Entah apa yang ada di benak para pemilik perusahaan di Indonesia ketika menjual perusahaan mereka kepada pihak asing. Sekadar perhitungan bisnis ? Penjualan Cadbury, perusahaan yang dikenal sebagai produsen cokelat dari Inggris, kepada Kraft, perusahaan makanan ringan Amerika Serikat, setidaknya mengingatkan kepada para pemilik perusahaan bahwa ada hal lain yang patut diperhitungkan sebelum melepas kepemilikannya kepada pihak asing.
“ Ini sangat memalukan. Tidak masuk akal. Cadbury adalah sejarah dan cagar budaya Inggris. Cadbury bukan sekadar pabrik, tetapi juga keluarga. Saya sedih. Saya sangat sedih, “ kata Davic Dusan (84), mantan pekerja Cadbury yang bekerja di perusahaan itu selama 35 tahun sejak 1949, menyusul penjualan Cadbury ke Kraft, 19 Januari lalu, seperti dikutip BBC.
Sontak ketika penjualan tersebut jadi dilaksanakan, banyak komentar warga Inggris yang kecewa dengn penjualan itu. Komentar di media massa, baik majalah, koran, maupun internet, sangat ramai. Umumnya mereka merasa kecewa dengan penjualan perusahaan yang sangat bersejarah itu.
Perundingan penjualan ini sendiri cukup a lot, membutuhkan waktu panjang sebelum terjadi kesepakatan. Selama perundingan itu pula terjadi protes warga. Umumnya mereka berharap agar perusahaan itu tidak dijual karena telah menjadi ikon nasional. Bahkan, generasi penerus dari keluarga pendiri perusahaan itu pun kecewa dengan penjualan tersebut.
“ Kraft tidak akan memahami sejarah perusahaan ini, “ kata Felicity Loudon, salah satu keturunan dari George Cadbury, generasi awal Cadbury, mengomentari penjualan perusahaan bernilai 19,5 miliar dollar AS itu.
BBC dalam salah satu pemberitaannya menyebutkan, kesedihan dan kemarahan muncul menyusul penjualan perusahaan itu. Sda nostalgia, tradisi, hingga peninggalan budaya di dalam Cadbury. Diskusi di internet pun sampai menyentuh hal-hal yang remeh-temeh, seperti kekhawatiran konsumen bila Cadbury mengubah resepnya alias tidak khas Inggris lagi menyusul penjualan itu.
Bagi warga Inggris, Cadbury memang bukan sekadar entitas bisnis semata, tetapi juga telah menjadi salah satu ikon yang menjadi kebanggaan warga Inggris sejak perusahaan itu didirikan pada tahun 1824 oleh John Cadbury di Birmingham. John, yang memulai usahanya menjual berbagai jenis minuman, akhirnya pada tahun 1842 hanya menjual minuman cokelat.
Usahanya makin maju. Ia kemudian membuka kantor di London. Ketika di London inilah Cadbury mendapat kepercayaan dari Ratu Victoria untuk memasok kebutuhan cokelat Istana. Sayangnya, enam tahun kemudian John sakit. Kemudian ia meminta kedua anaknya, George dan Richard, untuk meneruskan usahanya itu. Di tangan keduanya Cadbury melakukan ekspansi.
Di tangan keduanya pula perusahaan ini berkembang pesat. Pabrik dipindahkan dari Kota Birmingham ke tempat yang lebih luas di selatan kota itu. Tempat ini kemudian dikenal dengan Bournville. Inovasi teknologi dan resep terus dilakukan. Banyak sekali jenis-jenis produk berbasis cokelat dihasilkan. Salah satunya adalah produksi susu cokelat pada tahun 1897.
Pada Perang Dunia I (1914-1918), sebanyak 2.000 karyawan Cadbury bergabung dalam angkatan perang. Cadbury juga mendukung mereka dengan mengirim selimut, buku, dan cokelat bagi prajurit perang.
Perusahaan itu juga menambah subsidi pemerntah bagi keluarga yang ditinggalkan oleh anggota keluarganya yang lain untuk bertempur di medan perang. Seusai peperangan, Cadbury mempersilahkan para pekerja yang ikut perang untuk bekerja kembali ke perusahaan.
Pasca-Perang Dunia I mereka kembali mengembangkan binisnya. Perdagangan cokelat ke luar negeri terus meningkat. Mereka membuka cabang di luar negeri untuk pertama kalinya di Hobart, Tasmania, Australia.
Pada Perang Dunia II (1939-1945), Cadbury juga mendukung Pemerintah Inggris. Beberapa bagian dari pabrik cokelat digunakan untuk produksi alat-alat perang, seperti suku cadang senjata dan tempat duduk untuk pilot pesawat tempur. Lapangan sepak bola dibajak dan ditanami tanaman pangan untuk memasok kebutuhan pangan prajurit. Ambulans milik mereka dikerahkan untuk menolong korban perang. Cokelat menjadi bagian dalam ransum tentara.
Setelah Perang Dunia II, Cadbury kembali meneruskan ekspansi perusahaan. Perusahaan ini dikenal bukan hanya sebagai perusahaan cokelat, tetapi juga dikenal sebagai perusahaan permen terbesar di dunia. Pada tahun 2006, perusahaan ini membukukan penjualan produk dengan nilai setidaknya 15 miliar dollar AS. Mereka mempekerjakan 70.000 pegawai di seluruh dunia.
Banyak kenangan yang masih diingat oleh para keturunan keluarga pekerja Cadbury. George Cadbury dikenal dengan kebijakan melarang para wanita meninggalkan anak-anaknya. Ia membuat aturan perusahaan, wanita yang menikah harus keluar dari pekerjaan. Setiap wanita yang menikah akan diberi Injil dan bunga anyelir sebagai hadiah pernikahan.
Melihat sebagian dari sejarah Cadbury itu, maka sangat wajar bila warga Inggris, khususnya Birmingham, merasa memiliki perusahaan itu. Meski Cadbury masih tetap di Inggris, peralihan kepemilikan itu meninggalkan perasaan sedih di kalangan warga Inggris.
“ Ada jalinan emosional yang kuat antara saya dan Cadbury. Saya dilahirkan dan dibesarkan dengannya. Keluarga Cadbury membangun Desa Bournville sehingga warga Birmingham memiliki kesehatan yang baik. Saat kesepakatan penjualan Cadbury merupakan hari yang sangat menyedihkan bagi kami, “ kata Alan Gardner (70), yang kakeknya pada 1908 bekeja di Cadbury. Setelah kakeknya, ibu dan ayah mertuanya juga bekerja di Cadbury.
Sekali lagi, Cadbury bukan hanya sebatas entitas bisnis, tetapi menjadi “bendera” Inggris yang berkibar dimana-mana, dari mulai toko kecil di pinggir jalan, mal, hingga kios-kios di bandara internasional melalui produk-produk mereka. Tak beda dengan ketenaran Angkatan Laut Inggris di medan perang, bedanya Cadbury tenar di medan kuliner.
Cadbury juga telah menjadi jembatan budaya melalui lidah-lidah para penggemar cikelat di dunia. Sangat wajar bila warga Inggris kecewa dengan penjualan perusahaan yang telah berusia 186 tahun dan menjadi cagar budaya.
Selama ini Cadbury telah menjadi ikon bagi warga Inggris. Ikon yang membuat warga Inggris bangga. Dalam ranah kebangsaan, ada ketidakrelaan warga Inggris ketika ikon nasional mereka berpindah tangan ke negara lain. Sekali pun itu “hanya” sebuah perusahaan cokelat. Nasionalisme dalam bentuk kebanggaan memiliki perusahaan itu ada di dalam hati warga Inggris.
Sumber :
Ikon Nasional Dalam Sepotong Cokelat, Andreas Maryoto | Kompas, 06.02.2010


