Posted by: hagemman | August 1, 2010

JULIAN ASSANGE, SANG MANTAN HACKER

Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, membuat marah pemerintah AS sekaligus musuh bersama bagi negara sekutu. Akibat pembocoran dokumen kejahatan perang AS di situsnya, kini pria berambut putih itu harus siap menghadapi kemungkinan diburu aparat.

Beberapa hari setelah sejumlah dokumen berisi nama-nama informan perang Afghanistan muncul di situs WikiLeaks, kontroversi menyeruak. Departemen Pertahanan Amerika mengatakan, pembocoran dokumen rahasia militer tersebut sangat mungkin menelan banyak korban jiwa dan merusak hubungan dengan para sekutu.

Departemen yang dipimpin Robert Gates itu menegaskan bahwa pembocoran tersebut berbahaya bagi warga Afghanistan yang selama ini telah membantu operasi AS. Selain itu, dikhawatirkan timbul ketidakpercayaan dari negara-negara sekutu bahwa AS tidak mampu menjaga kerahasiaan dokumen negara. Untuk itu, Dephan AS menyatakan, WikiLeaks harus bertanggung jawab atas kematian para korban.

Mendengar peringatan dan ancaman pemerintah itu, Assange tak gentar. Pria 39 tahun tersebut menyatakan akan tetap melansir secara berkala dokumen-dokumen rahasia perang Afghanistan. Dia juga menolak menyebutkan sumber pertama yang memnocorkan dokumen itu padanya.

“Kami punya berkas-berkas yang menjadi keprihatinan setiap negara di dunia. Ribuan database dan berkas tentang berbagai negara,” katanya. Dia juga menyatakan memiliki data semua negara yang berpenduduk di atas satu jiwa jiwa.

Keteguhan Assange terlihat saat dia mengadakan jumpa pers di London, Senin (26/7). Dia menegaskan bahwa WikiLeaks masih akan terus membocorkan data-data rahasia. Tidak tanggung-tanggung, dia mengaku masih mempunyai 15 ribu dokumen rahasia lagi yang siap diunggah ke situsnya dalam waktu dekat.

Dalam kesempatan tersebut, Assange menyatakan tidak takut diburu aparat karena tindakannya itu. Ketakutannya hanyalah jika dia tidak dapat memberitahukan material yang diperolehnya tersebut kepada publik.

Read More…

Posted by: hagemman | August 1, 2010

MANNING PUN DITAHAN

Bradley Manning menjadi prajurit pertama Amerika Serikat (AS) yang merasakan langsung dampak publikasi Afghan War Diary alias The War Logs. Kamis malam waktu setempat (29/7) serdadu 22 tahun itu tiba di Pangkalan Korps Marinir Quantico di dekat Triangle, Prince William County, Negara Bagian Virginia.

Manning dipanggil pulang dari tempat tugasnya di Kamp Arifjan, Kuwait, karena diduga terlibat dalam bocornya sekitar 92.000 dokumen penting militer AS Minggu lalu (25/7). Di bawah pengawalan ketat militer AS, dia langsung digiring masuk ke salah satu sel di pangkalan tersebut dan langsung diinterogasi. Dia dituduh menjadi salah seorang informan WikiLeaks yang membocorkan dokumen perang Afghanistan.

“setidaknya, ada empat dakwaan senada yang dituduhkan pada Manning,” kata salah seorang pejabat militer yang minta identitasnya dirahasiakan seperti dilansir Agence France Presse kemarin (31/7). Manning diyakini sebagai salah seorang serdadu yang membocorkan informasi rahasia ke WikiLeaks soal serangan helikopter Apache AS di Baghdad pada Juli 2007 (Collateral Murder). Serangan itu menewaskan bebrapa warga sipil. Konon, video tersebut diunduh Manning langsung dari dokumen resmi Departemen Pertahanan (Dephan) AS.

Kali ini Manning kembali diyakini sebagai pembocor informasi penting soal perang Afghanistan ke situs independen yang berpusat di Swedia tersebut. Hanya, tidak hanya satu informasi yang dia berikan, tapi ribuan. Untuk menyelidiki kasus tersebut, pemerintahan Presiden Barack Obama meminta bantuan khusus dari Pentagon dan FBI.

Kebijakan Washington yang menarik pulang Manning direaksi keras oleh Julian Assange. Pendiri WikiLeaks yang belakangan menuai kecaman dari berbagai pihak itu menyebut Manning sebagai korban. “Kini dia menjadi tahanan politik,” katanya. Menurut dia, dengan menempatkan Manning di Kamp Arifjan, AS berniat mengisolasi sang prajurit. Washington juga sengaja memutus kontak Manning dengan dunia luar.

Read More…

Posted by: hagemman | August 1, 2010

HERO ATAU EMBER ?

Mulai 25 Juli lalu, pandangan dunia tertuju kepada WikiLeaks. Organisasi internasional yang didirikan pada Desember 2006 oleh Julian Assange tersebut layak mendapatkan dua jempol. Betapa tidak. Tepat pada tanggal itu, WikiLeaks memublikasikan sejumlah besar dokumen rahasia, yang konon merupakan data intelijen militer Amerika Serikat (AS), tentang perang melawan militan di perbatasan Afghanistan – Pakistan.

Atas keputusan membocorkan dokumen rahasia yang juga disebut sebagai Afghan War Diary atau The War Logs itu, WikiLeaks menuai kutukan dari Presiden Afghanistan Hamid Karzai, juga Gedung Putih. Sebab, dokumen tersebut tidak hanya membeberkan kegagalan militer Negeri Paman Sam dalam membekuk Taliban yang dicap sebagai kelompok teroris, tapi juga memuat nama informan dan mata-mata sipil yang selama ini membantu misi AS dan pasukan NATO.

“Sebelum merilis dokumen-dokumen itu, kami sudah mengontak Gedung Putih dan minta mereka membantu kami menyortir data yang ada. Dengan demikian, saat dokumen-dokumen itu kami publikasikan, tidak ada identitas orang-orang tak berdosa yang terekspos. Tapi, Gedung Putih menolak permintaan kami,” ujar Assange untuk membela diri seperti dikutip The Age, Jumat lalu (30/7).

Dalam wawancara dengan ABC awal pekan ini, pria 39 tahun itu menyayangkan komplain Gedung Putih. Apalagi, Gedung Putih, tampaknya, menyalahkan WikiLeaks karena tereksposnya nama-nama informan Afghanistan, yang mungkin saja nyawa mereka kini terancam, tersebut. “Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menghentikan ancaman keamanan itu selain meminta kepada mereka (WikiLeaks) untuk berhenti memublikasikan dokumen yang ada di tangan mereka,” kata Jubir Gedung Putih Robert Gibbs.

Apalagi, sejak Jumat lalu Taliban mengumumkan lewat situs resmi siap menghukum seluruh warga sipil Afghanistan yang diam-diam menjadi informan AS. “Kami kini mempelajari dokumen-dokumen tersebut. Kami sudah mengantongi nama-nama mereka yang menjadi mata-mata dan diam-diam bekerja sama dengan pasukan AS,” ungkap Jubir Taliban Zabihullah Mujahid seperti dilansir stasiun televisi Inggris, Channel 4 News.

Selain nama, dokumen rahasia yang dipublikasikan WikiLeaks serta disebarluaskan The New York Times, The Guardian, dan Der Spiegel itu mencantumkan nama suku dan informasi tentang keluarga para informan AS. “Kami akan menelusuri informasi tersebut lebih lanjut lewat tim intelijen kami. Jika mereka benar-benar terbukti menjadi informan AS, kami punya cara tersendiri untuk menghabisi mereka,” lanjut Mujahid seperti dikutip Newsweek.

Sikap Taliban itu membuat Gedung Putih semakin menyalahkan Assange dan organisasi yang dipimpinnya. “Jubir Taliban di Afghanistan sudah mengabarkan bahwa kelompok militan tersebut kini memburu nama-nama informan yang tercantum di sana. Itu adalah masalah yang serius,” kata Gibbs. Konon, WikiLeaks masih memiliki sedikitnya 15.000 dokumen rahasia yng juga segera diterbitkan.

Read More…

Posted by: hagemman | August 1, 2010

BEBER VIDEO KEJAHATAN PERANG

Salah satu video menghebohkan yang dirilis situs WikiLeaks adalah Collateral Murder. Kengeriannya begitu nyata. Menggambarkan kebrutalan pasukan AS di kancah perang Iraq.

Video itu menunjukkan suasana kokpit Apache, helikopter pengangkut pasukan AS. Mereka menyerang warga sipil secara membabi buta. Belasan orang tewas, termasuk dua kru kantor berita Reuters, Saaed Chmagh dan Nameer Noor-Eldeen. Bahkan, pada video tersebut juga tampak bahwa dua anak yang ada dalam sebuah mobil yang akan mengevakuasi korban ikut terluka.

Reuters sempat berang. Pada Agustus 2007, atas nama UU Kebebasan Informasi, mereka minta rekaman asli dari kamera Apache tersebut. Namun, mentok. Pemerintah AS menyita video helikopter tersebut dan berjanji menginvestigasi kasus itu. Tapi, janji tersebut tak kunjung terpenuhi hingga kini.

Ternyata, pada 5 April 2010 video itu bocor ke WikiLeaks. Tampaklah kebrutalan serdadu Paman Sam yang memberondong orang-orang yang sedang bercengkerama di tengah jalan. Beberapa di antara mereka memang terlihat membawa senjata atau setidaknya sesuatu seperti senjata. Namun, orang-orang itu tidak sedang bersiaga perang.

Begitu brutalnya serdadu tersebut, Saeed yang berusaha berlindung pun diberondong dengan tembakan. Beberapa saat kemudian, ketika dirasa sudah aman, warga sipil itu keluar. Datanglah mobil van yang akan menolong. Ternyata, mobil tersebut juga diberondong tembakan. Dua anak di dalamnya terluka.

Read More…

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.