Posted by: hagemman | June 25, 2009

POTENSI BIOTEKNOLOGI MARITIM KITA

66784_spons_thumb_300_225Potensi bioteknologi maritim Indonesia belum dikembangkan secara optimal. Padahal nilai ekonominya diperkirakan mencapai 40 milliar US Dollar ; bagaimana tidak demikian jika diantaranya dapat dimanfaatkan untuk obat anti kanker, makanan laut, pembuatan kertas, hingga bioetanol. Sehingga banyak peneliti asing yang melirik untuk mengembangkan potensi milik kita ini.

Hari Eko Irianto, Kepala Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Perikanan dan Kelautan Departemen Kelautan dan Perikanan di Bandung, menyatakan bahwa saat ini setidaknya telah diketahui ada 500 jenis bioteknologi yang tersebar di seluruh perairan Indonesia, baik itu sebagai bahan obat-obatan, makanan, atau kertas.

Sebagai contoh yaitu karang lunak Demonspongia yang tersebar di perairan Nias dan Sulawesi Selatan yang jika dimanfaatkan dapat dijadikan obat anti tumor. Yang jufa bisa didapatkan dati jenis karang lunak lain seperti Dendonephyta Sp dan Sarcophyton yang juga banyak ditemukan di perairan Karimun Jawa. Potensi maritim lainnya bisa ditemukan pada rumput laut yang selain untuk bahan makanan, juga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan teh, bahan kertas, hingga bioetanol. “Produk-produk dari potensi bioteknologi itu nantinya bisa dipatenkan dan dijual ke luar negeri,” papar Hari Eko Irianto.

Sayang disayang, manfaat bioteknologi yang dianugerahkan Sang Khalik ini bagi bangsa kita terhambat oleh minimnya dana serta peralatan maritim. Akibatnya banyak potensi bioteknologi belum dapat dikembangkan untuk menjadi produk siap pakai. Untuk hal ini dibenarkan oleh Ketua Konsorsium Bioteknologi Indonesia Bambang Prasetya.

Soalnya rata-rata besaran dana yang dimiliki peneliti kita tidak lebih dari Rp 120 juta per orang. Dana tersebut hanya dapat digunakan untuk melakukan 3 kali penelitian dalam jangka waktu 2 – 3 tahun per penelitian. Jadi memang amat terbatas dan jauh dari kata ideal guna memperoleh hasil manfaat yang signifikan. Masih menurut Bambang Prasetya, seharusnya dana bagi peneliti mencapai Rp 500 juta per orang. Dengan dana ini maka dapat digunakan untuk penelitian dari bahan mentah sampai pengembangan aplikasi di lapangan. Karena dengan dana terbatas tersebut di atas, banyak hasil penelitian tidak bisa diteruskan untuk menjadi barang siap pakai.

Hal lain lagi yang menghambat adalah saat ini pendapatan peneliti di Indonesia Rp 2 – Rp 4 juta per bulan. Tentu dengan besaran pendapatan seperti itu adalah amat tidak seimbang dengan beban kerja yang disandang oleh seorang peneliti. Bambang memaparkan dengan nada prihatin, “ Saat ini, 2.200 peneliti bioteknologi dari 43 institusi dan 88 universitas masih harus pusing memikirkan kesejahteraan keluarga. Kalau hal ini masih terjadi, banyak penelitian yang ada mungkin terabaikan.”  Kita semua tentu amat prihatin dengan kenyataan ini, di satu sisi betapa hebat dan kayanya potensi bioteknologi maritim kita. Tetapi di sisi lain, yang amat ironis, bahwa upaya-upaya penelitian hingga upaya mewujudkannya menjadi barang siap pakai masih belum didukung oleh keseriusan dan kemampuan pemerintah. Masakan kekayaan alam kita bakalan dirampok negeri jiran atau ikut tergadaikan pada negara-negara kapitalis ? Oallah cucu buyutku ……….

Sumber : Kompas | 17.06.2009

Advertisements

Responses

  1. hmmm,,,,,butuh usaha yang lebih dalam mengelolanya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: