Posted by: hagemman | May 4, 2009

BI RATE DAN ULAH PERBANKAN KITA

bank2Laju inflasi untuk sementara mandek pada April lalu. Akibat penurunan harga pangan, menurut BPS (Badan Pusat Statistik), indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) April tercatat minus 0.31%. Artinya ekonomi negara kita kembali memasuki zona deflasi ; yang merupakan angka deflasi terbesar sejak Desember 2005.

Merujuk hasil survei BPS tersebut, sebagian besar kalangan ekonom sepakat, Bank Indonesia (BI) masih mempunyai ruang untuk menurunkan lagi suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 0,25% atau 25 basis point dari 7,25% sejak tanggal 05.05.2009 lalu.

Lebih lanjut Tony Prasetiantono Ekonom PT Bank BNI Tbk menyatakan bahwa fenomena deflasi yang kerap muncul pada krisis ekonomi pada banyak negara disebabkan masyarakat mengerem konsumsi sehingga terjadi penurunan permintaan barang dan jasa. Tony termasuk yang meramalkan bahwa BI akan menurunkan kembali BI Rate, namun sesudah itu, BI harus berhati-hati jangan sampai malah mengakibatkan capital outflow yang pada akhirnya melemahkan kurs Rupiah.

Eric Alexander Sugandi Ekonom Srtandard Chartered Bank (SCB) memperkirakan bahwa tren pemangkasan BI Rate bakal terus berlanjut hingga Juni 2009 yang akan mencapai dasar 7%. Berbeda dengan Ekonom Citigroup Johanna Chua yang malah memperkirakan BI Rate potensial menjadi 6,75%.

Tapi sayangnya penurunan BI Rate tidak cukup direspons oleh kalangan perbankan yang masih enggan menurunkan suku bunga kredit untuk membuat sektor riel menggeliat sehingga dapat mendorong perekonomian Indonesia. Ada banyak alasan yang diajukan seperti Wakil Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmaja yang mengembalikan kepada mekanisme pasar antara supply dan demand buat suku bunga bank. Juga termasuk saling lirik antar bankir siapa duluan yang mengambil langkah menurunkan suku bunga bank.

Tapi yang jelas dengan penurunan BI Rate yang secara otomatis terjadi penurunan suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) diharapkan dana perbankan yang diparkir pada instrumen ini ditarik dan dikucurkan lagi pada masyarakat. Kendati kita pesimis pasalnya perbankan sungguh menikmati marjin keuntungan dari kondisi ini dimana NIM (net interest margin) yang diraup mencengangkan tinggi yaitu kisaran 5% hingga lebih dari 9%.

Akibatnya Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa (01.05.2009) menyatakan bahwa bank tidak pernah memikirkan sektor riel bergerak atau tidak. Perbankan bahkan juga tidak akan pernah peduli ekonomi bergerak atau tidak, sebab Cuma mengejar keuntungan semata.  Menurut Purbaya tren penurunan bunga yang terjadi saat ini, membuat penurunan bunga deposito jauh lebih cepat dibandingkan dengan bunga kredit. Secara industri, periode Januari – Pebruari 2009, bunga deposito satu bulan sudah turun 90 basis poin (BP) sementara bunga kredit modal kerja Cuma turun 3 BP.

Prilaku tak terpuji perbankan ini sama sekali tidak memihak perekonomian yang tengah lesu dihantam Krisis Global. Ekonom Iman Sugema mengatakan, agartetap meraup keuntungan di tengah penyaluran kredit yang minim, perbankan membebani debitor yang sehat dengan suku bunga yang lebih tinggi dari seharusnya.  Lantas jika sudah begini dimanakah tanggung jawab sosial perbankan ? 

 
Sumber  :  Kompas & Kontan, 02.05.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: