Posted by: hagemman | April 10, 2010

DARI E BAY, 4 BOBS, CRYSTAL, NIFUSI, SAMPAI NO KANDUI

“Yeah, ini memang taman bermain bagi surfer (peselancar),” kata Jay Seeber pada suatu siang yang cerah di Pulau Nyang-Nyang, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Seeber yang berasal dari Australia langsung jatuh cinta kepada eksotisme alam dan deburan ombak di sepanjang garis pantai Kepulauan Mentawai saat datang ke sana pada 2007. Karena itu, dia pun memutuskan memiliki resor di salah satu bagian di pulau tersebut.

Bersama rekan bisnis lokalnya, Seeber membangun sebuah resor sederhana setelah mengunjungi Pulau Nias, Sumatera Utara, untuk menyalurkan hasratnya berselancar. Tetapi, menurut dia, bukan persoalan mudah untuk berinvestasi di Pulau Nyang-Nyang. Ada sejumlah hambatan birokrasi dalam pemerintahan yang harus dia hadapi.

Namun, keberagaman ombak yang menggoda mengalahkan kekesalannya pada berbagai hambatan itu. “Ada banyak sekali ombak yang sangat bagus,” katanya mengenai Mentawai dan soal alasannya membangun resor di situ.

Seeber lalu bercerita soal beragam nama ombak yang dilekatkan pada ombak-ombak yang tersebar di seluruh bagian kepulauan dan biasanya mencapai kondisi terbaiknya untuk dinikmati pada Juni – Agustus. “Ya, ombak-ombak itu dinamai oleh para peselancar. Saya ke sini, nama-nama ombak itu sudah ada. Nama-nama itu diberikan melihat karakter ombaknya,” kata Seeber yang memilih mendirikan resornya di depan ombak bernama E Bay.

Maka, tersebutlah sejumlah nama ombak, seperti John Candy, Hide Aways, Beng-Beng, McDonalds, Rifles, dan E Bay. “Dinamakan ombak John Candy karena bentuk ombaknya yang gemuk seperti John Candy (komedian dan aktor asal Kanada yang bertubuh besar),” ujar Seeber.

Beragam ombak

Nama-nama ombak di Pulau Nyang-Nyang itu antara lain Nifusi, Bank Vaults, Pit Stop, E Bay, dan Beng-Beng. Dinamakan Beng-Beng, kata Seeber, karena air di sekitar lokasi itu warnanya coklat menyerupai warna penganan ringan dari coklat bernama sama.

Situs http://www.wannasurf.com yang menuliskan Beng-Beng sebagai Bang-Bang menyebutkan, karakteristik ombak itu sebaiknya hanya dijajal oleh peselancar berpengalaman. Sifat ombak kiri Beng-Beng dengan tantangan bebatuan karang dinilai memiliki kualitas empat bintang dalam skala maksimal hingga lima bintang.

“Kalau Bank Vaults karena ombak itu sifatnya mengunci, seperti ruang penyimpanan di bank yang terkunci,” kata Seeber. Sedangkan, nama Pit Stop karena lokasi itu merupakan tujuan pertama tiba setelah berlayar dari Desa Muara Siberut, ibu kota Kecamatan Siberut Selatan, yang mengacu pada istilah serupa di balapan Formula 1. E Bay mengacu pada nama emerald (zamrud), yang menurut Seeber bisa berarti pula huruf E jika titik itu dilihat dari atas.

Sementara itu, di Pulau Kroniki ada ombak bernama Burger World dan McDonalds. Di Pulau Muaro Limo ada ombak bernama Eret dan Portugal. Sementara di Pulau Karang Majat ada ombak-ombak dengan nama 4 Bobs, Rifles, John Candy, Karambak Left, Pistol, Resort Black, Crystal, dan No Kandui.

“No Kandui itu maksudnya no one can do it, tetapi saya sudah pernah main di sana,” kata Seeber sembari tersenyum. Adapun Rifles yang kualitasnya dinilai berbintang lima, dan sebaiknya hanya dijajal oleh peselancar berpengalaman, memiliki sifat ombak yang berkecepatan tinggi.

Di Pulau Mainuk, ada ombak bernama Aduai. Di Pulau Masilok terdapat ombak-ombak bernama Nafi Rise, Masilo Wave, dan Andy Right.

“Soal penamaan kadang-kadang beda,” kata Andy “Phocay” Subianto, salah seorang peselancar lokal.

Andy menamakan salah satu ombak di Masilok dengan namanya, Andy Right, dan ombak lain dengan nama kakaknya, Nafi, yang ditambahi akhiran Rise. “Nama itu untuk menghormati almarhum kakak saya,” kata Andy sembari menyebut penamaan ombak biasanya didahului oleh lomba antar sesama peselancar untuk menaklukkan ombak tersebut.

Pasalnya, dengan karakteristik beragam, dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tantangan berupa batu-batu karang yang mengancam, berselancar di Kepulauan Mentawai jelas bukan perkara gampang. “Saya sudah berulang kali cedera,” kata Andy sembari menunjukkan sejumlah bekas luka terbuka di bagian kepala dan sekujur badannya akibat menghantam batu karang saat digulung ombak.

Ombak yang disebut Seeber dan Andy semuanya berada di wilayah Pulau Siberut, salah satu gugusan pulau utama selain Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Situs http://www.wannasurf.com  memetakan, ada pula sejumlah nama ombak lain di Pulau Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan.

Di Pulau Sipora adalah Scarecrows, Iceland, Telescopes, Suicides, Arik, Seven Palm Point, Hollow Trees, Lances, Secondary, dan Beach Breaks. Sedangkan di Pulau Pagai Utara ada Silabu, Macca’s, Macca’s Right, Bommie Peak, Waterfalls, dan Gilligans. Di Pulau Pagai Selatan adalah Thunders, Rags, Sibigau, Screamers, Turuns, Kimbies, dan Hole.

Tujuan peselancar

Lokasi berselancar di Kepulauan Mentawai, yang kini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia, baru “ditemukan: pada 1990-an. Sejumlah peselancar terbaik nasional seperti Rizal Tanjung dan sejunmlah surfer juara dunia seperti Kelly Slatter dan Andy Irons, imbuh Andy, kerap bertandang ke Kepulauan Mentawai dan menjadi lawan tandung bagi peselancar lokal.

“Sebelum tahun 1990 tidak ada orang main surfing disini,” kata Andy.

Andy yang kini berusia 23 tahun dan mulai berselancar sejak usia 12 tahun itu mengingat awal mulanya ia belajar berselancar dari papan milik pamannya yang juga mendapatkan papan itu dari seorang turis.

“Waktu itu turis tersebut yang juga berprofesi sebagai dokter mengatakan Mentawai akan segera menjadi tujuan berselancar. Saya belajar dari papan pinjaman itu,” kata Andy.

Beragam gelar juara dunia sudah dikoleksi Andy, bersama sejumlah peselancar dari Kabupaten Mentawai lainnya. Namun, keinginan untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan tingkat nasional dan lokal terpaksa disimpan karena ketiadaan biaya.

Bahkan, kesempatan berlatih yang idealnya dilakukan sekali dalam sepekan pun harus diurungkan. Pasalnya, biaya menuju tempat latihan dari Desa Muara Siberut setidaknya butuh ongkos hingga Rp 700.000 untuk membeli bahan bakar guna mengoperasikan kapal bermesin 40 PK.

Jika sudah demikian, Andy dan kawan-kawan terpaksa harus menunggu berbulan-bulan untuk menumpang dengan wisatawan yang hendak mengunjungi pulau-pulau untuk berlatih.

Malgorzata Drewa, salah seorang pengunjung asal Polandia, yang menikmati aktifitas snorkelingf di Pulau Nyang-Nyang mengatakan, atmosfer pulau-pulau itu membuat dia merasa sangat nyaman dan santai. “Kepulauan Mentawai sekarang menjadi tujuan favorit saya di Indonesia, bukan hanya karena keindahan pulaunya, tetapi juga karena atmosfer kehidupannya yang asyik,” kata Malogarzata.

Tetapi, itu tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan berlatih bari para peselancar. Dedi, seorang pembina olahraga selancar, mengatakan, ia bahkan kerap harus meminta sumbangan dari warga untuk menutupi biaya mengikuti kejuaraan.

“Memang kasihan anak-anak itu, mereka (peselancar) bagus, tetapi tidak ada yang memerhatikan,” kata Junaidi, pemilik rumah makan dan kios telekomunikasi di Desa Muara Siberut.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Propinsi Sumbar Burhasman mengatakan, perhatian pada olahraga selancar memang belum bisa diberikan pemerintah. “Karena surfing, seperti yang ada di Mentawai itu, kan (olahraga) minat khusus,” katanya.

Kepala bappeda Kabupaten Kepulauan Mentawai Tarminta menyebutkan, pengembangan industri wisata dan olahraga selancar di Mentawai masih terbentur beragam persoalan yang kompleks. “Kita harapkan para pelaku industri wisata ini berusaha dengan persaingan yang sehat, dan inilah yang sampai sekarang belum bisa dicapai komitmennya,” kata Tarminta.

Dia menambahkan, sejumlah regulasi lokal seperti Perda Kabupaten Kepulauan Mentawai Nomor 16 Tahun 2002 tentang perlindungan atas pengelolaan kawasan wisata belum sepenuhnya bisa dijalankan.

Sumber  :

Taman Bermain Peselancar Dunia, Ingki Rindaldi | Kompas, 10.04.2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: