Posted by: hagemman | July 24, 2009

TERORISME, BOM, DAN INTELIJEN

bom 03The best way to defeat terrorists is to penetrate their cells. “  Paul Bracken

Secara konseptual, negara sebagai suatu institusi politik dinyatakan hadir jika ia dapat menegaskan dirinya sebagai institusi satu-satunya yang sah dalam penggunaan kekerasan.

Bila hakikat monopolistik dalam penggunaan kekerasan ini hilang, gugatan dan pertanyaan atas eksistensi negara akan muncul. Gugatan dapat muncul dari dua sumeber.

Pertama, jika profesi penggunaan kekerasan diijinkan menjadi lahan bisnis komersial. Pertumbuhan perusahaan keamanan swasta sering dikritik sebagai indikasi ketidakpercayaan terhadap kapasitas monopolistik penggunaan kekerasan oleh negara guna menjamin keamanan.

Kedua, jika terjadi fenomena negara gagal yang ditandai tidak berfungsinya institusi penanggung jawab keamanan negara. Dalam kalimat keras, Erhard Eppler dalam The Return of the State (2009) menyebutkan fenomena pertama sebagai kekuasaan yang diswastakan, sedangkan fenomena kedua sebagai masyarakat barbarik dan tidak beradab.

Perlindungan demokrasi

Tidak mengherankan jika negara lalu memberi tanggapan saat ada aktor lain yang secara telanjang berusaha meniadakan monopoli penggunaan kekerasannya. Aktor lain yang mungkin menantang otoritas itu bisa datang dari kelompok separatis bersenjata atau teroris. Tanggapan negara biasanya mengeluarkan aturan, yang membatasi hak-hak politik individual. Namun, ada variasi dalam memperkuat otoritas itu, mulai dari yang “lembut” (soft response) hingga yang amat “keras “(cruel response).

Untuk tanggapan yang “lembut”, misalnya AS setelah Peristiwa 11 September. Pemberlakukan UU Patriot oleh Bush tahun 2001, setelah serangan teroris, memberi ruang lebih luas bagi Pemerintah AS untuk membatasi hak-hak politik individual warganya. Namun, pemberlakuan UU Patriot ini tidak serta merta mengakibatkan terjadinya “pengebirian” proses demokrasi di negeri itu. UU Patriot dikeluarkan untuk melindungi dan melanjutkan pelembagaan dan mekanisme demokrasi di AS.

Tanggapan ini berbeda dengan yang diperlihatkan Marcos, saat terjadi ledakan bom di Filipina, 21.08.1971, yang menewaskan sembilan warga sipil. Dikenal sebagai peristiwa “Plaza Miranda”, Marcos menuding teroris sebagai pelaku. Berdasar tuduhan itu, ia memberlakukan undang-undang darurat perang, mengakibatkan terbungkamnya demokrasi lebih dari satu dasawarsa dan memunculkan rejim otoriter.

Kisah di AS dan Filipina menyampaikan pesan, upaya negara memonopoli penggunaan kekerasan, khususnya saat berhadapan dengan teroris, dapat mengakibatkan dua hasil berbeda. Ia dapat dilakukan untuk melindungi demokrasi, tetapi juga dapat membunuh demokrasi. Pilihan kebijakan ideal yang harus dilakukan Indonesia bukan dengan membunuh demokrasi, tetapi melindungi.

Isolasi isu

Jika sepakat bahwa perlindungan terhadap demokrasi harus dijadikan benchmark guna meluncurkan tanggapan kebijakan yang tepat, yang perlu dilakukan tidak memperluas ancaman serangan teroris ke bidang lain. Dengan kata lain, isu serangan teroris, seperti ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, harus dibatasi sebagai masalah keamanan, bukan politik. Dengan mengisolasi sebagai masalah keamanan, yang harus dilihat adalah keterbatasan dan kegagalan keamanan, khususnya intelijen, untuk mencegah serangan teroris.

Pemerintah harus bersedia dan mengakui, ledakan bom itu menyampaikan pesan, ada yang serius dalam sistem peringatan dini dinas intelijen negeri ini. Institusi intelijen di Indonesia mungkin tidak efektif untuk melaksanakan fungsi utamanya, yaitu menghindarkan terkadinya kejutan strategis (strategic surprise). Secara teoritik-konseptual, ada tiga sebab mengapa dinas intelijen Indonesia tidak efektif mencegah kejutan strategis teroris.

Pertama, informasi tentang adanya serangan teroris sebenarnya diperoleh, tetapi tidak ditindaklanjuti. Ketiadaan tidak lanjut mungkin muncul dari berbagai sebab, misalnya terkait sifat informasi masih amat kabur atau sering disebut problem of signal. Sebab lain, mungkin terkait keterbatasan otoritas. Informasi mungkin sudah didapat oleh dinas intelijen tertentu, tetapi karena dinas intelijen bukan lembaga penegak hukum, ia tidak mampu melakukan pencegahan, tetapi hanya menyampaikan informasi peringatan kepada polisi sebagai lembaga penegak hukum. Jika ini yang terjadi, solusinya adalah penguatan koordinasi antarinstitusi keamanan yang di dalamnya memiliki dinas intelijen atau mengeluarkan regulasi yang memberi wewenang terbatas dinas intelijen yang bukan penegak hukum guna melakukan penahanan pelaku yang dicurigai.

Kedua, memang tak ada informasi sama sekali kemungkinan adanya serangan teroris. Ketiadaan ini mungkin terkait ketidakmampuan dinas-dinas intelijen untuk secara profesional mengumpulkan atau mengolah informasi yang diperlukan. Mengapa tidak mampu ? Mungkin disebabkan warisan tradisi dinas intelijen Orde Baru yang amat dekat dengan kekuasaan politik sehingga lebih berfungsi sebagai intelijen politik daripada intelijen keamanan profesional. Ketidakmampuan juga bisa disebabkan keterbatasan teknologi sehingga tidak dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan. Keterbatasan teknologi ini mungkin muncul dari keterbatasan anggaran. Penguatan teknologi intelijen memang membutuhkan biaya amat besar.

Namun, teknologi bukanlah segalanya, AS yang memiliki teknologi amat canggih pun kewalahan menghadapi teroris. Seperti pendapat Paul Bracken pada awal tulisan, cara terbaik menghadapi teroris mungkin bukan hanya mengandalkan teknologi, tetapi memanfaatkan human intelligence, yaitu penyusupan terhadap sel-sel teroris. Karena itu, ledakan bim di Marriott dan Ritz Carlton patut dilihat sebagai kesempatan membenahi dinas-dinas intelijen Indonesia baik dalam fungsi, otoritas, koordinasi, penguatan kapasitas teknologi dan sumber daya manusia.

Sumber  :  Terorisme, Bom, dan Intelijen – Makmur Keliat, Kompas, 21.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: