Posted by: hagemman | April 27, 2009

PRIHAL KEKUASAAN

prambanan-06Kekuasaan adalah nisbi sekaligus juga sepi. Setidaknya itu yang pernah dikatakan Cicero. Saat di atas sendirian ketika banyak mata melihat dan takzim menunggu ; untuk sebuah pembuktian dituntut buat diwujudkan. Tapi sayangnya pengingkaran dengan pelbagai dalih dan turut pula bedil bicara kerap terjadi. Jadi kekuasaan memang memiliki sejuta topeng yang siap untuk dikenakan sesuai tuntutan kebutuhan.

Sampai hari ini kita tidak pernah menemukan benang merah berupa identifikasi dorongan apa yang membuat para penguasa menjadi zalim. Maksudnya apakah secara genetik atau memang situasi dan kondisi membuat mereka jadi buas. Sejarah sungguh penat mencatat nama demi nama penguasa yang zalim sepanjang jaman. Dan anehnya tidak pernah ada pembelajaran yang konsisten sehingga selalu tampil tokoh penguasa baru ; entah dia haus darah, haus duit atau haus wanita.

Ataukah memang kezaliman juga nisbi dan serentak tuli. Karena ada pameo yang mengatakan bahwa waktu yang akan membuktikan. Tetapi ketika waktu tampil buat membuktikan, saat itu sungguh terlambat jadinya sebab korban-korban kadung telah berjatuhan. Lantas kembali pada perenungan kita sungguhkah untuk kemanfaatan rakyat diperlukan yang namanya kekuasaan ?  Ternyata demikian adanya. Sebab kekuasaan adalah alat semata. Kini bergantung pada sang pengguna untuk mempergunakannya bagi manfaat atau maslahat.

Maka saya kerap kagum dengan ucapan Kaisar Agustus saat sebelum wafat dalam pelukan isterinya, ‘turunkanlah layar, pertunjukan telah berakhir’ desahnya. Tapi sayangnya banyak penguasa kepahamannya tidak sejernih Sang Penguasa Romawi ini, katakan saja Adolf Hitler yang memilih bunuh diri tepat 64 tahun lalu (30.04.1945) dan lalu bersembunyi di balik misteri sekaligus mitos yang dibangunnya. Yang tetap meninggalkan jejak tanda tanya.

Itulah mengapa kita hanya bisa berharap yang terbaik bagi Indonesia. Kiranya Sang Khalik berkenan mengkaruniakan pemimpin yang terbaik untuk periode 2009 – 2914 kelak. Pemimpin yang bukan cuma pinter janji doang, tapi pemimpin yang mampu menangis ketika rakyat menangis. Pemimpin yang tidak membiarkan acara Kamisan di depan istana berlangsung terus-menerus. Pemimpin yang tampil secara manusiawi dan memiliki nurani tanpa membiarkan kekuasaan membusukan dirinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: