Posted by: hagemman | July 21, 2009

MENGUAK SANG PELAKU

bom 02Noor Huda Ismail, Direktur Lembaga Internasional untuk Perdamaian (17/7) mengatakan bahwa SBY terlalu dini menyimpulkan aksi bom Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Jakarta terkait Pilpres 2009. Dan bukan kebetulan jika tulisannya bersama koleganya, Carl Ungerer, Direktur National Security Project dari Australian Strategic Policy Institure, yang dimuat The Australian edisi 17.07.2009 ; mengingatkan kita semua bahwa anggota KJI (Kelompok Jemaah Islamiyah) masih merancang aksi teror.

Keduanya meyakini, KJI sekarang tidak seperti dulu. Para pemimpinnya dipenjara atau diawasi. Meskipun ada beberapa upaya, anggota garis keras dalam JI, semisal Noordin M. Top, tapi tidak bisa mengulangi teror berskala besar seperti antara 2002 dan 2005.  Dengan demikian sebagian besar analis percaya bahwa ancaman JI berkurang dan aksi pemboman skala besar yang mahal tampaknya sulit dilakukan.

Tapi Noor Huda dan Ungerer mengingatkan, ada dua perkembangan termutakhir yang bisa mengubah penilaian sebagian besar analis itu. Pertama, memang kepemimpinan JI sedang kacau, terbelah menjadi beberapa faksi, dan tidak memiliki rencana yang jelas. Sementara, pembebasan beberapa narapidana anggota JI sekitar 100 orang, termasuk beberapa yang menolak rehabilitasi, mungkin sedang mengisi kembali semangatnya untuk melakukan teror. Beberapa diantara mereka adalah Abu Tholut, bekas komandan wilayah dan pelatih militer di Kamp Hudaibiyah, Mindanao, Filipina Selatan dan Sunarto bin Kartodiharjo alias Adung, bekas pemimpin JI yang menolak upaya untuk mengubah haluannya. Mereka yang berhaluan keras inilah yang sekarang didukung penuh oleh kelompok-kelompok baru yang lebih muda.

Kedua, para aktifis baru ini tidak lagi merasa perlu untuk menunggu fatwa ulama berpengaruh, melainkan mencari pembenaran atas tindakannya melalui internet. Namun dalam perekrutan, mereka masih menggunakan metode tradisional seperti di sekolah-sekolah, jaringan kekeluargaan, pertemanan dan kelompok kecil diskusi. Kelompok kecil diskusi ini terdiri dari enam sampai 10 orang, bertemu teratur untuk kegiatan sosial dan keagamaan. Kelompok baru ini memanfaatkan TI seperti DVD, e-mail, laman, SMS dan forum yang terlindungi sandi. Sehingga menyulitkan aparat untuk mencegah potensi kekerasan dari aksi mereka.

Bagaimana mengatasi perkembangan baru ini ? Noor Huda dan Ungerer punya resep. Yaitu keduanya mengusulkan, selain tetap harus mengidentifikasi dan menetralkan kelompok-kelompok tersebut, pemerintah juga mesti mengatasi masalah pengangguran, kemiskinan, dan korupsi yang ternyata berperan besar menjalarkan ideologi kekerasan. Sebuah konperensi di Singapura merekomendasikan agar pemerintah bekerja sama dengan Ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nadhlatul Ulama (NU) untuk melawan ideologi radikal. Kendati bisa saja hasilnya kecil, sebab kelompok sempalan ini tidak sudi mendengarkan Ormas Islam besar. Di sisi lain Ormas Islam besar juga tidak memahami sepenuhnya watak dasar dan dinamika kelompok sempalan ini.  Jadi cara yang terbaik menurut Noor Huda dan Ungerer adalah memberdayakan mantan pemimpin militan, semisal para veteran Perang Afghanistan dan Filipina, yang masih dipercaya oleh kelompok-kelompok baru ini.

Apa yang diungkapkan Noor Huda dan Ungerer diatas, tampaknya juga sejalan dengan pendapat Step Vaesen, koresponden Al Jazeera ; yang memiliki kontak dengan KJI, menyatakan bahwa KJI sama sekali tidak terlibat dalam serangan di Jakarta.

Sementara pada sisi lainnya, seperti pengamat isu terorisme Rohan Gunaratna dari S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura dan Richard Clarke, mantan Kepala Kontraterorisme Gedung Putih yang sekarang menjadi konsultan ABC News, berpendapat bahwa tetap peledakan yang terjadi mengindikasikan keterlibatan Noordin M. Top alias para pemain lama. Untuk hal ini disetujui oleh Clive Williams dari Pusat Studi dan Pertahanan di Canberra, Australia.

Terlepas dari semuanya, Senior Advisor untuk Program Asia International Crisis Group Sydney Jones, belum bisa memastikan pelaku pemboman. Hanya, jika analisis tentang bom bunuh diri berdasarkan fakta ditemukannya kepala yang terpisah dari tubuhnya itu benar, bisa jadi pelakunya mengarah pada kelompok lama. Hanya apakah pengeboman itu terkait pilpres atau kedatangan MU (Manchester United), Sydney lebih meyakini, jika mengacu pada pola yang lalu, pengeboman sudah direncanakan dua – tiga bulan sebelumnya. Hanya ia tidak tahu kenapa peristiwa terjadinya saat ini. Tapi satu hal tentunya yang menentukan saat dan waktu pengeboman adalah kesiapan dari para pelaku sendiri.

Sumber  :  Kompas dan Surya, 18.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: