-9 yang sempat memprotes secara tertulis kepada Australian Journalist Association (AJA) bahwa penugasan kerabat kerja TV Channel-9 ke Timor Timur ini  adalah tugas peliputan yang amat sangat berbahaya. Tapi Frank, yang pernah kuliah di Universitas Pajajaran Bandung ini, kemudian memperoleh jawaban AJA yang tetap merestui sepenuhnya hal ini dengan alasan Freedom of the Press.

Di sisi lain Frank Palmos menyatakan pula bahwa salah satu wartawan yang tewas itu, Gary Cunningham yang berusia 23 tahun dan baru beberapa hari tiba dari London, bertanya padanya : “ Where is East Timor located ? “  Parahnya lagi tidak ada seorang pun, menurut Frank Palmos, dari mereka yang menguasai bahasa Portugis, Indonesia mau pun Tetun yang akan amat mempermudah mereka untuk tugas peliputan ; intinya kerabat kerja yang melakukan liputan ini sama sekali tidak memiliki pemahaman rinci terkait tempat yang dituju dan permasalahan konflik yang terjadi.

Juga ada pengakuan Ketua Partai Fretilin Fancisco Xavier do Amaral ketika bertemu dengan kerabat kerja Channel -7 dan Channel-9 ini bahwa ia menyatakan tidak bertanggung jawab jika terjadi musibah menimpa mereka ; sebab keadaan memang sangat berbahaya. Namun mereka mengatakan jika terjadi sesuatu atas diri mereka, maka hal itu merupakan tanggung jawab mereka masing-masing. Bahkan mereka tidak akan meminta pertanggungjawaban kepada siapa pun. Setelah itu, menurut do Amaral ; mereka bertolak menuju Maliana, kemudian Balibo.

Dan di Balibo-lah segalanya berakhir bagi mereka berlima.

Sumber  :

Kompas | AFP | BBC, 25.07.2009
Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur, Hendro Subroto – 1996

Advertisements

Responses

  1. […] ketika pemutaran perdana film Balibo ini di Australia, Ramos Horta yang mendapat anugerah hadiah nobel perdamaian itu justru memberi komentar yang sama […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: