Posted by: hagemman | April 5, 2009

ANTISIPASI PERILAKU KONSUMEN

thirstyBaru-baru ini Ipsos, sebuah perusahaan survei yang fokus pada perilaku belanja konsumen, mengadakan survei tentang respons konsumen apabila terimbas krisis ekonomi. Survei ini dilakukan pada bulan Pebruari terhadap 535 ibu rumah tangga menengah dengan pengeluaran rata-rata Rp. 3,5 juta per bulan.

Managing Director Ipsos Indonesia Iwan Murty mengemukakan bahwa 70% konsumen memilih mengurangi pengeluaran. Dengan cara mengurangi pos pengeluaran tertentu 27%, mengurangi konsumsi 24%, berganti kemasan lebih kecil 19%, berganti merk yang lebih murah 13%, menunda pembelian 8% dan berhenti membeli 5%.

Pengeluaran yang paling banyak dipotong adalah belanja pakaian, makan di luar, uang saku, rekreasi, sepatu, listrik, produk kecantikan dan paling akhir adalah perawatan tubuh. ” Selama pendapatan belum berkurang, mereka cenderung mengurangi pengeluaran kalau harga-harga naik, ” papar Iwan Murty lagi.

Dari hasil survei tersebut, Ipsos merekomendasikan sejumlah kiat bagi produsen dalam melakukan sejumlah langkah pemasaran untuk mengantisipasi perilaku konsumen ini.

Yaitu Pertama, memberikan nilai tambah tanpa perlu memotong harga secara permanen, soalnya memotong harga serendah-rendahnya justeru akan menurunkan citra merk. Kedua, tetaplah beriklan karena mengurangi belanja iklan akan mengurangi kepercayaan konsumen yang telah terbangun selama ini. Ketiga, mengubah citra sebagai produk yang lebih terjangkau tanpa menurunkan citra produk. Keempat adalah memonitor perubahan perilaku konsumen agar bisa terus menerus menyesuaikan dengan langkah pemasaran produk yang dilakukan. Kelima, yang terakhir adalah menjaga inovasi secara konsisten untuk mengikuti perubahan perilaku konsumen.

Apa yang dipaparkan Iwan Murty pada tanggal 02.04.2009 di Jakarta ini amatlah menarik untuk direnungkan dan bermanfaat bagi kita semua untuk senantiasa berada dalam kondisi pembelajaran, khususnya di tengah masa krisis global ini.

 

Sumber : Kompas, 03.04.2009 Halaman 21

Advertisements

Responses

  1. INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan demi hukum atas Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat.
    Permasalahan sekarang, kondisi seperti ini akan dibiarkan sampai kapan?? Sistem pemerintahan jelas tidak berdaya mengatasi sistem peradilan seperti ini. Lalu siapa yang mau perduli?
    Ataukah hanya revolusi solusinya??

    David
    HP. (0274)9345675

  2. makasih infonya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: