Posted by: hagemman | July 12, 2009

JK MEMANG NEGARAWAN

jusufkallaSikap besar hati JK pada hakekatnya menunjukan juga sikap kenegarawanannya nan tinggi. Ia menelpon SBY (9/7) untuk mengucapkan selamat atas perolehan suara sementara versi quick count baik sebagai wapres dan pribadi, serta menegaskan komitmen untuk bersama-sama SBY mengemban amanah rakyat hingga tanggal 20.10.2009 mendatang.

JK memang luar biasa. Ia amat trengginas, bicara apa adanya, besar hati dan tercatat juga sebagai wapres kedua dalam sejarah republik yang bisa bilang : tidak secara tegas ; setelah Bung Hatta. Itulah mengapa banyak pihak terkejut campur takjub jika mengacu pada hasil sementara quick count, betapa mesin politik Partai Golkar sekali ini sungguhan rontok dalam upaya mengusung pasangan JK-Win ke istana dan bahkan dalam pemilihan legislatif sebelumnya.

Terkait hal ini Sultan Hamengku Buwono X dalam kapasitasnya sebagai Anggota Dewan Penasihat Partai Golkar mengingatkan agar jajaran Partai Golkar tidak mencari kambing hitam atas kekalahan pasangan JK-Win. Partai Golkar harus tetap kompak dan jangan terjadi saling sikut dalam internal partai.  Bahkan Sultan menyatakan ketidak-setujuannya atas isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar untuk mengganti JK.

Lebih lanjut Sultan mengharapkan agar Partai Golkar yang selama ini memiliki kemampuan sebagai partai pemerintah dan ikut berkuasa, untuk mau belajar menjadi partai oposisi di Parlemen. Pilihan menjadi oposisi tetap akan terhormat dan turut membawa manfaat besar bagi proses demokratisasi dan untuk kepentingan rakyat. Sehingga dengan demikian akan tetap ada iklim checks and balances terhadap pemerintah pasca 20.10.2009.

Dalam hal ini Fahmi Idris juga mengungkapkan bahwa sulit bagi Partai Golkar untuk menjadi partai oposisi karena sejarah dan karakter partai ini yang sudah 30 tahun lebih. “Dulu saya pernah mencoba mengusulkan Partai Golkar menjadi oposisi, tetapi tidak bisa,” ujar Fahmi.  Tapi di lain pihak, Agung Laksono menyebutkan prihal kelanjutan keberadaan Partai Golkar dalam koalisi besar termasuk salah satu materi evaluasi pasca Pemilu 2009 yang akan dilaksanakan segera, disamping pengakuannya bahwa mesin politik Partai Golkar tidak berjalan sebagaimana mestinya baik di pusat maupun di daerah.

Ada pendapat menarik dari Sukardi Rinakit, Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate, menilai kekalahan JK-Win akibat ide dan program-program yang disampaikan pasangan ini tidak sampai pada lapisan masyarakat kecil yang berpendidikan di bawah SMP. Padahal menurutnya, jumlah pemilih kelompok ini mencapai 80 persen dari total pemilih. Kemudian dari aspek kultural, papar Sukardi, sebagian besar pemilih yang beretnis Jawa dan Sunda juga masih melihat penampilan fisik pemimpin sebagai laki-laki gagah dan berwibawa. Hal ini kian diperparah dengan mesin politik Partai Golkar yang tidak solid dan terpecah-pecah.

Apa pun yang telah terjadi bagi kita, tetap sosok JK adalah sungguh telah mewarnai kiprah dan pentas politik republik ini. JK yang spontan mencopot sepatu Made in Cibaduyut, JK yang spontan saat kampanye membantu seorang ibu yang terlibat utang, JK yang spontan menegur keras mahasiswa yang protes saat bencana tsunami Cireundeu dan seterusnya. JK juga yang membukakan mata hati kita pada kenyataan dengan slogan lebih cepat, lebih baik. JK memang seorang negarawan. Negara dan bangsa ini sesungguhnya tidak akan pernah kehilangan seorang JK. Ia akan senantiasa ada dan hadir terlepas peran amanah rakyat yang akan diembannya kelak.

Sumber  :  Kompas, 10.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: