Posted by: hagemman | May 18, 2009

NASIB PASAR CIAMPEA

100_4336Sebuah pasar tradisional kembali dibantai. Pasar Tradisional Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ; dibongkar paksa sehingga menimbulkan bentrokan antara aparat dan para pedagang pada tanggal 15.05.2009 lalu.

Pasar yang dianggap sudah tidak layak itu oleh Pemkab Bogor direlokasi ke Pasar Ciampea Indah (PCI) yang telah selesai pembangunannya, tetapi para pedagang ogah pindah karena mereka masih mengantungi hak berdagang sampai tahun 2015 di pasar lama ini. Disamping mahalnya harga kios di PCI yang berkisar antara Rp 30 – Rp 40 juta dan untuk lapak berukuran 1,2 X 1,2 meter berharga Rp 9,2 juta. Maka ketika pembicaraan mandek tidak ada solusi, seperti biasa pemerintah menempuh cara repsesif dengan membongkar paksa.

Tampaknya ada praktek yang sudah terformat untuk keperluan relokasi pasar tradisional selalu pemerintah berkolaborasi dengan pihak pemborong ; tanpa mengikut sertakan perwakilan pedagang untuk menentukan harga kios dan lapak dengan semangat musyawarah dan mufakat. Dengan cara mengetahui perimeter kemampuan finansial pedagang serta kemampuan pihak pemborong untuk membangun lokasi baru dengan tetap memungkinkan adanya keuntungan yang wajar. Akibatnya senantiasa kasus seperti di atas saking tidak transparannya maka berhembuslah aroma kolusi antara pemerintah dengan pemborong. Dan ujug-ujug pedagang tradisional sebagai pihak yang lemah disudutkan dan dipaksa untuk menerima serta mematuhi yang namanya aturan, demi tegaknya hukum.

Satu hal krusial lain yang tampaknya dinafikan pemerintah adalah pengingkaran bahwa para pedagang di pasar tradisional sesungguhnya kian melemah kemampuan finansialnya dari waktu ke waktu, yaitu disebabkan menurunnya kualitas infrastruktur, intrusi pasar modern, besaran retribusi serta pungutan lain, masuknya buah dan sayur impor dan hal-hal lainnya ; yang kalau mau ditelisik lebih lanjut dengan jujur justru semua menuju pada kebijakan pemerintah sendiri.

Serta yang ironis pemahaman tentang nilai-nilai modern yang ada dalam benak aparat pemerintah sebenarnya sungguh berbeda bak bumi dan langit ketimbang yang ada dalam benak konsumen. Bukan soal bangunan modern saat kios menggunakan rolling door, yang justeru konsumen menjadi sensitif karena harga akan terkerek naik buat bayar cicilan kios. Bukan jalan dalam pasar pakai keramik, yang justeru konsumen bisa terpeleset jatuh sebab mana ada pasar tradisional yang tidak becek. Bukan pula atap masif sehingga sinar matahari tidak dimanfaatkan, yang justeru pedagang akan dibebankan tagihan listrik yang lebih besar dari seharusnya.  Pemerintah wajib belajar dengan bertanya banyak pada para penggiat pasar tradisional baik itu LSM maupun para akademisi. Jadi jangan mudah-mudahnya mengirimkan backhoe, satpol dan polisi buat menggusur paksa dan menzalimi para pedagang kecil yang notabene pihak yang harus dilayani dengan hati.

Kasus diatas adalah kasus bagus buat JK yang berkata agar Pasar Tanah Abang dipertahankan demi tegaknya ekonomi kerakyatan dan tepat pada hari yang sama Pasar Ciampea dibantai.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: