Posted by: hagemman | July 21, 2009

UNCTAD : RESEP NEOLIBERAL GAGAL

UNCTAD 01Ada kritikan pedas dari ajang Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) di Geneva, Swiss (16/7), bahwa resep neoliberal gagal. Hal ini sebuah penegasan bahwa selama tiga dekade terakhir pemerintahan di negara-negara termiskin pada umumnya yang menjalankan kebijakan ekonomi yang disarankan IMF dan Bank Dunia  telah gagal memajukan pembangunan. Dengan kata lain, 49 negara yang tergolong dalam kelompok negara paling terbelakang (Least Developed Countries / LCD) tak beranjak dari kemiskinan.

Masalahnya kebijakan IMF dan Bank Dunia lebih fokus kepada liberalisasi, seperti misalnya deregulasi perbankan. Namun resep kebijakan ekonomi, yang didorong aliran neoliberal, kurang memberikan perhatian kepada pembangunan infrastruktur. Neoliberal merujuk kepada aliran pemikiran yang mendorong deregulasi dan liberalisasi. Paradigma ini berkembang pada pasca Perang Dunia II.

UNCTAD mengasumsikan pertumbuhan ekonomi di 49 negara termiskin tidak dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk tahun ini. Alasannya, 49 negara termiskin itu hampir bisa dipastikan tidak mendapatkan dana signifikan dari negara maju karena krisis. Oleh sebab itu, pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dari biasanya, bahkan lebih rendah dari pertumbuhan penduduk. Pendapatan per kapita sebuah negara akan meningkat jika pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk.

“ Ini merupakan kondisi serius. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan tindakan bersama dalam kerangka internasional maupun nasional. “ ujar Charles Gore, salah seorang ekonom yang menulis laporan UNCTAD. Terlebih dengan krisis ekonomi global sekarang ini yang dipastikan menimbulkan kerugian yang belum pernah diderita sebelumnya oleh LCD’s. Jadi seyogyanya LCD’s harus menggunakan krisis ini sebagai sebuah kesempatan untuk perubahan paradigma kebijakan pembangunannya.

UNCTAD mengharapkan negara-negara berkembang perlu melakukan langkah lain yang lebih luas dari sekadar melakukan reformasi kelembagaan, seperti tata kelola pemerintahan yang baik, yang didasarkan pada partisipasi rakyat, disertai dengan azas keadilan, akuntabilitas, transparansi dan efisiensi. Jadi menurut UNCTAD peluncuran kebijakan harus berpijak pada input domestik ketimbang luar, yang terbukti gagal untuk mengatasi kemiskinan di LCD’s.

Ujian yang paling nyata, menurut UNCTAD, antara lain apakah LCD’s dapat menggunakan pendekatan baru sebagai pijakan kebijakan untuk meraih kinerja ekonomi yang lebih baik ?

UNCTAD mengungatkan pentingnya investasi pada infrastruktur sehingga memudahkan mobilitas. Dana asing juga diperlukan, termasuk untuk membiayai defisit anggaran negara. Namun bantuan asing tetap dialokasikan berdasarkan kebutuhan domestik, bukan berdasarkan usulan kaum beoliberal.

Selain itu, langkah lain yang perslu diambil adalah memingkatkan peranan swasta dalam memobilisasi sumber-sumber daya. UNCTAD tidak mengharamkan modal dan peran swasta. Hal lain lagi yang menarik, UNCTAD menegaskan negara berkembang harus berinvestasi di sektor pertanian. Hal ini perlu agar hasil pertanian bertambah, dalam rangka ketahanan pangan. Negara-negara kaya yang tergabung dalam G-8 (Inggeris, Jerman, Prancis, Italia, AS, Jepang, Kanada, dan Rusia) berkomitmen menyumbang 20 milliar dollar AS untuk membantu investasi di sektor pertanian di negara-negara miskin. Kendati masih belum ada kejelasan realisasi serta berapa jatah bantuan G-8 untuk setiap negara terbelakang.

Mulai berhasil

Charles Gore mengatakan pula, pemerintahan di negara-negara berkembang belakangan ini mulai menemukan kebijakan yang membuat mereka dapat meningkatkan produksi dan menciptakan kesempatan kerja. LCD’s sudah mulai memperkenalkan pendekatan yang disarankan UNCTAD. Yakni saran yang dirancang untuk dapat menggerakan koalisi pertumbuhan domestik antara sektor swasta dan sektor pemerintah.

Di antara negara yang melakukan itu, misalnya Rwanda telah memformulasikan kembali strategi nasional. Zambia sudah mengidentifikasi sektor mana yang diprioritaskan, khususnya sektor yang dianggap paling kompetitif. Banglades sudah mampu meningkatkan produksi pertanian dan ekspor. Malawi telah beralih dari importir neto pangan menjadi eksportir berkat subsidi pupuk.

Sumber  :  Kompas, 18.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: