Posted by: hagemman | April 27, 2009

NASI JAMBLANG + KEJUJURAN

nasi-jamblang-mang-dulNasi Jamblang adalah makanan khas lesehan Cirebon, terdiri dari nasi dengan pelbagai lauknya baik itu tempe, tahu, daging, limpa, hati dan seterusnya ; yang kita ambil sendiri. Nah Nasi Jamblang yang terjangkau oleh kantong saya inilah yang mempesona diri saya.

Nasi dua, tahu satu, daging satu, telur satu, sambal satu dan es teh manis satu ; itu adalah ucapan ritual pagi saya ketika usai sarapan Nasi Jamblang. Dan tangan petugas yang menghitung pun menari-nari lincah di atas kalkulator, lalu ia akan menuliskan jumlah nilai yang harus saya bayar pada secarik kertas. Maka saya pun menyerahkan kertas itu dan membayar pada kasir, seorang ibu yang ramah dan selalu bertanya kapan balik ke Malang.

Begitu dari pagi ke pagi selama saya berada di Cirebon ; sampai saya iseng mencoba memakan menu yang sama selama tiga hari berturut-turut dan selalu jumlah nilai yang saya bayar berbeda-beda. Jujur saya sungguh sungkan bertanya, tapi saya belajar sisi lain dari hal ini, karena sang penjual pun tidak sungguh tahu apa yang sebenarnya saya santap soalnya kita sendiri yang memilih dan memgambil, kecuali nasi yang ditadahi dengan selembar dua daun jati. Dan lagi saya tidak sendirian, sebab pembeli lain pun berjubel antri.

Kejujuran, begitulah yang saya peroleh. Ketika kita jujur menyatakan apa adanya, sesungguhnya ada satu keyakinan dalam diri kita bahwa kejujuran ini akan terefleksi berupa tanggapan yang sebanding terhadap diri kita. Lha lantas soal jumlah nilai yang berbeda-beda itu bagaimana ?  Saya pikir itu soal lain. Justeru disitulah saya pikir letak kesuksesan penjual Nasi Jamblang yang nge-top se-Cirebon ini. Akumulasi selisih perhitungan bisa jadi menjadi nilai lebih yang besar bagi pemasukannya. Bisa jadi juga tidak seperti yang kita duga.

Selama yang saya amati tampaknya tak ada pembeli yang protes mempersoalkan hal ini, kendati banyak diantaranya adalah pelanggan setia termasuk diri saya. Maka saya pun terkagum-kagum dengan gaya pemasaran model seperti ini yang bukan semata mengusung kelezatan barang jualan, melainkan juga mampu mengusung nuansa kejujuran menjadi komoditas pelengkap yang juga mampu memberikan kontribusi. Disamping tentunya kecepatan pelayanan sebab begitu Anda siap menikmati pilihan Anda entah pakai sendok atau pun tangan, minuman akan datang tersaji di hadapan Anda.

Jadi jika Anda kebetulan berkunjung ke Cirebon, coba nikmati Nasi Jamblang Mang Dul di jalan Dr. Cipto. Siapa tahu disana kita bisa bertemu.

 
Picture Courtesy of www.jenzcorner.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: