Posted by: hagemman | May 16, 2009

BEDAH PENGUASA

100_4320Dalam sepanjang sejarah peradaban manusia para penguasa datang dan pergi silih berganti. Penguasa yang baik. Penguasa yang buruk. Dimana kriteria baik dan buruk ini cuma waktu yang mampu menilainya manakala penguasa bukan cuma secara individu melainkan juga melibatkan kelompok, yaitu mereka yang termasuk inner dan outer circle. Baik kaum keroco maupun kaum yang katanya oposan di gedung parlemen.

Sementara rakyat hanya bisa menerima dan berharap. Penerimaan yang setengah hati sebab kendati sistem demokrasi namanya sekalipun, tapi toh tetap ada banyak orang yang termarginalkan. Sehingga pengharapan rakyat pada akhirnya hanyalah sebuah mimpi indah, mimpi yang terlantun karena realitanya rakyat sudah sedemikian lelah bahkan buat sekedar tidur panjang dengan perut yang senantiasa lapar.

Parahnya waktu tidak pernah mampu untuk membuktikan sistem kekuasaan bagaimana yang terbaik untuk mendatangkan manfaat maksimal buat rakyat. Kalau toh mampu hanya berupa serangkaian implikasi yang bersifat post factum. Alias semua serba terlambat dan korban sudah kadung berjatuhan. Untuk hal ini ajaibnya selalu tersedia dengan jumlah dari sekadar cukup, yaitu sebuah kata singkat nan lazim dalam budaya kita : maaf.

Maka ketika kekuasaan berganti. Rakyat kembali hanya bisa berharap bahwa kekuasaan berikutnya akan lebih baik. Yang bermuara pada peningkatan kualitas hidup dalam konteks menyeluruh. Karena kerap berharap, kerap tidak kesampaian. Maka rakyat pun terjerat belitan amnesia. Pelupaan dan tanpa pembelajaran sama sekali, jadinya. Sebab siapa pun adanya dengan perut lapar akan sulit buat belajar, sulit buat menjadi sedikit lebih cerdas dari hari kemarin.

Dan itulah sasaran empuk buat kekuasaan. Untuk senantiasa berkibar yang celakanya mengklaim diri demi untuk rakyat. Rakyat yang entah siapa adanya. Maka ketika waktu pun berjalan, tidaklah terlalu ajaib jika kita tetap jumpai mereka yang hidupnya jauh lebih buruk dari sebelumnya. Mereka yang akhirnya akan dijelmakan menjadi deretan angka dan prosentase dalam tabel grafis statistik serta terminologi hitam-putih status keluarga miskin, setengah miskin, setengah sejahtera dan seterusnya. Maknanya kekuasaan tidak pernah berhasil, apa pun argumentasinya, buat mengentaskan serta memberdayakan rakyat.

Kondisi ini pada akhirnya menjurus pada komodikasi buat penguasa membuka telapak tangan. Ketika bantuan pinjaman semakin tidak populer. Maka tampaknya penguasa piawai menemukan cara mengemas, sebuah bentuk lain yang tidak sama tapi serupa, yaitu surat utang berjangka panjang untuk digadai. Ketidak-mampuan buat sementara disebar risikonya hingga jauh melompat ke masa depan. Yang penting bagi penguasa, kekuasaan bisa tetap ditegakkan. Peduli setan dengan generasi-generasi yang akan datang kelak. Mereka, anak cucu buyut kita, yang akan lahir bukan dengan sendok emas di mulut melainkan borgol pada lengan serta kakinya.

Maka kalau rakyat menjadi gelisah dan supaya rakyat tidak marah. Disuntiklah obat bernama BLT, Askeskin dan entah apa lagi bentuknya. Buat sejenak rakyat terlena. Dan itu adalah manusiawi sifatnya ; sebab berharap adalah pekerjaan yang amat melelahkan bagi siapa pun. Terlebih jika harapan itu tidak kunjung tiba sejak republik bukan mimpi ini lahir.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: