Harapan kita bersama-lah yang menopang republik ini. Maka ketika duet pasangan SBY-Boediono resmi dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden untuk periode 2009 – 2004, kendati amat seremonial dan berjarak ; kembali kita semua memiliki harapan yang besar untuk kehidupan dan penghidupan yang lebih baik di hari esok.
Kendati disana-sini ada suara pro dan kontra soal kabinet yang dibentuk. Dan jika kita memandang suara kontra juga sebagai bentuk ekspresi kepedulian terhadap negara dan bangsa ; maka kita semua boleh meyakini bahwasanya kita semua adalah satu. Satu dalam makna demi untuk keberlangsungan pemerintahan dimana kita semua eksis di bawah pengayomannya.
Kini yang menjadi masalah, ketika harapan besar itu diusung – banyak dari diri kita yang tidak memahami bahwa harapan hanya bisa ditransformasikan menjadi keberhasilan, melalui kepercayaan diri, kerja keras, dan itikad baik.
Bisa jadi kita selalu kurang percaya diri, walau dunia mengakui peran vital Indonesia. Kekurangan percaya diri sistemik yang berhulu pada ketiadaan pengarusutamaan rasa kebangsaan, yang mampu memenuhi seluruh ruang dan relung kehidupan serta penghidupan kita sehari-hari. Memang sudah ada rasa kebangsaan itu, tetapi sayang baru sebatas arti sempit dan sesaat ketika tim bulutangkis kita berlaga di event internasional atau ada produk budaya kita yang dibajak negeri jiran.
Kerja keras. Rasanya kita semua adalah produk doktrin gemah ripah loh jinawi selama lebih dari 5 dekade ; tanpa ada pencerdasan bahwa kita sesungguhnya hidup di atas ring of fire. Yang artinya kita harus bekerja lebih keras lagi serta lebih cerdas agar negara dan bangsa kita dapat tetap survive. Yang bukan karena dampak bencana alam semata, melainkan juga tetap dapat berdiri tegak menahan hempasan globalisasi dalam bidang apa pun.
Soal itikad baik adalah kemutlakan yang wajib buat diwujudkan. Kita sebagai bangsa memiliki kecenderungan meninggalkan itikad baik dan menggantikannya dengan sikap paranoid buat hal apa pun. Itu khusus terjadi dalam ranah non materi. Tapi sebaliknya dalam ranah materi, kita nyaris tersandera sepenuhnya oleh negara-negara maju sebagai komponen-komponen yang bisa seenak perut dibentuk dalam sebuah laboratorium raksasa pemasaran berpotensi 230 juta jiwa. Percaya atau tidak, handphone paling canggih di dunia lebih mudah ditemui secara merata di republik ini, ketimbang ditemui di negara-negara maju sekali pun.
Seorang bijak bilang, yang lalu biarkanlah lalu ; mari kita perbaiki demi untuk hari ini dan esok. Ketika kita sadar bahwa kita salah jalan, adalah jauh lebih baik ketimbang kita merasa berbenar diri. Dan akan jauh lebih indah dan beradab, ketika kita semua mengoreksi diri lalu melangkah dengan mengedepankan keindonesiaan kita.
Oleh sebab itu jika SBY-Boediono memimpin negara dan bangsa ini atas ijin dan sepengetahuan Sang Khalik serta sesuai dengan harapan besar yang kita miliki terhadap diri mereka berdua – konsekuensinya kita amat sangat berkewajiban untuk mendukung.
Sebab bagaimana pun juga SBY-Boediono tidaklah mungkin bekerja sendirian, di atas sana … Lagian mereka berdua bukanlah the master.


