Posted by: hagemman | June 28, 2009

JACKO’S PEAK

michael-jacksonSecara harafiah di atas sana kita akan sendirian dan merasa sunyi. Kesendirian yang membuat kita menjadi sasaran telak pemuasan keingin-tahuan siapa saja tentang apa yang kita makan dan minum sampai ruang yang paling pribadi. Maka kesunyian akan menjadi produk akhir sebuah penghindaran masif, saat kita bersembunyi dalam sebuah istana lengkap dengan pelbagai kemudahan, suatu bangunan dari hasil tuntutan ilusi massal.

Itulah mengapa hari demi hari, saat demi saat ; tidak lagi dapat dirayakan dengan penuh ucapan rasa syukur. Terkecuali pada satu titik ketika kita sesekali tampil dalam gempita seremonial. Tapi toh tetap katup pelepasan ini tidaklah memiliki banyak arti. Sebab sekali lagi hidup yang kita miliki kadung hidup yang sungguh sendirian dan sungguh sunyi.

Maka akibatnya lambat laun kita merasa perlu untuk menjelmakan diri jadi satu pribadi lain, pribadi yang berbeda. Cermin tidak lagi wajib harus menampilkan diri kita. Ia harus menampilkan sesuatu yang lain, yang kita mimpikan. Sebuah tuntutan yang sejatinya mustahil untuk dipenuhi. Tapi toh kita tidak peduli, sebab bukankah semuanya telah kita miliki dan kita mampu mewujudkan keinginan semuskil apa pun yang mampir dalam hati ?

Kemudian tibalah pada satu saat, kereta yang kita naiki tiba pada stasiun akhir. Kita harus bergegas turun. Semuanya harus berakhir. Tirai perlahan diturunkan. Lampu-lampu diredupkan. Kita tidak lagi sempat mendengar tepuk tangan, jeritan histeris atau bahkan tangisan. Dari sunyi kembali pada sunyi. Hanya sekali ini terasa amat jauh berbeda, kesendirian dan kesunyian lebih memiliki bobot serta makna di luar yang kita duga selama ini.

Dan dia, Michael Jackson, telah pergi selamanya – ia telah meninggalkan sesuatu yang amat bernilai untuk kita renungkan dengan bijak. Yang bukan sekadar keceriaan musikal di atas gemerlap pentas. Melainkan sebuah pembelajaran yang membuat kita merasa sedikit lebih baik serta nyaman, khususnya bagi diri kita yang bukan apa-apa.

Selamat jalan, Jacko, we love you.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: