Posted by: hagemman | April 16, 2009

MEREKA YANG BERMIMPI

calegPara caleg yang gagal mulai berguguran jadi korban, begitu media gencar menulis dan memberitakan pada hari-hari ini. Ada yang stress berat menjurus pada gangguan kejiwaan sampai dengan perbuatan nekad yaitu bunuh diri. Inilah potret diri kita sesungguhnya. Ketika atas nama kepentingan rakyat yang bisa dipelintir seperti karet ; kita terbuai mimpi dan ambisi lalu kemudian kita sadar bahwa semua itu adalah fatamorgana belaka.

Menjadi wakil rakyat tidaklah sesederhana seperti membalikan tangan. Butuh waktu yang panjang untuk pengendapan niat mulia buat ditransformasikan menjadi pengabdian yaitu tindakan yang mendatangkan manfaat buat bangsa ini. Tentunya bukan cuma waktu beberapa bulan sebelum Pemilu Legislatif. Juga bukan karena kita memiliki kekuatan finansial yang asalnya ternyata pinjaman, hasil gadai dan jual harta benda. Sungguh mengerikan ketika tata aturan soal caleg ini tidak mempertimbangkan akibat dan biaya sosial yang timbul seperti diatas.

Jadi ada kebuntuan berpikir secara bijak. Kalau memang hitung-menghitung alias kalkulasi politik dikesampingkan. Maka jadinya sekedar untung-untungan ; maka tidaklah heran jika sebuah lembaga penelitian sosial bilang kampanye para caleg nyaris tidak ada yang kreatif, segar dan inspiratif. Semua ibarat jualan martabak di sepanjang jalan yang sama ; yaitu ujud spanduk, banner dan leaflet yang bilang : contrenglah saya.

Sesungguhnya tanpa mengurangi rasa hormat pada caleg yang gagal ; Indonesia pada hari-hari ini diloloskan Sang Khalik oleh caleg-caleg yang tidak memiliki dasar kemampuan serta kepakaran yang sesungguhnya. Bayangkan jika para caleg ini yang terpilih seperti apakah wajah pemerintahan kita untuk periode 2009 – 2014 kelak. Alangkah mengerikannya mereka yang mengatakan dapat apa ; sementara hakekat semestinya bertanya pada diri sendiri : apa yang bisa diberikan buat bangsa ini.

Bagi caleg yang berhasil. Sesungguhnya tak urung juga mereka mengalami keguncangan yang potensial menjurus pada masalah kejiwaan. Ketika mereka sadar bahwa jadi wakil rakyat bukan cuma sekedar absensi kehadiran tapi juga harus siap dan trengginas diri untuk mewujudkan kepercayaan sekaligus tanggung jawab pada konstituen serta rakyat. Ketika mereka sadar diri mereka tidak mampu. Saat itulah penentuan. Yang baik jika sadar akan belajar atas inisiatif sendiri dan juga pembinaan serta pengayaan dari parpol ; itulah salah satu makna profesionalitas. Yang buruk adalah tidak mengakui dirinya tidak mampu malah memilih untuk stress dan beneran edan yang bukan cuma soal kejiwaan tapi juga perilaku korupsi.

Maka saya ingat ketika saya disodori jadi caleg, saya hanya senyum-senyum saja karena pertama saya tahu saya tidak mampu. Kedua saya seperti juga Anda pahami bahwa untuk berbuat manfaat bagi bangsa ini tidak harus lewat jadi caleg. Kita harus tetap berdoa, jika DPR pernah marah-marah saat Gus Dur bilang seperti taman kanak-kanak ; sekali ini DPR juga janganlah bertipis telinga lalu berdalih penistaan lembaga tinggi negara, jika kelak ada sebutan yang lebih buruk dari apa yang Gus Dur pernah lontarkan. Kendati kita juga tetap harus objektif bahwa masih banyak pula caleg yang sungguhan berdedikasi, yang hatinya merasa sakit ketika rakyat senantiasa dizalimi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: