Posted by: hagemman | June 27, 2009

MENJELANG PESTA

menjelang pestaKita pasti takjub setakjub-takjubnya bagaimana sebuah pengulangan senantiasa terjadi. Ketika kita tahu bahwa pemilu akan berlangsung, kita sontak punya harapan. Harapan akan hidup yang lebih baik dan berkualitas. Hidup yang meningkat menuju tahap yang lebih baik. Jadi harapan kita adalah sungguh amat sangat wajar dan manusiawi. Sungguh koq tidak berlebihan adanya.

Maka kita pun membiarkan diri kita disihir oleh janji demi janji, soal sekolah dan pelayanan kesehatan gratis, kemudahan kredit usaha kecil dan menengah, dan seterusnya. Pendeknya angin surga berhembus dan kita terlena saat kampanye dihelat. Bukan karena kita bodoh maka kita terlena, melainkan karena kita sudah suntuk banget ; karena toh tetap langgam yang sama tiap lima tahun dimainkan di atas panggung politik republik ini.

Kita adalah rakyat. Rakyat selalu memiliki hati yang terbuka. Terkadang memang naif tetapi lebih banyak tulusnya untuk mafhum serta mengerti bahwa mengurus 230 juta orang bukanlah hal yang mudah. Kerusakan sistemik selama 32 tahun memang tak mungkin diperbaiki bak kerja Bandung Bondowoso. Itulah mengapa rakyat amat sabar menanti saat dan waktu pemerintah republik ini beneran mengusung dan mewujudkan kesejahteraan sepenuhnya sesuai UUD 1945 Amandemen IV.

Mari kita simak pendapat seorang penarik becak di Jawa Barat yang ditayangkan sebuah TV swasta beberapa minggu lalu, “Saya mah kagak peduli dah yang jadi presiden siapa, tapi yang penting hidup kagak susah seperti sekarang …”  Harapannya adalah juga wajah rakyat kita yang cenderung bukan memilih figur karena merasa dibohongin terus ; melainkan rindu akan bukti kerja nyata yakni perwujudan janji. Tapi memang sayangnya toh tetap yang terjadi adalah ibarat membeli kucing dalam karung.

Tapi janganlah risau kalau ternyata pilihan kita terbukti salah, kita sebagai rakyat masih ada yang dapat dilakukan yaitu berdoa pada Sang Khalik ; jika pemimpin dan seluruh jajaran aparat pemerintah yang terpilih kelak ingkar janji dan tidak bertobat, maka minimal kita doakan mereka agar memiliki rasa malu yang semalu-malunya manakala menyadari bahwa semua janji muluknya pada rakyat tidak ditepati.

Orang boleh saja omong menampik bahwa itukan kampanye, yang artinya janji bohong juga tidak masalah. Pertama, kita mau ingatkan bahwa suara rakyat adalah suara Sang Khalik, vox populi vox dei. Kedua, pemilu tetaplah pesta demokrasi dan sama sekali bukan ajang pesta pembodohan rakyat. Ketiga, rakyatlah yang membayar pesta demokrasi yang akan kita jelang. Jadi, kita berharap siapa pun pemimpin nasional yang terpilih agar menepati seluruh janji-janjinya tanpa dalih.  Itu saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: