Posted by: hagemman | July 25, 2009

OH GARAM !

oh garamPara petani garam mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah. Saat panen raya harga garam petani selalu anjlok, bahkan sering hanya Rp 80 per kilogram. Ada pun garam impor terus membanjiri pasar domestik. Saat ini 60 – 70 persen kebutuhan garam nasional dari impor.

Dibukanya lebar-lebar peluang impor garam, kata koordinator petani garam di Kecamatan Suranenggala dan Kapetakan Cirebon, Jawa Barat, Muhammad Taufikkurohim, membuat harga garam petani jatuh.

Indikasi pemerintah “membiarkan” impor itu, antara lain, tampak dari ketidakakuratan pemerintah mencatat produksi garam petani. Data produksi garam petani Cirebon dan Indramayu, misalnya, hanya tercatat 60.000 ton per tahun. “ Bagaimana mungkin data produksi serendah itu, padahal di kedua kabupaten ini terdapat 7.000 hektar lahan garam, “ kata Taufik (22/7) di Cirebon. Produktifitas garam petani per hektar 60 – 80 ton, bergantung pada curah hujan.  Yang artinya jika rata-rata per hektar mampu berproduksi sebanyak 70 ton, maka total produksi di wilayah Cirebon dan Indramayu sesungguhnya adalah 490.000 ton, amat jauh berbeda dengan data pemerintah selama ini.

Dengan membuat data produksi garam petani yang sangat rendah, lanjut Taufik, maka ada peluang memasukkan garam impor dalam volume yang lebih besar. Situasi ini yang membuat petani tidak bersemangat memproduksi garam.

Harga garam di tingkat industri dan konsumen saat ini Rp 2.500 – Rp 5.000 per kilogram. Ada pun harga di tingkat petani hanya Rp 500 – Rp 600 per kilogram. “ Itu pun sekarang petani sudah tidak punya garam dan panen belum tiba, “ katanya lagi menambahkan.

Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) wilayah Indramayu, Jawa Barat, Karno Dirga’admaja, kebijakan pemerintah yang bias ke impor menunjukan tidak ada keberpihakan pada petani garam. “ Tidak ada keadilan bagi petani garam. Selama ini harga garam selalu dikendalikan pembeli, “ tuturnya.

Direktur Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Harmoni Idrus Zen menyatakan, yang diperlukan petani garam adalah dukungan kebijakan pemerintah yang memihak mereka. “ Baik kebijakan tata niaga dalam bentuk pengendalian importasi garam, jaminan penyerapan pasar produksi garam petani, maupun dukungan inovasi teknologi untuk meningkatkan produtikfitas dan kualitas garam, “ kata Idrus.

LPB Harmoni adalah lembaga swadaya masyarakat yang sejak tahun 2005 mendampingi petani garam. Idrus menjelaskan, kebergantungan pada garam impor terus meningkat. Saat ini Indonesia rata-rata mengimpor 1,63 juta ton garam per tahun, atau sekitar 60 – 70 persen dari total kebutuhan nasional. “ Kebergantungan pada impor terus meningkat. Padahal, ada peluang meningkatkan produktifitas dan kualitas dengan melakukan inovasi teknologi budidaya garam, “ paparnya.

Alangkah menyedihkan dan ironis, negara kita yang notabene negara maritim dengan garis pantai sepanjang 80.000 kilometer, kendati sebagian kontur tidak cocok untuk produksi garam rakyat ; ternyata kita masih amat bergantung pada garam impor sehingga mengorbankan saudara-saudara kita, para petani garam.

Sumber : Kompas, 23.07.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: