Posted by: hagemman | April 4, 2009

DI ATAS BOUGAINVILLE

p38Awal April 1943, Laksamana Chester W. Nimitz, pucuk pimpinan armada AS di Pasifik  semasa Perang Dunia II mengirimkan kawat rahasia kepada para perwira intelijen tertinggi baik di Pearl Harbour dan Washington. Nimitz tidak menduga sama sekali ketika jawaban datang dalam waktu singkat dari Presiden F.D. Roosevelt sendiri yang memerintahkan agar Laksamana Isoroku Yamamoto dibunuh dengan pertimbangan bahwa ia yang mendalangi penyerbuan Pearl Harbour beberapa tahun sebelumnya.

Kawat Nimitz dipicu oleh keberhasilan intelijen AS yang berhasil menangkap dan memecahkan kode kawat top secret Tokyo yang ditujukan kepada markas-markas besarnya di Pasifik. Isinya adalah Yamamoto selaku panglima tertinggi seluruh armada Jepang akan mengunjungi medan peperangan di Pasifik. Jelas ini sebuah kesempatan emas bagi AS untuk menyergapnya dan semakin dipermudah dengan karakter Yamamoto sendiri yang dikenal amat correct dengan urusan waktu.

Dari kawat Jepang yang berhasil dipecahkan kodenya ternyata Yamamoto beserta anggota staff tertingginya akan tiba di lapangan terbang Pulau Ballale, di selatan Pulau Bougainville tepat pada pukul 09.45 pagi, tanggal 18.04.1943. Bagi AS data waktu ini lebih dari cukup karena dipastikan tidak akan meleset, sebabnya yaitu tadi bahwa Yamamoto adalah pribadi yang amat disiplin dalam soal waktu.  Maka AS menyiapkan enam belas pesawat pemburu P-38 Lightning yang berpangkalan di Guadalcannal.  Dari 16 pesawat tersebut dibagi dua, sebagian dibawah komando Kapten Thomas Lanphier yang berfungsi sebagai rombongan penyerang dan sisanya berada dibawah komando Mayor John W. Mitchell untuk melindungi misi ini dan sekaligus memimpin seluruh pesawat tersebut.

Tepat pukul 07.25,  saat matahari pagi bersinar cerah ke-16 P-38 menderu lepas landas satu persatu. Mereka tidak terbang langsung ke tujuan, melainkan mengambil jalur memutar serta menghindari garis pantai, kuatir terhadap pengintaian mata-mata Jepang di Kepulauan Solomon. Karena maklum 16 pesawat P-38 terbang beriringan tentu akan menarik perhatian siapa pun. Maka mereka terbang jauh di atas laut dan tidak menggunakan radio komunikasi. Mereka hanya mengandalkan kompas dan indikator kecepatan pesawat untuk mencari titik pertemuan dengan mangsanya. Seakan memang nasib Yamamoto sudah ditentukan – di kejauhan mulai terlihat dua pembom jenis Betty yang salah satunya dipastikan membawa Yamamoto dan dikawal dengan sembilan pesawat Zero. Mereka terbang tanpa kecurigaan sedikit pun.

Mayor Mitchell memancing dengan mendaki hingga mencapai 20.000 kaki,  mendadak seluruh Zero keluar dari formasi dan mengejar kawanan Mitchell. Pancingan ini berhasil sehingga kedua Betty ditinggal tanpa pengawalan sama sekali. Sementara di bawah, tanpa mereka lihat masih ada serombongan P-38 lainnya dibawah komando Kapten Lanphier. Dengan kecepatan yang sebesar-besarnya Lanphier memacu dan diikuti yang lainnya terbang mendaki menuju kedua Betty tersebut.

Lanphier dan kawanannya masih sempat menghabisi kedua Betty tersebut, ketika pesawat pemburu Zero sadar telah tertipu dan kini mereka sia-sia untuk kembali menukik balik, karena posisi ruang tembak Mitchell jadi amat menguntungkan untuk membantai mereka satu persatu. Kiprah Lanphier membuat salah satu Betty terbakar jatuh di hutan pantai Bougainville, ternyata diketahui kemudian pesawat malang ini yang mengangkut Yamamoto. Dan disusul kemudian dengan Betty kedua yang jatuh ke dalam laut yang membawa Kepala Staff Yamamoto, Laksda Ugaki yang terluka berat.

Nasib Yamamoto kemudian diketahui tewas terlempar dari dalam pesawat, ia ditemukan terduduk dengan pedang samurai diantara kedua kakinya dengan kening berlubang terkena peluru P-38. Tokoh kharismatik ini menemui ajalnya dengan tragis. Baru pada tanggal 21 Mei 1943, Radio Tokyo secara resmi mengumumkan tewasnya Yamamoto yang amat memukul moril tempur mereka. Yang menjadi misteri adalah pihak Jepang hingga akhir perang tidak pernah mengetahui sebab musabab tewasnya Yamamoto ; mereka mengira oleh karena faktor kebetulan belaka.

 

Sumber : Perang Pasifik – P.K. Ojong & Unexplained Mysteries of W.W. II – Robert Jackson

Gambar : Flight – August 1977

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: