Tiga puluh tiga tahun lalu, Silvia Monica Quintela yang sedang hamil diculik oleh pasukan keamanan Argentina dan menjadi seorang desaparecida, korban yang hilang pada masa kediktatoran militer. Selama ini, suami Silvia, Abel Pedro Madariaga, mencari anak mereka.
Setelah puluhan tahun, Madariaga akhirnya menemukan putranya.
“ Saya tidak pernah berhenti berpikir saya akan menemukan dia, “ kata ayah berusia 59 tahun itu, sambil memegang lengan putranya, dalam konferensi pers hari Selasa (23/2) di Buenos Aires.
“ Untuk pertama kalinya saya tahu siapa diri saya, “ kata sang anak (32), yang baru pekan lalu mengetahui identitasnya sebagai Francisco Madariaga Quntela.
Kelompok HAM Abuelas de Plaza de Mayo (Kaum Nenek Plaza de Mayo) percaya ada lebih dari 400 anak yang dicuri saat lahir dari perempuan-perempuan yang diculik dan dibunuh sebagai bagian dari “perang kotor” pemerintah diktator militer 1976 – 1983 terhadap pembangkang politik, yang menewaskan hingga 30.000 orang.
Madariaga dan istrinya, Silvia Quintela, adalah anggota dari Montoneros, sebuah kelompok kiri yang menjadi sasaran pasukan pembunuh pemerintah. Silvia – seorang dokter bedah berusia 28 tahun yang mengobati kamu miskin di pinggiran kota Buenos Aires – terakhir tampak sedang didorong masuk ke sebuah Ford Falcon oleh perwira-perwira AD berpakaian sipil saat menuju kereta api pada 17 Januari 1977. Waktu itu Silvia sedang hamil empat bulan. Dia lenyap, menjadi satu dari ribuan desaparecidos.
Adapun Madariaga lolos dan melarikan diri ke pengasingan untuk menghindari nasib serupa.
Kembali ke Argentina yang demokratis tahun 1983, Madariaga bergabung dengan Abuelas de Plaza de Mayo sebagai anggota lelaki pertama dan menjadi sekretaris organisasi para nenek itu. Dia melobi pemerintah menciptakan sebuah database DNA dan mengembangkan strategi untuk membujuk kaum muda yang ragu akan identitas mereka untuk melakukan uji DNA.
Sementara itu, nasib anaknya masih tetap misteri.
Ternyata Silvia Quintela melahirkan seorang putra pada Juli 1977 di penjara di pusat penyiksaan Campo de Mayo. Menurut tahanan yng masih hidup, bayi itu diambil keesokan harinya dan Silvia tak lama kemudian menghilang. Pasangan itu berencana akan menamai anak mereka Francisco.
Seorang perwira intelijen, Victor Alejandro Gallo, membawa bayi itu pulang dan memberikan kepada istrinya, Ines Susana Colombo. Mereka menamainya Alejandro Ramiro Gallo dan tidak pernah menceritakan bahwa dia diadposi.
Anak muda itu merasa berbeda dengan saudara-saudaranya, dan ketika keraguannya meningkat, dia menanyakannya kepada ibu angkatnya.
Tanggal 3 Pebruari, anak muda itu dan Colombo mendatangi Abuelas de Plaza de Mayo dan menceritakan kisah mereka. Uji DNA dilakukan esok harinya, dan hasilnya tiba pekan lalu. Francisco menjadi cucu ke-100 yang ditemukan para nenek itu.
“ Selama ini kadang-kadang saya bertanya untuk apa hidup, “ kata Abel Madariaga dengn bergetar. “ Memeluknya untuk pertama kali rasanya seperti sebuah lubang di jiwa saya tertutup.” Jika demikian bagaimanakah akhir kisah nyata nan mengerikan di negara kita, sejumlah aktivis yang hilang sampai kini dalam era Soeharto ?
Sumber :
Francisco Bertemu Ayah | Kompas, 25.02.2010


