Posted by: hagemman | July 7, 2009

SEPANJANG DINDING

tembok-berlinSiapakah yang akan menyimak dan merenungi ?  Setidaknya itu yang melintas dalam benak saat langkah kita sejenak terhenti lalu tertegun oleh ungkapan ekpresi yang diledakan pada keluasan limitasi dinding yang tersedia. Lalu kerap kita ada dalam kesadaran betapa suatu pesan sedemikian sayup saking jauhnya buat dimengerti, jika tidak mampu untuk disepakati dan untuk dilakukan.

Jadi bukan soal siapa pribadi yang mencoret dan siapa pribadi yang sempat membaca dan merenung ; tapi setidaknya apa yang tersirat dan tersurat tetap terasa fenomenal – tentang pesan yang bisa jadi tidaklah lengkap-lengkap amat semisal sketsa wajah Bob Marley yang kita anggap sosok representasi perjuangan kebebasan ; tapi konon yang membuat cuma iseng semata koq karena cinta irama reggae banget.

Dengan demikian bukankah cukup menyenangkan buat sekedar menyimak dan merenungi (sekaligus mengagumi) coretan-coretan yang kita jumpai, tanpa harus terlalu repot masuk berteori tentang urban culture, pop culture atau sejenisnya. Tapi tanpa juga bermaksud meremehkan mereka yang telah susah payah berkarya. Sebab hidup keseharian yang pikuk ini telah nyaris memamah habis kedirian kita buat sekedar membagi empati untuk hal apa pun.

Maka jika setiap saat saya lewat stadion dekat rumah saya tinggal ; saya senantiasa mencoba takzim menikmati ragam coretan pada dinding (yang saya pikir) terpanjang di Malang. Jujur saya amat paham mengapa sebagian besar bergambar singa jantan dengan pelbagai lagaknya, tapi hal ini tidak untuk para bule teman saya yang baru tiba pertama kali di kota ini ; satu kali salah satu dari mereka bilang : saya baru tahu, disini singa yang notabene bukan hewan endemik demikian dicintai.

Saya berpikir bahwa coretan pada dinding ini berhasil. Berhasil mengundang komentar walau salah. Bukankah komentar adalah tanggapan, bukankah tanggapan adalah ungkapan apresiasi betapa pun melenceng jauh dari tujuan. Artinya betapa luas ruang terentang antara ekspresi dan apresiasi ketika didalamnya diisi oleh kebebasan buat berpendapat. Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar. Hanya sayangnya ketika ekspresi harus diberangus sebab dipandang sudah / akan mengganggu keamanan dan ketertiban oleh rezim penguasa ; ketika dinding-dinding ruang publik diputihkan kembali.

Siapa pun adanya tentu akan merasa ada sesuatu yang tanggal, lepas dan kemudian hilang. Sepi. Sunyi. Senyap. Pada saat itulah, saya yakin, yang tersisa adalah hati kita sendiri ; ekspresi yang tak akan pernah terampas oleh kekuatan apa pun juga. Barangkali itulah prihal yang membuat para penari Kabuki melabur wajah sedemikian putih lalu bersenandung dengan nada menyayat untuk sehelai daun di luar sana yang luruh dalam rengkuh temaram senja. Sebab daun kendati sehelai sejatinya adalah nafas kehidupan.

Catatan : Tulisan di atas teruntuk Bpk. Bogat. A. Riyono ; pribadi yang senantiasa inspiratif untuk diri saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: