Posted by: hagemman | May 2, 2009

POLEMIK DAN KASUS FLU BABI

fluSampai saat ini belum dilaporkan adanya penularan virus baru H1N1 di Indonesia. Potensi berkembangnya virus baru H1N1 atau virus Flu Babi menimbulkan polemik. Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, virus ini tidak dapat bertahan di negara tropis seperti Indonesia. Virus ini hanya dapat bertahan di negara-negara sub tropis empat musim. Hal lain virus ini dinilai tidak seganas virus Flu Burung H5N1 dengan tingkat kematian lebih dari 80 persen, sementara virus baru H1N1 hanya sekitar 6,4 persen.

Namun, Ketua Panel Ahli Komisi Nasional Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komisi FBPI) Amin Soebandrio menyatakan, belum ada bukti ilmiah yang menyatakan virus baru H1N1 tidak bisa muncul di negara kita ini. “Virus ini berpotensi muncul di Indonesia karena baru mati pada suhu 70 derajat Celcius,” ujarnya. Karena pada suhu udara seperti Indonesia, virus itu masih bisa hidup. Kemudahan akses transportasi juga membuat mobilitas penduduk antarnegara tinggi yang memicu penyebaran virus ke banyak negara.

Kasus H1N1 pada manusia menjadi pandemi di Spanyol pada tahun 1918. Di Indonesia, laporan medis jaman Belanda menyebutkan, saat terjadi pandemi juga ditemukan kasus-kasus dengan gejala yang sama di Pulau Jawa. Masalahnya ketika virus influenza dari spesies berbeda menulari babi, virus bisa saling bertukargen dan menimbulkan virus baru, gabungan virus influenza babi, manusia dan burung menimbulkan virus baru ; gabungan virus influenza babi, manusia dan burung. Dan virus yang mewabah saat ini ditularkan dari satu orang ke lain orang melalui udara. Percampuran virus babi, unggas dan manusia inilah yang meningkatkan risiko pandemi, menurut Amin Soebandrio.

Jan C. Wilschut, Janet E. McElhaney dan Abraham M. Palache dalam buku Influenza menuliskan ada beberapa cara munculnya virus subtipe baru yang menular ke manusia. Pertama, virus unggas ditularkan langsung ke manusia dan beradaptasi ke ‘host’ baru dengan bermutasi. Kedua, virus influenza manusia bercampur virus unggas dalam proses saling bertukar gen. Ketiga, virus lama manusia yang telah bersikulasi muncul kembali ke populasi manusia.

Kepala Laboratorium Flu Unggas Universitas Airlangga CA Nidom menjelaskan, virus H1N1 di Indonesia sudah ada sejak dulu dengan subtipe H1N1 klasik yang tidak berbahaya. “Virus H1N1 tipe Meksiko atau dikenal sebagai Flu Babi ini berbahaya, cepat menyebar dan berdaya rusak rendah. Yang dikahawatirkan apabila hasil penyusunan ulang menghasilkan virus cepat menular dengan daya rusak tinggi.” Secara teoritis, virus di unggas tidak bisa langsung ke mamalia seperti manusia. Harus ada perantara mamalia lain. Kemungkinan besar itu babi. Di dalam tubuh babi, virus berubah dengan dua pola, yaitu adaptasi tanpa mengubah struktur virus. Dan pola kedua, penyusunan ulang virus hingga jadi gabungan Flu Babi, Flu Burung dan Flu Manusia yang lebih berbahaya.

“Jika itu terjadi, virus H1N1 tipe Meksiko bisa berkembang di Indonesia, apalagi banyak peternakan ayam dan babi berdekatan,” kata Nidom. Oleh sebab itu prinsip dasar biosekuritas perlu lebih diperhatikan yang kini telah dilakukan di Kulon Progo misalnya ; yakni tata letak dan restrukturisasi pengelolaan biosekuritas yang salah satunya kandang babi disemprot desinfektan, kotoran babi dibersihkan, ternak dimandikan rutin dan pengecekan ketat kesehatan para pekerja peternakan babi.

Sejauh ini, pemerintah menyatakan siap melaksanakan rencana kesiapsiagaan pandemi influenza ini. Dengan angka kasus Flu Burung tertinggi di dunia, Indonesia telah mengadakan simulasi besar pandemi influenza di Bali dan Makassar serta simulasi kecil pada hampir 20 desa. Upaya lain pemerintah adalah menghidupkan surveilans, menyiapkan rumah sakit rujukan dan persediaan obat oseltamivir (Tamiflu). Pada sejumlah bandara dan pelabuhan, penumpang dari luar negeri diperiksa dengan pemindai suhu badan. Jika suhu badan diatas 39 derajat Celcius, penumpang akan dibawa ke ruang karantina.

Tetaplah kita waspada dan jangan panik serta mudah termakan isu yang tidak benar terkait Flu Babi, dari paparan diatas kita meyakini betapa seriusnya pemerintah beserta jajaran terkait menangani dan berusaha mencegah pandemi Flu Babi ini menyebar di negara kita. Yang penting jaga kebersihan dan kesehatan. 

Kendati Jumlah Kasus Flu Babi Per 30 April 2009

 – Austria 1 kasus

– Kanada 19 kasus

– Jerman 3 kasus

– Israel 2 kasus

– Selandia Baru 3 kasus

– Spanyol 10 kasus

– Inggris 5 kasus

 Kasus pada semua negara diatas tidak menimbulkan kematian.

 – AS 91 kasus dan 1 kasus meninggal dunia

– Meksiko 2.500 terduga, 49 terinfeksi dan 176 meninggal dunia

 

Total di seluruh dunia pada tanggal 30.04.2009 tedapat 183 kasus dan 177 orang meninggal dunia.

 
Sumber  :  Kompas | Reuters, 01.05.2009

Advertisements

Responses

  1. Tetaplah waspada terhadap gejala flu babi di indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: