Posted by: hagemman | May 13, 2009

ANTARA PEPE DAN KAMISAN

aksi_hitamKita selalu memiliki sekat. Sekat yang kita isitilahkan ‘bukan urusan kita’ ; sekat yang menempatkan diri kita dalam dunia kita masing-masing. Jadi bila kita mendengar dan bahkan menyaksikan setiap hari Kamis ada sekelompok orang membisu berpakaian hitam-hitam baik di bawah terik mentari maupun rintik hujan depan istana negara, ada dua kemungkinan yang akan muncul dalam hati kita yaitu antipati dan empati. Antipati karena kita berpikir tidak terkait, pilihan empati bisa jadi kelak orang-orang yang kita cintai mengalami hal yang sama.

Hal itu memang kebebasan setiap individu untuk bebas berpendapat karena dijamin konstitusi. Tapi kalau kita mau sejenak menempatkan diri berada di dalam barisan itu, kita akan menyadari betapa sepi dan sakit ketika orang yang kita cintai direnggut paksa oleh mesin yang bernama kekuasaan.

Sebuah harian ibukota pernah memaparkan ruang kerja presiden republik ini. Di belakang meja kerja ada jendela lebar yang menyajikan pandangan luas ke halaman muka istana. Saya berpikir apakah presiden tidak cukup terganggu sekaligus tergugah untuk pemandangan memiriskan nurani ini ?

Secara historis kerajaan di Jawa memiliki dan mengenal kebiasaan dengan istilah Pepe, yaitu warga yang diperlakukan semena-mena akan duduk di alun-alun dengan arah menghadap sang raja saat duduk diatas singgasananya. Ia akan duduk diam disana tidak peduli panas maupun hujan, sampai kemudian sang raja berkenan memanggil dan bertanya apa permasalahan yang dihadapi warganya ini. Dan sang raja akan membereskan masalahnya.

Kita bisa bayangkan jaman baheula ratusan tahun lalu, kita sudah mengenal Pepe. Ironisnya saat ini pada abad milenium, ada pula hal serupa yang bernama Kamisan. Dan sang raja yaitu presiden masih bungkam tidak tergerak. Sebab sampai saat ini tidak ada satu catatan pun presiden berkenan untuk melakukan dialog.

Hari berganti hari dan pemerintahan pun berganti. Tetapi kita boleh yakini mereka akan tetap berdiri diam membisu di depan istana negara sampai keadilan terwujud. Mengapa mereka dapat bertahan ? Jawabannya sederhana jika kita mau menilik nurani kita masing-masing ; mereka kuat dan tegar karena apa yang mereka lakukan sesungguhnya bukan hanya buat orang-orang tercinta yang telah direnggut paksa dan pergi selamanya. Melainkan mereka tetap lakukan itu demi untuk generasi Indonesia mendatang agar peristiwa zalim serupa tidak terjadi lagi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: