Posted by: hagemman | July 16, 2009

REFORMASI DIGITAL

media digitalTulisan Taufik M. Mihardja dengan judul Reformasi Digital, Tak Ada yang Bisa Mengelak Lagi, Kompas (14/7) dari ajang Newsroom Summit Asia 7 – 9 Juli 2009 di Kuala Lumpur, Malaysia ; menarik untuk kita simak bersama. Berikut adalah kutipan tulisannya bagi Anda semua.

Ajang di Kuala Lumpur yang menghadirkan para pemimpin redaksi, CEO media massa, dan para pengembang teknologi media massa itu memberikan gambaran yang makin jelas bahwa kita berada pada jaman “pergolakan emosi dan nalar.”

Di satu sisi, kita tidak bisa menerima surutnya tradisi membaca melalui media kertas yang telah berjalan sejak ditemukannya mesin tik. Di sisi yang lain, kita juga tidak ingin menolak mentah-mentah hadirnya tradisi baru membaca melalui media digital yang serba cepat dan praktis itu. Maka, pilihan yang realistis adalah kita mengikuti jaman.

Kita sekarang praktis sudah memasuki keadaan dimana audiens bisa sekaligus berperan sebagai broadcaster, publisher, dan researcher. Kita berada di jaman everybody can be in the news melalui media koran yang sangat lokal, situs berita yang hiperlokal, dan melalui media blogging. Intinya, kita berada pada saat seorang consumer bisa menjadi produser.

Apa yang salah dengan semua itu ? Tidak ada yang salah karena kehadiran internet telah mendorong terciptanya situasi tadi, suka atau tidak suka. Ditambah dengan sebaran pemakaian telepon seluler, termasuk telpon pintar, yang begitu dahsyat dan bahkan kini telag menjelma menjadi salah satu kebutuhan dasar kita, maka penyebaran informasi atau berita tidak lagi harus selalu bergerak secara vertikal, tetapi juga horizontal, dari pembaca ke pembaca.

Karena itu, seorang penulis atau reporter tdak bisa lagi berpikiran bahwa dia lebih tahu daripafa pembacanya. Sebab, pembaca hari ini bisa mendapatkan informasi begitu cepat melalui radio, televisi, dan melalui apa yang sekarang dikenal dengan istilah sosial media.

Facebook merupakan salah satu bentuk sosial media yang begitu populer sehingga ia menempati posisi nomor satu menurut pemeringkat Alex.com sebagai situs populer yang diakses di Indonesia, mengalahkan Google, Yahoo!, dan YouTube.

Dr Stephen Quinn, Associate Professor of Journalism, Deakin University, Australia dalam diskusi di Kuala Lumpur itu bertanya, “Apakah di antara Anda ada yang sudah memiliki akun Facebook ? Twitter ? Twitterdeck ? Qik ? Bambuster ? “ Ia menyebut serangkaian nama media sosial lainnya yang jumlahnya sampai belasan. Tentu saja tidak semua orang mengenal semua media sosial yang disebut Stephen Quinn, kecuali Facebook dan Twitter. Sebagian ada juga yang punya akun Twitterdeck.

Artinya, betapa banyak media yang bisa dipakai oleh siapa saja untuk melaporkan apa saja, kapan saja, dan dari mana saja. Keterbatasan ruang dan waktu dibongkar habis. Selain informasi itu datang dari berbagai platform, penyajiannya juga sudah multimedia, tidak lagi hanya terbatas teks, foto, atau video secara sendiri-sendiri, tetapi sering merupakan gabungan dari ketiganya. Selain itu, interaktif pula. Inilah yang disebut dengan informasi bergerak secara horizontal.

Aksi demonstrasi besar-besaran menentang hasil pemilu di Iran, misalnya, tetap saja bisa menjadi laporan utama koran-koran, majalah, dan jaringan televisi internasional meskipun wartawan asing diusir dari Teheran. Itu terjadi karena warga Iran melaporkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka lakukan, melalui Twitter yang kini makin hari makin terkenal, menyaingi Facebook.

Media massa arus utama, yakni koran, majalah, dan televisi tampaknya tidak bisa lagi metemehkan kehadiran apa yang kini dikenal dengan sebutan media baru itu. Secara emosional, kita bisa menyebut media baru adalah kompetitornya media arus utama. Namun secara logika, media baru itu justru merupakan mitra media arus utama.

“Kekuatan media sosial ini memang kurang disadari oleh media arus utama,”  kata Thomas Crampton, Direktur 360 Digital Influence Asia Pasifik, Ogilvy, Hongkong. Namun, menurut mantan wartawan The International Heral Tribune dan The New York Times itu, media massa belum terlambat untuk memanfaatkan kekuatan media sosial itu.

Seroang peserta pertemuan bertanya kepada Pemimpin Redaksi The Bangkok Post ; mengapa seorang wartawan boleh menjelaskan apa isi berita utama koran besok dalam acara di radio yang mengulas isi koran itu pada malam hari sebelum koran terbit.

“Mereka sudah mengetahui berita itu meski Anda tidak menjelaskannya. Mereka sudah tahu dari televisi, dari internet, dari mana-mana. Apa yang kami lakukan itu merupakan upaya kita untuk membangun trust. Ini penting untuk membangun brand,” kata Pichai Chuensuksawadi dari The Bangkok Post.

Pemimpin Redaksi The Strait Times, Singapura, Patrick Daniel, secaraterusterang mengatakan, ia tidak begitu peduli dulu dengan penerapan konvergensi dan integrasi di kelompok penerbitannya. “Yang penting kita manfaatkan dulu semua platform yang ada. Berbagai produk harus keluar dulu. Sebab, bagaimanapun kita tidak bisa sembunyi dari reformasi digital ini,” katanya.

Berbagai cara orang untuk mendapatkan informasi terus dikembangkan. Kemasan juga semakin menarik, semakin multimedia. Maka semacam ada kesimpulan yang disepakati para peserta pertemuan dua hari itu bahwa kita harus “ lead the change, bukan let the change leads us.”

Siapa pun hari ini memang tidak bisa lagi mengelak dari arus reformasi digital. Siapa lebih cepat dan lebih siap memanfaatkannya, dialah yang akan meraih kesempatan.

Sumber  : Kompas, 14.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: