Posted by: hagemman | May 5, 2009

KPU SALAH PILIH SOFTWARE

ocrLeletnya hasil penghitungan suara berbasis komputer ketimbang penghitungan manual membuat masyarakat gregetan, sedangkan sesuai peraturan tenggat waktu penyelesaian rekapitulasi suara pemilihan legislatif adalah tanggal 09.05.2007. Sampai tanggal 03.05.2009 malam, rekapitulasi suara secara nasional baru mencapai sebanyak 64.042.865, itupun baru menyelesaikan 51 daerah pemilihan pada 20 propinsi. Sedangkan waktu tersisa hanyalah tinggal hitungan hari.

Biang penyakit permasalahan ini salah satunya adalah soal software yang digunakan. KPU mempergunakan teknologi Inteligent Character Recognition (ICR) untuk proses penghitungan suara. Ajaibnya, saat ini tidak ada satu pun negara yang mempergunakan sistem itu karena dinilai berpotensi menyesatkan hasil pemilu. 

Mantan Ketua Tim Ahli Teknologi Informasi KPU Dr Ir Bambang Edhi Leksono Msc mengatakan tentang hal ini dalam Dialog Publik di Markas Blok Perubahan, Jakarta. Menurut Bambang, KPU seharusnya mempergunakan teknologi Optical Mark Reader (OMR). Masalahnya dengan mempergunakan ICR pemrosesan data menjadi lebih lama karena petugas PPK mengirimkan file berbentuk image yang ukurannya berat ketimbang OMR yang berbentuk text dengan ukuran jauh yang tentunya lebih ringan. Artinya OMR bisa lebih cepat dan praktis ketimbang ICR.

Mari kita simak paparan Bambang. Bahwa sistem ICR adalah menerjemahkan tulisan tangan petugas PPK dalam formulir C1 (berita acara penghitungan suara) menjadi bentuk huruf balok. Kelemahan terbesar ICR saat scanning tidak dapat membaca secara tepat tulisan tangan, akibatnya senantiatas diperlukan koreksi manusia yang berpotensi terjadinya penyelewengan dalam input data. Sistem OMR adalah software seperti yang umum digunakan untuk memproses lembar jawaban komputer (LJK). Formulir C1 mestinya dibuat seperti halnya LJK untuk menutup kemungkinan pemalsuan. Petugas PPS dan PPK tinggal membubuhkan tanda tangan pada formulir C1 untuk kemudian diproses menggunakan OMR.

Bambang menegaskan bahwa kendati inputnya sama-sama dari scanner, tapi softwarenya berbeda. Kalau pada ICR yang discan tulisan tangan, sedangkan pada OMR yang discan adalah format yang sudah ada seperti yang digunakan dalam lembar jawaban ujian UMPTN.

Jadi dengan mempergunakan OMR, Bambang menyatakan cukup dengan enam server saja soalnya bentuk text yang dihasilkan ringan. Lebih lanjut Bambang menyatakan pula ia sudah merekomendasikan penggunaan software OMR. Tetapi tak digubris dan tanpa pemberitahuan, KPU memilih software ICR. Akhirnya hal ini terbukti, mungkin kita ingat saat Pusat Tabulasi Nasional KPU menunjukan perolehan suara seorang caleg Partai Demokrat di Dapil II Sulawesi Selatan atas nama Muhamad Jafar Hafsah meraih 111 juta suara. Padahal total suara yang masuk baru mencapai 7,8 juta suara.

Bambang telah mengundurkan diri dari tim ahli KPU sejak Januari 2009. Juga diikuti Kepala Biro Perencanaan KPU Dr Edi Suhaedi pada bulan yang sama. Keduanya merasa ada banyak kejanggalan yang terjadi baik dari segi aspek hukum, anggaran, teknologi dan sistem Pemilu 2009. Keduanya tentu tidak bertanggung jawab apabila pemilu menjadi kacau, karena salah kebijakan dan ada aturan yang dilanggar seperti masalah tersebut diatas. Pantesan aja lelet dan sampai saat ini tercatat KPU bergeming dan tidak memberikan statement apa pun, kecuali cuma kata berharap dan berharap yang amat menyebalkan, prihal penetapan hasil pemilu tanggal 06.05.2009 alias esok hari dan paling lambat 07.05.2009, kata Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary.

Sumber :  Pikiran Rakyat, 04.05.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: