Posted by: hagemman | June 27, 2009

MALU MENGAKUI …

malu mengakuiBanyak hal menarik yang mencerahkan dari pidato yang berjudul Agenda Kesejahteraan di Jalan Persimpangan dalam pengukuhan Bambang Shergi Laksmono sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP-UI) tanggal 24/6 lalu.

Bambang Shergi yang juga Dekan FISIP-UI menyampaikan bahwa membangun kesejahteraan lewat sistem jaminan sosial, bantuan sosial dan beragam pelayanan sosial secara esensial membangun kapasitas manusia untuk berkarya secara berkelanjutan. “Sayangnya, kita merasa cukup hanya dengan modal alam saja untuk perekonomian, bukan modal kualitas manusia. Pembangunan kesejahteraan dan manusia kemudian jadi beban,” ujarnya.

Untuk itu ia menegaskan perlunya pilihan ideologi bangsa. Tapi pada kenyataannya ideologi bangsa sedang dalam tarik-menarik antara kubu yang mengedepankan pasar dan yang berkeinginan mengembalikan peran negara sebagai penguasa kekayaan negara dan alam untuk didistribusikan kepada rakyat. Maka mengacu dalam kondisi saat ini, seharusnya mesti diakui kerangka dan mekanisme pasar serta kapitalisme-lah yang berlaku di masyarakat saat ini.

“Persoalannya kita malu mengakui sehingga tidak bersiap dengan sistem kesejahteraan sosial yang memadai,” kata Bambang Shergi. Dalam hal ini pemerintah juga masih diragukan perannya. Ia mencontohkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat).

Sejatinya program cash transfer sebagai mekanisme bantuan sosial yang effektif memang telah banyak dikenal. Tetapi, mengingat BLT dan PNPM digulirkan tepat pada saat menjelang pemilu legislatif April 2009 dan diberitakan bahwa program dibiayai dengan utang luar negeri, maka persoalannya menjadi lain. Akibatnya kebijakan mengonversi subsidi barang melalui BBM menjadi subsidi orang melalui BLT dapat dilihat sebagai trik ampuh untuk instrumen politik karena dinilai lebih populis.

Jadi apa yang dikemukakan Bambang Shergi Laksmono adalah tepat menggambarkan situasi dan kondisi saat ini, di satu sisi kita mencibir pada kapitalisme tapi tanpa disadari kita sesungguhnya menerapkan kapitalisme sebab kealpaan kita untuk mewujudkan sistem kesejahteraan sosial yang mampu menjawab perubahan serta tantangan globalisasi. Soalnya setiap rezim yang berkuasa hanya asyik terfokus pada pelanggengan kekuasaan dan bukan pada tindakan nyata untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas manusia Indonesia. Jadi yang ada cuma mimpi berbalut jargon doang …

Sumber  :  Kompas, 25.06.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: