Posted by: hagemman | April 8, 2009

JAWABNYA ADALAH PENDAMPINGAN

lilia-in-june-01Jika kita bicara UKM sebenarnya bukan sekedar mereka kekurangan modal, ketidak mampuan pengelolaan dan tidak memiliki akses pemasaran. Tetapi lebih diperparah dengan salah penanganan pemerintah c.q. pemerintah daerah dan lembaga-lembaga lain yang terkait. Yang mengakibatkan keberadaan UKM tidak pernah masuk dalam pengentasan dan pemberdayaan sesungguhnya.

Selama hampir 10 tahun, saya bersinggungan dengan UKM pada pelbagai daerah di Jawa, Bali dan Lombok. Selalu saya temukan suatu pola penanganan yang identik sama yakni penitik-beratan pada program yang intinya UKM dipandang sebagai objek. Entah berapa banyak biaya yang sudah dikeluarkan hanya untuk membangun sentra ruang pamer produk UKM, tetapi pada kenyataannya inkonsistensi pengembangan yang berujung pada jorok, suram dan berdebunya ruang pamer, miskin data informasi dan pengelolaan yang tidak profesional. Client Timur Tengah saya dengan sinis dan geleng-geleng kepala bilang ini semua cuma program gubernur, walikota dan bupati semata.

Hal di atas dalam arti fisik. Yang virtual juga ada. Sebuah pemkab mencanangkan laman buat seluruh UKM di wilayahnya dengan gratis. Tapi setahun lewat tampilan laman tetap sama dan kelihatan tidak pernah di up-date dan celakanya setahun lalu sudah tulalit. Client Spanyol saya marah-marah soalnya saya koq tega-teganya rekomendasi laman tersebut tanpa mengecek sang laman ternyata sudah tewas. Maknanya adalah pembinaan UKM selalu diposisikan pada hal-hal mainstream yang diyakini dari sudut pandang luar. Yakinlah jika memang mau membina UKM, kita harus mempergunakan sudut pandang dalam dimana kita ada bersama mereka. Yang artinya bukan pada permukaan tetapi lebih menukik ke dasar. Jawabnya adalah pendampingan.

Pendampingan pun memang tidak akan memberikan hasil yang hebring dalam waktu singkat. Sebab butuh kerelaan, keikhlasan dan kemurnian tekad. Dan itu kita sadari tidaklah mudah. Siapakah yang cukup gila di jaman serba materi meraja mau mendampingi mereka tiap waktu ?  Yang juga bukan cuma sekedar an sich membantu memecahkan permasalahan mereka, melainkan juga menangani hal-hal yang remeh temeh. Seperti keraguan, kegoyahan, ketidak percayaan diri, kekuatiran, ketakutan dan sebagainya yang menghinggapi UKM.

Karena jika tidak ada yang cukup gila mau mendampingi maka kisah UKM akan terus begitu-begitu saja buat dimanfaatkan makhluk yang namanya program.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: