Posted by: hagemman | July 4, 2009

70% PEROKOK MENENGAH BAWAH

rokokKini Indonesia dalam hal konsumsi rokok menduduki peringkat ketiga di dunia setelah Cina dan India. Sebelumnya peringkat negara kita kelima. Tidaklah mengherankan jika lebih dari 60 juta orang membelanjakan uangnya untuk membeli rokok. Mereka yang berasal dari golongan ekonomi ke bawah ini rata-rata menghabiskan 11 batang rokok per hari.

“ Ada lingkaran setan antara merokok, kemiskinan, malanutrisi, dan kebodohan. Anak-anak juga menjadi korban. Rokok itu pintu gerbang kehancuran bangsa,” kata mantan Menteri Kesehatan Prof. Farid Anfasa Moeloek saat peluncuran buku berjudul Tembakau : Ancaman Global di Jakarta (30/6). Buku ini adalah terjemahan dari karya John Crofton dan David Simpson yang disunting oleh Muherman Hasan, dokter ahli paru-paru. Perlu kita ketahui John Crofton adalah tutor Muherman Hasan selama 20 tahun untuk upaya pemberantasan Tuberkulosis (TB).

Secara nasional belanja bulanan untuk rokok pada keluarga perokok menempati urutan terbesar kedua (9 persen) setelah beras (12 persen). Dan yang lebih memprihatinkan dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006, kelompok keluarga miskin terbukti memiliki proporsi belanja rokok yang lebih besar (12 persen) daripada kelompok terkaya yang hanya 7 persen.

Untuk hal ini mari kita simak paparan Tulus Abadi, anggota Pengurus Haria Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), “ Belanja bulanan rokok pada keluarga miskin tahun 2006 setara dengan 15 kali biaya pendidikan dan sembilan kali biaya kesehatan. Jumlah tersebut setara dengan 17 kali pengeluaran untuk daging, dua kali lipat untuk membeli ikan, serta lima kali lipat untuk beli susu dan telur.”

Survei tahun 1999 – 2003 pada lebih dari 175.000 keluarga miskin di perkotaan menunjukan, tiga dari empat kepala keluarga (78,8 persen) adalah perokok aktif. Belanja mingguan membeli rokok menempati peringkat tertinggi (22 persen), jauh lebih besar daripada pengeluaran makanan pokok beras (19 persen). Sementara itu, pengeluatan untuk telur janua 3 persen dan ikan hanya 4 persen.

Dengan demikian perilaku merokok pada kepala rumah tangga amat berhubungan erat dengan gizi buruk, yaitu prevalensi anak sangat kurus, berat badan rendah, dan anak sangat pendek. “Studi sejenis pada tahun 2000 – 2003 pada lebih dari 360.000 rumah tangga miskin di perkotaan dan pedesaan membuktikan pula bahwa kematian bayi dan anak balita lebih tinggi pada keluarga yang merokok daripada uang tak merokok,”  ujar Tulus.

Sumber  :  Kompas, 01.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: