Posted by: hagemman | July 21, 2009

TEROR PUNCAK KEKERASAN

bom 01Dalam hirarki kekerasan, aksi teror dan terorisme berada di puncak. Terorisme merupakan puncak kekerasan, terorism is the apex of violence.  Itu pula menjadi gambaran kualitas aksi teror di Jakarta hari Jum’at kemarin.

Semua orang terguncang dan sangat tercekam karena memang tujuan serangan teror pertama-tama menciptakan ketakutan mendalam. Kaum teroris mengeksploitasi rasa takut sampai pada tingkat optimum.

Rasa takut yang begitu mendalam telah membawa orang ke dalam kengerian alam maut. Atau dalam analisis pemikir Martin Heidegger, ketakutan dan kecemasan merupakan ekspresi keberadaan menuju maut, Zeit zum Tode.

Sering disinggung, kiprah kaum teroris ibarat pepatah Cina, “ Bunuhlah seekor ayam untuk menakut-nakuti seribu ekor kera.”  Bukan hanya ribuan, melainkan jutaan bahkan miliaran orang ketakutan oleh serangan teroris yang cenderung spektakuler.

Keganasan kaum teroris memang meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan teknologi persenjataan. Kaum teroris semakin mahir menggunakan bom, termasuk bom bunuh diri.

Sudah dikhawatirkan pula kemungkinan kaum teroris menggunakan senjata nuklir seperti diingatkan oleh Uri Ra’anan dalam buku Hydra of Carnage, International Linkages of Terrorism (1986). Uri mengingatkan kemungkinan kaum teroris membikin bom nuklir yang bisa dibawa-bawa dalam koper atau bahan peledak nuklir sederhana yang bisa dipasang di jantung sebuah kota dan meledakkannya.

Jangkauan ancaman gerakan terorisme juga semakin luas karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Maka, terorisme sering disebut sebagai kejahatan tanpa batas wilayah, crime without frontiers.

Seluruh negara, tanpa terkecuali, berpotensi menjadi sasaran serangan teroris. Gerakan terorisme pun menjadi jaringan internasional, yang memiliki hubungan timbal balik dalam bidang pendanaan, logistik, latihan, dan orientasi ideologis.

Gerakan teorisme sebagai fenomena sejarah tampaknya akan tetap ada. Bahkan, Desmond McForan awal tahun 1970-an memperkirakan sekitar dua juta teroris terlatih baik yang berkiprah di seluruh dunia.

Kelihatan pula kaum teroris ingin menjadikan dunia sebagai panggung raksasa untuk aktifitas mereka. Ibarat aktor, kaum teroris menjalankan lakon di panggung dunia agar ditonton masyarakat global.

Tidaklah berlebihan jika kembali disinggung pandangan psikolog Jeffry Rubin dari Tufts University dan Nehemia Friedland dari Tel Aviv University yang menggunakan metafora teater untuk menggambarkan kiprah kaum teroris.

Kaum teroris dapatlah dikatakan sebagai protagonis dari tragedi modern paling kejam dan panggungnya adalah dunia. Mereka selalu berusaha mencari perhatian dan menyebarkan pengaruh melampaui kekuatan aktual mereka, yang lazimnya terbatas, dengan memanfaatkan media massa.

Maka, akhli tentang terorisme John O’Sullivan menggambarkan teroris sebagai penjahat yang haus publikasi. Bahkan, pada masa lalu, kaum teroris selalu mengklaim bertanggung jawab setelah beraksi.

Kejam dan pengecut

Tidak habis pikir mengapa kaum teroris bertindak begitu kejam, jauh dari imajinasi siapa pun. Sekalipun penggunaan teror dapat dikatakan setua sejarah manusia, sampai sekarang belum dapat dijelaskan mengapa tindakan kaum teroris di luar batas rasionalitas manusia.

Dalam kenyataanya pula, tidak sedikit teroris yang berlatar belakang ekonomi kuat dan pendidikan tinggi. Sekadar ilustrasi, teroris legendaris dari Venezuela, Illich Ramirez Sanchez yang populer disebut Carlos, adalah orang kaya.

Carlos pernah kuliah di Moskwa tapi justru meninggalkan kemewahan, mati-matian berkiprah dalam dunia terorisme yang terkenal keras, kejam, dan penuh risiko. Begitu pula latas belakang anggota kelompok Baader-Meinhof di jerman, Brigate Rosse di Italia, atau Sekigun di Jepang.

Sungguh sulit dimengerti mengapa kaum teroris yang memiliki kecerdasan dan berasal dari kelas menengah memilih kegiatan kejahatan teror. Para analis seperti Anthony Storr menyatakan, pelaku teror umumnya penderita psikopat agresif, yang kehilangan nurani, kejam dan sadistis.

Memang pada setiap masyarakat, lingkungan, dan jaman selalu terdapat segelintir orang yang kurang mencapai tingkat normalitas dalam mengontrol dorongan batin yang bersifat dadakan. Kelompok psikopat agresif bisa melakukan teror sekadar untuk teror, terror qua terror.  Tidak ada maksud lain, kecuali menciptakan sensasi dengan kekejaman.

Tidak sedikit pula kaum anarkis, nihilistis, dan revolusioner melakukan teror untuk mengubah tatanan dunia yang dinilainya penuh ketimpangan dan ketidakadilan. Penganjur utamanya adalah tokoh Rusia dari abad 19, Mikhail Bakunin, yang terkenal dengan ucapannya, “ semangat menghancurkan sama dengan semangat membangun.”  Mereka ingin menghancurkan tatanan dunia yang ada dan hendak diganti dengan tatanan baru, meski gambaran dunia baru tidak jelas.

Perilaku kaum teroris umumnya membingungkan. Di satu sisi sangat kejam dan berani, tetapi di sisi lain mengekspresikan sikap pengecut. Kaum teroris selalu beraksi sembunyi-sembunyi, tidak berani menantang secara terbuka. Sungguh absurd !

Sumber  :  Teror Puncak Kekerasan, Rikard Bagun – Kompas, 18.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: