Posted by: hagemman | May 12, 2009

PRIHAL GOLPUT

GOLPUTHasil pemilu legislatif menunjukan hampir 50 juta orang alias golput (golongan putih) tidak mempergunakan hak pilihnya. Jumlah ini hampir dua kali dari jumlah hasil perolehan suara Partai Demokrat dan berkali lipat ketimbang raihan suara parpol lainnya. Fenomena ini hendaknya dinilai serius sebagai ancaman bagi masa depan negara dan bangsa.

Arbi Sanit pengamat politik menyatakan bahwa timbulnya golput oleh sebab karena mereka tidak mempercayai lagi sistem politik yang ada. “Sistem menjadi tidak bisa dipercaya karena partai dan tokoh berkecamuk. Jadi komplit sudah kekecewaan masyarakat. Jumlahnya yang dahsyat ini tentunya akan berbahaya bagi eksistensi kehidupan bernegara. Di sisi lain golput juga akan menjadi pembelajaran serta pengalaman untuk masyarakat,” ujar Sanit.

Kaum golput tentunya memiliki alasan untuk tidak berpartisipasi di dalam pemilu karena melihat orang yang mesti dipilihnya tidak punya prospek dan terbukti jeblok pada masa lalu. Jadi ada kekecewaan nan kental terhadap tokoh, parpol dan sistem. Saat tokoh dan parpol tidak bisa dipercaya lagi maka sistem politik pun dengan sendirinya akan menjadi kacau balau. Karena perpolitikan di negara kita lebih menitik-beratkan pada sosok tokoh dan parpol belaka.

Alasan kekecewan terhadap tokoh, umumnya karena leadership sang tokoh dinilai tidak menyentuh mereka sehingga harapan mereka  pun dengan sendirinya tidak akan pernah terwujud. Karena yang bersangkutan sebagai pemimpin tidak bisa menyatukan semaksimal mungkin harapan masyarakat. Disamping gagal untuk bernegosiasi secara manajerial dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia bagi kepentingan masyarakat.

Jadi Fenomena golput sungguh memiriskan hati, tapi sisi lainnya bila ada tokoh politik yang peka dan cerdas semestinya mereka dapat menstimulir golput sehingga mereka mau berbalik arah dan memberikan dukungannya. Sebab kaum golput diindikasikan adalah kelompok menengah-muda berpendidikan yang tidak bisa sekedar disihir dengan jargon politik kampungan yang sudah jelas-jelas bagi semua orang kagak bakalan terwujud. Maknanya para tokoh yang mau merangkul mereka mutlak harus menyajikan sesuatu yang baru.

Dan golput inilah bagi sebagian besar pengamat politik yang akan berperan pada pemilu presiden 2014, saat alih generasi terjadi. Ketika pemimpin baru dan energik bagi Indonesia tercinta ini tampil. Dan dia bukanlah seorang satrio piningit terlebih seorang ratu adil.

 

Sumber  :  Mitra Dialog, 11.05.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: