Posted by: hagemman | April 2, 2009

BUSINESS AS USUAL

stffng-072Dalam bisnis saya cenderung naif. Saya katakan naif karena saya suka terlalu keras kepala dengan apa yang saya pahami dan yakini tentang hakekat dan makna bisnis. Karena saya tidak memberikan ruang sama sekali kepada pelbagai macam bias yang bisa saja terjadi dan celakanya memiliki probabilitas yang tinggi. Akibatnya berkali-kali dalam rentang 10 tahun saya selalu “menempatkan” diri saya dalam posisi yang ditinggal, yang dibohongi dan yang dizalimi.

Ketika saya curhat dengan teman yang sudah banyak makan asam garam. Teman baik ini bilang satu kalimat yang mewakili keseluruhan yaitu : business as usual. Betapa dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saya miliki, saya membenci pemahaman negatif sekaligus pembenaran ini tentang business as usual. Bagi saya distorsi dan dispute yang timbul dalam hubungan bisnis sebenarnya masih bisa diminimalisasi dan bahkan dieliminasi melalui dialog dan konsep memberi-menerima ditambah saling pengertian. Tapi itu cuma teori, pada kenyataannya selalu yang memegang power ; dia yang menang. Maka kendati telat banget saya pun belajar untuk sedikit lebih pinter …

Yaitu saya harus belajar memberikan ruang dari etika bisnis yang saya pahami dan yakini bagi setiap kemungkinan yang terburuk yang bisa saja terjadi. Intinya saya harus mentransformasikan hal-hal ini dalam bentukan kerugian yang lebih mudah buat dikaji baik itu dalam bilangan maupun kondisi ; lazim kita kenal hal ini sebagai risiko. Kelemahan kita adalah kita mafhum soal risiko tapi kita alpa untuk memprediksikan sampai sejauh mana kerugian akan timbul bila risiko ini terjadi. Untuk melakukan hal ini tidaklah sederhana, untuk hal ini saya harus latihan dan kemudian lakukan tahap demi tahap. Sampai disini saya berpikir : kapan jadi pinternya. Teman saya yang lain bilang pada saya bahwa untuk belajar tidak ada kata terlambat.

Kini yang menjadi masalah seberapa luas ruang yang saya harus berikan atau sediakan untuk pelbagai bias yang bisa terjadi, kemudian yang terpenting bagi diri saya adalah bagaimana saya bisa berdamai dengan diri saya. Berdamai untuk menerima suatu keyakinan dan pemahaman baru tentang esensi bisnis. Atau bisa jadi saya kadung kecebur dalam mitos bisnis dimana dahulu saya pertama kali belajar yaitu aplikasi makna kejujuran, ketulusan, tanggung jawab, ketekunan dan sebagainya. Yang celakanya justeru semua nilai-nilai luhur itu jadi jungkir balik. Singkatnya benar jadi salah, salah jadi benar.

Percayalah, saya tidak sedang menunjukan bahwa diri saya orang baik. Saya penuh dengan kelemahan. Itulah mengapa saya harus tetap belajar bagaimana menjalankan bisnis karena pantesan saya kagak maju-maju. Dalam arti bisnis yang saya lakukan masih belum kunjung menunjukan hasil signifikan. Tapi juga maksud saya bukan jalan pintas biar cepet kaya. Karena berhasil tidak harus diartikan jadi kaya ; buat saya sebenarnya rasa puas bahwa apa yang saya lakukan teraktualisasi secara nyata dan memberikan manfaat buat orang banyak. Sampai saya kemudian berdoa ketika sekian kali saya disikat client sebulan lalu : Tuhan, kalau Engkau tidak ijinkan saya jadi pebisnis pinter – tolong bikin salah satu putera-puteri saya aja jadi pebisnis pinter di kemudian hari. Doa yang naif, karena saya memang suka naif sikh … atau kenaifan ini merupakan halangan yang saya abaikan selama ini. Wallahu’alam Bissawab.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: