Posted by: hagemman | July 2, 2009

KITA JELANG 8 JULI (III)

jelang 8 juliPemilihan presiden tidak berakhir setelah salah satu jemari kita dicelup oleh tinta, bukti sudah memilih. Tetapi justeru sebuah tahapan baru dimulai, ketika kita dengan takzim mengetahui siapa yang terpilih dan kemudian berupaya untuk mengerti serta paham ketika yang tampil adalah bukan pilihan kita.

Maka ketika ephoria sesaat usai. Hidup pun kembali berjalan seperti biasa. Tentu jika kita berandai-andai pemilihan presiden berlangsung satu putaran. Kita tetap masih akan menghadapi masalah yang sama. Baik itu kemacetan, pungli, korupsi, mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan dan sebagainya. Soalnya siapa pun yang terpilih dijamin kagak bakalan sehari semalam semua masalah tersebut akan sirna dari bumi nusantara.

Sebab hal apa pun di dalam dunia ini seluruhnya bergantung pada waktu. Bahkan sebuah benda dalam keadaan diam sekali pun butuh waktu buat meluruhkan dirinya. Waktu menjadi isu penting.  Yakni waktu untuk pemimpin nasional terpilih bekerja. Waktu untuk kita menanti penuh harap.  Karena bisa saja terjadi sang pemimpin nasional terpilih tidak bekerja dan kita pun tidak menanti penuh harap, sebab semua kena amnesia.

Hal itulah yang bakal disebut gagal negara. Ketika negara tidak dapat memenuhi dan mengayomi rakyatnya. Dan sebaliknya rakyat ada di dalam situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Artinya negara menjadi asal ada. Sementara rakyat juga demikian. Akibatnya mudah ditebak.  Hancurnya Kerajaan Mesir Kuna, Aztec, Babilonia, Romawi,  dan seterusnya. Dalam khasanah kita termasuk pula Mataram Hindu, bukan soal bencana alam ; tapi rakyat sudah ogah disuruh bikin hal-hal monumental misalnya candi, dan ramai-ramai hijrah ke timur Jawa.

Oleh sebab itu kita harus memiliki kepahaman membumi bahwa pemimpin nasional memerlukan waktu untuk melaksanakan dan mewujudkan janji-janji politik, termasuk kontrak politik jika ada. Kita sebagai rakyat dengan demikian akan mampu untuk rela dan ikhlas menunggu tanpa kehilangan sabar dan asa. Yakinilah mengurus 230 juta rakyat, membayar hutang luar negeri sebesar Rp 1.700 triliun, menjaga kedaulatan lebih dari 17.000 pulau dalam wilayah laut seluas 3,1 juta kilometer persegi ; bukanlah hal mudah. Wong, saya 10 tahun lalu mengurus 547 karyawan aja binun setengah mati.

Dan yang tak kalah penting, tetaplah kita berdoa untuk memohon pada Sang Khalik agar siapa pun yang terpilih dan ditunjuk sebagai pemimpin negara dan bangsa ini ; senantiasa berada dalam keadaan eling bahwa ia bisa berkantor di Istana Negara oleh karena kepercayaan. Semua orang tahu bahwa kepercayaan itu luar biasa mahal nilainya. Terlebih jika kepercayaan itu berasal dari rakyat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: