Posted by: hagemman | July 24, 2009

ANGSA HITAM

nassim talebDua ledakan bom yang mengguncang Jakarta di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton (17/7) adalah salah satu fenomena The Black Swan, “ angsa hitam ” jika kita mengacu pada buku yang berjudul sama, karya Nassim Nicholas Taleb.

Sebuah buku yang sarat dengan perenungan serta sekaligus menghantar kita pada kenyataan bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat diprediksi. Indra Gunawan dalam resensi buku ini pada Kompas, 08.03.09, menulis : “ Orang boleh memprediksi secara “ilmiah” harga minyak atau kurs dollar setahun ke depan. Namun, perhitungan itu lebih banyak berdasar asumsi-asumsi tertentu. Banyak variabel baru dapat menyusup yang menjungkirbalikan pelbagai prediksi. ”

Ambil contoh peristiwa 9/11, terjadinya bencana tsunami pada Desember 2004, rontoknya pasar bursa AS pada Oktober 1987 dan seterusnya, sampai peledakan bom di Jakarta tanggal 17.07.2009. Teori  “ angsa hitam “  ini merujuk pada peristiwa-peristiwa tak terduga, berdampak masif dan setelah kejadian baru dilakukan rasionalisasi, pembenaran dengan penjelasan retrospektif.  Baik untuk peristiwa yang menyedihkan maupun yang menyenangkan. Juga baik yang berdampak masif secara global maupun nasional.

Taleb yang juga mahaguru di bidang ilmu-ilmu ketidakpastian (uncertainty), teori kemungkinan (probability) dan masalah kemujuran (luck) disamping profesi masa lalu sebagai pialang saham, sungguh mampu menghidangkan kepada kita semua karya yang luar biasa.

black-swanDalam karyanya ini Taleb memperkenalkan dua wilayah aktifitas kehidupan dan pergumulan manusia. Pertama, wilayah yang disebutnya Mediocristan ; tempat dimana bagian besar kehidupan berjalan rutin, biasa, jelas dan lebih mudah diperkirakan. Misal profesi orang kantoran, pilot, dosen, peneliti di laboratorium ilmu murni, dan sebagainya yang memperoleh imbalan tetap. Dalam hal ini faktor yang utama dalam kelangsungan di dalam wilayah ini adalah keamanan kerja dan kepastian menerima upah tertentu.

Kedua, wilayah lainnya disebut Extremistan, dimana muncul hal-hal yang tidak terduga, kebetulan, baik yang menyenangkan atau sebaliknya. Di dalam wilayah inilah kegiatan kaum wiraswasta, artis, pemain sepak bola profesional, pengarang lagu atau buku, pemain di pasar modal, dan sebagainya. Dalam wilayah ini memiliki karakteristik dimana unsur variabel mudah berayun baik turun atau naik.

Dua wilayah di atas hanya merupakan pembagian kasar belaka dan orang bebas mondar-mandir dari satu wilayah ke wilayah lainnya, bolak-balik. Dan yang amat jarang terjadi adalah ketika kedua kaki seseorang berpijak dalam dua wilayah ini, baik Mediocristan dan Extremistan.

Sudah tentu apa yang disebut wilayah itu tak hanya bicara soal pilihan profesi, tetapi menyangkut juga pengaruh perubahan teknologi dan perkembangan jaman. Jaman telah membuka lebar peluang orang, misalnya, untuk berkiprah di industri kreatif di mana berbagai pergerakan vertikal lebih dimungkinkan. Di dalam wilayah Extremistan, “ angsa-angsa hitam “ lebih dirangsang untuk banyak bermunculan.

Pada hakekatnya, Taleb mengolok-olok mereka yang merasa memiliki pengetahuan yakni para pakar yang amat begitu yakin terhadap pengetahuan yang dimilikinya dan sanggup bicara secara meyakinkan, termasuk soal-soal masa depan. Padahal pada kenyataannya dunia ini bergerak semakin tidak linier, yang membuat ilmu masa lalu itu kerap sudah tidak televan lagi. Yang kerap diabaikan bahwa wilayah ilmu yang belum dikuasai masih jauh lebih luas ketimbang ilmu yang mereka pelajari. Harapan Taleb adalah mereka hendaknya lebih berendah hati dan secara sadar mau mengakui dari waktu ke waktu : “ Saya tidak tahu ! ”.

Sekali pun demikian, bukan berarti Taleb seorang pengarang anti terhadap segala hal yang berbau akademik. Buktinya ia amat menghormati Karl Popper yang menjadikan skeptisme konstruktif sebagai metode telaahnya untuk meramalkan peristiwa-peristiwa bersejarah, orang perlu mampu lebih dulu meramalkan inovasi-inovasi teknologi yang pada dasarnya tidak mungkin.

Juga pada Henri Poincare, seorang matematikawan pemikir yang memperkenalkan ketidaklinieran, efek-efek kecil yang dapat mengantar pada konsekuensi besar. Sebuah gagasan yang kemudian mengantar kita kepada teori chaos.

Kendati karya Taleb ini bukan jenis buku yang mudah dicerna karena banyak merambah wilayah teknis untuk orang kebanyakan. Toh tetap ia merasa cukup nyaman dan berkewajiban untuk menyinggung prihal teori induksi, kurva Mandelbrot, logika keacakan fraktal, hukum pangkat, epistemokrasi dan sebagainya. Taleb sungguh telah berupaya keras agar membuat karyanya ini menarik dengan ilustrasi-ilustrasi kejadian. Tapi toh tetap ada kesadaran pada kita bahwa buku ini lebih merupakan adonan dari hal-hal yang berat dan yang ringan, yang menjemukan dan yang menarik. Jadi kita perlu memamahnya secara pelan-pelan dan berulang-ulang, untuk menikmati serta memahami. Itulah yang disebut pengulas buku ini Michael Allen, yang membandingkan kualitas buku ini dengan The Open Society and its Enemies, karya klasik Karl Popper ; bahwa buku ini masih akan dibaca sampai 50 tahun ke depan.

Jangan-jangan itulah yang dimaksud Taleb, bahwasanya kita semua membutuhkan waktu, kerendahan hati dan kesadaran jernih untuk merenung dan memperoleh jawaban final : mengapa terjadi dua ledakan bom pada Jum’at pagi yang cerah di Jakarta, tanggal 17 Juli lalu ?

Sumber  : Kompas, 08.03.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: