Posted by: hagemman | July 16, 2009

WASPADAI BAHAYA KEBAKARAN

kebakaranKian maraknya peristiwa kebakaran belakangan ini mesti diwaspadai oleh masyarakat. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta Paimin Napitupulu menyatakan, dari awal Januari sampai tanggal 13 Juli 2009 jumlah kasus kebakaran mencapai 367 kasus dengan jumlah korban jiwa 27 orang. Ledakan tabung gas, kompor minyak, dan hubungan pendek arus listrik merupakan penyebab utama dari kasus kebakaran yang terjadi. Terakhir misalnya kasus kebakaran yang memiriskan dan mendukakan kita semua, di Rumah Makan Soto Lamongan, Jakarta Barat (13/7) yang ditengarai ledakan tabung gas yang menyebabkan 7 orang tewas dan 2 luka-luka.

Terkait hal ini pihak Pertamina telah memberikan jaminan bahwa kualitas tabung elpiji dalam semua ukuran telah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Terkait hal ini, Vice Presiden Komunikasi PT Pertaminan Basuki Trikora Putra (13/7), menyatakan, sebelum keluar dari stasiun pengisian bahan bakar elpiji ; semua tabung tanpa terkecuali menjalani pengecekan untuk memastikan tidak ada kebocoran.

Berdasarkan pemantauan, masih menurut Basuki bahwa yang kerap terjadi adalah kesalahan penggunaan oleh konsumen. Jadi bukan ditimbulkan oleh tabung gas-nya. Kesalahan itu antara lain pemasangan regulator yang tidak pas, membiarkan kompor dalam posisi gas sudah keluar, dan abai terhadap bau elpiji sebagai indikasi adanya kebocoran. “Kalau indikasinya ada kebocoran, tolong diselidiki dulu bagaimana penggunaannya oleh konsumen. Kalau disebut tabung meledak, itu tidak mungkin, “ papar Basuki.

Bagi kita jika dikatakan tabung gas tidak mungkin meledak tentunya tidaklah seutuhnya demikian, sebab tabung yang rusak dan lolos dari pengecekan mungkin saja terjadi kendati dengan probabilitas yang kecil sekali. Tapi kita harus sungguh memahami apa yang disampaikan pihak Pertamina di atas bahwa kerapnya tata cara penggunaan yang salah, hendaknya tidak mengkambing-hitamkan sang tabung.

Oleh sebab itu kita harus lebih berhati-hati lagi jika mempergunakan gas elpiji dari tahap pemasangan, selama penggunaan, dan sampai pelepasan/penghentian pemakaian ketika isi elpiji telah habis untuk diganti dengan tabung gas yang baru. Disamping ada faktor regulator, selang dan sekeliling yang lebih potensial menimbulkan bahaya kebakaran. Misalnya ada pengabaian karena oleh sesuatu sebab ada bagian regulator yang retak/pecah, selang yang entah bagaimana digigit tikus, tabung diletakan berdekatan banget dengan sumber panas lain, minimnya sirkulasi udara ruangan dapur dan sebagainya. Atau entah karena sedang pilek berat bin cuek ; lantas kita tidak peduli dan hirau dengan bau gas yang mengindikasikan telah terjadi kebocoran. Atau bahkan dengan rokok di bibir tanpa sadar Anda membuka regulator dari tabung gas. Mari, kita lebih lagi meningkatkan kehati-hatian, dengan mengecek rutin perangkat masak kita yaitu tabung gas, peralatan pendukungnya dan kompor.

Sumber  :  Kompas, 14.07.2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: