Posted by: hagemman | May 18, 2009

RA NGERTI AKU

sultan-hb-xSri Sultan Hamengku Buwono X dengan elegan memohon maaf kepada pendukungnya karena gagal menjadi kandidat pada Pemilihan Presiden 2009. Sultan juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah menaruh harapan padanya untuk menjadi calon presiden.

“Saya mengucapkan terima kasih dan mohon maaf tidak bisa memenuhi harapan masyarakat,” katanya pada wartawan di Kepatihan, Yogyakarta, kemarin 16.05.2009. Tidak terlihat rona kesedihan pada wajah Raja Yogyakarta ini. Bahkan ia kelihatan lebih gemuk dan segar dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Menurutnya, peluang sudah tertutup bagi dirunya ketika Partai Golkar akhirnya mengusung Ketua Umum Holkar Jusuf Kalla sebagai calon presiden. Di sisi lain, namanya juga sempat disebut-sebut bakal diusung PDI Pejuangan. Tapi berakhir sama setelah PDI-P berkoalisi dengan Partai Gerindra dan mengusung pasangan Megawati – Prabowo.

Lebih lanjut Sultan mengatakan, ia tak akan mengadakan Pisowanan Agung untuk mengembalikan mandat rakyat. Melainkan ia akan membuat pemberitahuan dan pengumuman secara terbuka. Sebagai catatan pada saat maju sebagai calon presiden, Sultan mendeklarasikannya dalam Pisowanan Agung pada tanggal 28.10.2008.

Sinyalemen mengatakan kegagalan Sultan berkompetisi karena tidak memiliki “gizi” yang memadai. Tapi Sultan membantah. “Bagi saya, ini bukan masalah gizi. Mosok saya harus ngomong dagang, saya kan dasarnya moral, bukan bicara masalah dagang (politik),” kata Sultan di Kepatihan, “Ra ngerti aku (saya tidak mengerti).”

Tapi apa lacur memang tampaknya sinyalemen itu benar demikian, konon Sultan gagal ikut kompetisi sebab enggan menyerahkan “mahar” sekitar Rp 2 trilliun. Mahar itu untuk membiayai kampanye dan membayar iklan di televisi. Hal ini sejalan pula dengan paparan para analis politik mengapa Wiranto mau digandeng JK dan Megawati menggandeng Prabowo ; oleh sebab urusan “gizi”  yang kala itu disebut logistik. Karena logistik Partai Hanura dan PDI – Perjuangan telah tergerus habis, jadi perpalingan ke Partai Golkar dan Partai Gerindra merupakan suatu solusi.

Jadi jelas buat Sultan hal tersebut amatlah mencederai apa yang dia yakini dan pegang yaitu moral. Moral yang benar yang masih bercahaya di tengah kekelaman gonjang-ganjing soal pilpres. Padahal untuk siapa pun adanya, sosok Sultan HB X ini sungguh menjadi pilihan – salah satu dari empat tokoh reformasi yang masih dipandang memiliki komitmen buat rakyat. 

 

Sumber : Koran Tempo, 17.05.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: