Posted by: hagemman | May 9, 2009

MUSEUM BATIK PEKALONGAN

JOGJA 011Yang namanya museum dipastikan kita semua bisa membayangkan ruang yang dingin, suram, lembab dan koleksi barang yang dipamerkan berdebu, kumuh, data informasi yang tidak jelas dan jauh dari tujuan edukatif dan rekreatif. Malah jangan-jangan kita dibuat merinding seperti pengalaman saya saat berkunjung pada satu museum angkatan bersenjata di salah satu kota di Jawa Timur. Alih-alih wawasan saya dicerahkan malah disuramkan habis-habisan bak berkunjung ke rumah setan di pasar malam. Itulah tipikal klasik tentang museum yang kadung ada dalam benak kita semua. Muara dari permasalahan ini juga bisa kita pastikan yakni minimnya dana operasional.

Tapi jika Anda berkunjung ke Museum Batik Pekalongan yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 12.07.2006 ; Anda pasti akan menemukan hal yang amat berbeda dan mencerahkan. Karena museum ini dikelola dengan sistem konsorsium, sebuah paradigma baru dan yang pertama d negara kita. Dan bahkan memberikan kontribusi pemasukan yang relatif besar bagi pemerintah daerah dengan pengunjung yang mencapai ribuan tiap bulannya.

Bahkan Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Drajat bertekad, pihaknya akan menjadikan Museum Batik Pekalongan ini sebagai model pengelolaan museum yang patut dicontoh.

Museum yang dibangun dari bangunan indah peninggalan tahun 1906 ini, menurut Walikota Pekalongan Mohamad Basyir Ahmad, dikelola dengan melibatkan pihak swasta dan tenaga profesional. Museum tidak sekadar memajang batik yang jumlahnya sekitar 1.000 koleksi dari berbagai daerah di Tanah air yang diganti tiap tiga bulan sekali agar selalu ada yang baru bagi pengunjung ; melainkan juga menyelenggarakan kursus singkat membatik, paket pelatihan membatik dengan tarif bervariasi dan bersertifikat pula.

Prihal ini arkeolog dari Universitas Gajahmada Daud Aris Tanudirjo dan mantan Dirjen Kebudayaan Edi Sedyawati sepakat berharap perlunya museum ditata kembali dan dikelola dengan paradigma baru. Menurut Hari, di Indonesia ada 286 museum dan 101 museum diantaranya museum swasta. Sejak otonomi daerah, museum milik pemerintah provinsi atau kabupaten/kota banyak yang kurang mendapat perhatian.

Daud juga mengatakan, museum-museum di Indonesia perlu ditata kembali dengan pendekatan yang berkiblat kepada pengunjung. Pengelola museum harus tahu kebutuhan pengunjung. Sementara Edi Sedyawati melengkapi bahwa ada tiga unsur yang menentukan mutu suatu museum, yaitu : (1) kualitas koleksiyang dimiliki, (2) efektifitas tata kelola yang dilaksanakan dan (3) kemampuan akademik para kurator dari museum yang bersangkutan.

Karena menurut Edi Sedyawati lagi ada aspek lain permuseuman yang penting, yakni fungsi museum sebagai sumber belajar, pelayanan ilmiah dan informasi publik, konservasi serta keakhlian dalam penataan pameran.

Seandainya museum-museum di Indonesia seperti Museum Batik Pekalongan, saya pikir Bung Karno pun akan tersenyum gembira ; sebab dia pernah berkata jasmerah alias jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jadi jika Anda melintasi kota Pekalongan pada akhir pekan ini, coba mampirlah sejenak di Museum Batik Pekalongan bersama keluarga dan kerabat Anda tercinta. Ada sesuatu yang berbeda dan mencerahkan disana. Hidup Pekalongan !
Sumber : Kompas, 07.05.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: