Posted by: hagemman | April 5, 2009

MEMBANGUN TANPA MENGGUSUR

pasar-ikan-selorejoTulisan Stefanus Osa Triyatna pada Kompas 02.04.2009 halaman 21 dengan judul Renovasi Pasar, Membangun Tanpa Menggusur, menarik buat kita simak.

Sekitar 80% Pasar Tradisional berusia tua dan tidak layak lagi, padahal disana sebagian besar produk usaha kecil dan menengah dipasarkan dan pedagang kecil menggantungkan kehidupannya. Di sisi yang lain Ritel Modern terus meluaskan jaringannya. Pertanyaannya mampukah stimulus fiskal sebesar Rp 100 miliar merevitalisasi Pasar Tradisional ?

Ada dua Pasar Tradisional yang ditampilkan penulis yaitu Pasar Manggis dan Pasar Ciputat yang berujung secara faktual pada kesemrawutan, kekumuhan dan ketidaknyamanan. Kendati demikian penelitian The Nielsen menunjukan bahwa Pasar Tradisional memiliki konsumen yang setia dan pangsa pasar tersendiri. Dengan krisis global saat ini tampaknya peran Pasar Tradisional akan mencuat kembali oleh sebab terjadinya perubahan perilaku konsumen.

Dalam hal ini dikutipkan pula karikatur tentang tingkat kepercayaan konsumen dari penelitian Nielsen. “Harus pintar-pintar masak, mengolah bahannya, biar dapat banyak tapi enggak usah sering-sering ditumis pakai minyak goreng. Kalau perlu, direbus dan dikukus saja, entar dicocol pakai sambal,” ungkap seorang konsumen untuk menyiasati mahalnya harga kebutuhan sehari-hari.

Konsumen yang lain mengatakan, “Kalau minta ayam Kentucky, kita beli saja kentucky-kentucky-an.”  Sementara yang lain berkata, ” Anak-anak suka jajan. Kalau saya sudah enggak ada duit, akhirnya saya tutup pintu, setelin TV biar (dia) enggak jadi jajan.” Kiat ini untuk mengurangi pengeluaran untuk jajan anak. Kiat penghematan dilakukan untuk menekan berbagai pengeluaran, “Dulu bisa beli pembalut yang isinya 12, sekarang isinya sedikit. Dan lebih irit pakai sampo sachet soalnya kalau pakai botol suka kelebihan. Kalau sachet tinggal gunting, jadi pas ukurannya.”

Maka lebih lanjut Nielsen meyakini sedang terjadi perubahan perilaku konsumen yakni perpindahan dari belanja di Ritel Modern ke Toko Tradisional dan Pasar Tradisional. Terbukti pula bahwa berdasarkan Shoppertrend 2009, Nielsen mengungkapkan masih tingginya minat masyarakat berbelanja di Pasar Tradisional terutama berbelanja bahan makanan segar. Data tahun 2006-2008 menunjukan 36% – 45% konsumen berbelanja buah dan sayuran segar, 62% – 65% berbelanja daging segar dan 53% – 61% berbelanja ikan segar di Pasar Tradisional.

Irfan Melayu, Ketua Dewan Pengawas Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia (FOPPI) mengatakan atmosfer Pasar Tradisional menumbuhkan keakraban antara pedagang dan pembeli, terutama saat proses tawar menawar. Hanya ketika Pasar Tradisional direnovasi keakraban itu acap kali hilang entah kemana. Hal ini disebabkan renovasi yang dilakukan juga menggusur karakter ketradisionalan sang pasar. Padahal yang dibutuhkan konsumen adalah kebersihan, kenyamanan dan keamanan dari sebuah Pasar Tradisional. Jadi bukan bangunan megah dan segala macam tetek bengek yang akhirnya mengerek harga jual jadi mahal sebab pelbagai pungutan iuran. Dengan kata lain membunuh keunggulan komparatif Pasar Tradisional.

Oleh karena itu Irfan Melayu mengharapkan hendaknya renovasi Pasar Tradisional dalam rangka stimulus fiskal dari pemerintah ini lebih diarahkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dengan cara lokasi pasar dekat dengan konsumen, soalnya peran biaya distribusi barang amat signifikan terhadap selisih harga jual yang membuat harga pada Ritel Modern lebih murah. Jadi dengan kucuran stimulus sebesar Rp 100 miliar diakui memang kecil sekali – rencanannya ada 91 Pasar Tradisional dan 13 Kawasan Usaha Mikro dan kecil, seperti pedagang kaki lima (PKL) akan menjadi target penyaluran stimulus fiskal. Memang jumlah sasaran ini jauh dari jumlah Pasar Tradisional di negara kita.

Kita akan lihat dan saksikan bagaimana program ini dapat terbukti berjalan dengan baik dan sesuai seperti yang kita harapkan. “Komitmen pemerintah, renovasi atau pembangunan pasar tidak boleh menggusur pedagang lama. Apalagi, muncul broker penjual kios,” tegas Suryadharma Ali, Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: