Saya berpikir bangsa kita adalah bangsa pecinta binatang dan sekaligus amat cerdas menganalogikan fenomena yang terjadi. Ada cicak, ada buaya, dan sekarang gurita. Cicak melambangkan ketidak-berdayaan melawan buaya yang sangar. Sementara gurita melambangkan belitan tentakel untuk menjangkau apa pun yang dikehendaki.
Buat fenomena terakhir, George Junus Aditjondro meluncurkan bukunya dari Yogyakarta nan adem. Bak meteor di siang hari, tak terlihat mata telanjang tapi ledakannya membahana menerpa jagat kekuasaan republik ini. Dan SBY pun merasa gerah.
Hanya satu hal yang kita sayangkan adalah tampaknya dalam paruh kedua tahun 2009 ini, sikap dan tanggapan SBY kian sensitif dan tidak mencerminkan ke-eleganan seorang kepala dan pemimpin negara. Sikap dan tanggapan penguasa yang mengingatkan kita semua dengan nuansa kental serta bau busuk era Orde Baru.
Pepatah bijak mengatakan siapa pun yang berada di atas sana akan diterpa oleh angin. Tak terkecuali seorang SBY. Ia akan diterpa angin kesana-kemari. Mestinya sikap dan tanggapan SBY harus mencerminkan ketrengginasan, ketegasan, juga kebesaran-hati.
Percayalah, bangsa Indonesia hari ini amat berbeda dengan bangsa Indonesia pada era Orde Baru. Hari ini bangsa kita adalah bangsa yang cerdas. Mampu memilah mana yang benar, mana yang salah. Dengan bersikap dan memberikan tanggapan mengawang seperti yang dilakukan SBY minggu lalu ; sesungguhnya malah akan mencederai persepsi dan harapan rakyat yang selama ini telah baik terbangun.
Secara strategi adalah lebih menguntungkan, bila sang gurita ‘dilawan’ dengan buku sanggahan. Atau tidak ditanggapi dan ini yang terbaik - bak anjing menggonggong kafilah berlalu. Tapi bukan dengan tanggapan yang pada akhirnya merefleksikan kekuasaan ‘melawan’ yang tak berkuasa. Seperti hal yang terjadi selama ini, pemerintah memberangus buku-buku yang dianggap mengganggu ketertiban umum. Jika itu lagi-lagi terjadi, kita dapat katakan bahwa kita semua malah setback alias melangkah ke belakang, kembali pada saat jaman Belanda kolonial ketika paham rust en orde dikedepankan.
Kita semua berkeyakinan bahwa SBY tetap ada dalam sebagian besar hati rakyat Indonesia. Bagi seorang SBY menjadi gusar, prihatin, dan sedih adalah amat manusiawi. Kita semua paham. Tapi kita tidak mengharapkan seorang SBY ‘menciptakan’ jenis binatang lain untuk memangsa sang gurita …


