Posted by: hagemman | May 1, 2009

IKAN PURBA COELACANTH

ikan-coelacanthJurnal ilmiah Prancis, Comtes Rendus de L’Academie des Science  edisi 24.03.1999 membuat pakar zoologi sedunia terhenyak ketika jurnal ini mempublikasikan jenis baru Coelacanth yang dinamai Latimeria menadoensis. Masalahnya sejak tahun 1940, dunia hanya mengenal satu spesies Coelacanth yaitu Latimeria chalumnae yang ditemukan di barat Madagaskar (1938) ; yang berjarak 10.000 kilometer dari Manado dimana Coelacanth jenis baru ini ditemukan.

Coelacanth yang diistilahkan ikan fosil hidup ini memang ikan langka yang hidup di bumi sejak era Devonia sekitar 380 juta tahun silam dan tidak berevolusi. Artinya sang ikan ini lebih tua dari Dinosaurus yang eksis pada 200 juta tahun lalu. Panjang Coelacanth bisa mencapai 1,5 meter dengan berat 40 kilogram. Sampai saat ini di dunia hanya ada dua spesies seperti yang diungkapkan di atas. Para pakar menduga Coelacanth telah punah 70 juta tahun silam. Tetapi kenyataanya tidaklah demikian.

Populasi Coelacanth ditemukan di Benua Afrika, yaitu Kenya, Tanzania, Komoro, Mozambik, Madagaskar dan Afrika Selatan. Disamping di Indonesia yaitu di Bunaken, Manado, Sulut dan Toli-toli di Sulteng dengan rentang sekitar 400 kilometer. Ada dugaan kuat Coelacanth juga hidup di perairan Biak karena kondisi bawah lautnya memiliki kemiripan dengan Sulut yakni berpalung dengan goa-goa batuan lava.

Ikan ini hidup pada kedalaman 150 – 200 meter dengan kisaran suhu antara 12 derajat sampai 18 derajat Celcius. Coelacanth merupakan predator yang karnivor dengan memangsa ikan-ikan kecil di malam hari. Tidak menutup kemungkinan ia juga dapat memangsa ikan yang lebih besar oleh sebab rahang atasnya dapat membuka seperti rahang bawah. Sampai saat ini belum ditemukan ikan lain yang berstruktur rahang seperti Coelacanth. Lebih lanjut Coelacanth ditempatkan sejajar dengan jenis ikan yang bernapas dengan paru-paru dan amfibi primitif pada pohon keluarga ikan-ikan bertulang. Telur Coelacanth menetas di dalam perut, tetapi bukanlah golongan mamalia laut.

Di Indonesia awetan basah Coelacanth disimpan di Museum Biologi LIPI, Cibinong dan Manado. Saking langkanya ikan ini, tidaklah mengherankan jika Coelacanth sebagai maskot Konferensi Kelautan Sedunia dan Pertemuan Segitiga Terumbu Karang (WOC-CTI Summit) pada tanggal 11 – 15 Mei 2009 mendatang di Manado. Keberadaan Coelacanth menunjukan betapa besarnya kekayaan laut kita sekaligus juga keterbatasan pengelolaan dan penelitian kelautan di Tanah Air.

 

Sumber : Kompas, 20.04.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: