Posted by: hagemman | September 18, 2009

KEARIFAN LOKAL SELAMATKAN KAMPUNG DUKUH

kearifan lokal 01Sutarman (64) sedang duduk di ruang tengah ketika tiba-tiba rumahnya berayun-ayun. Sadar terjadi gempa, lelaki tua warga adat Kampung Dukuh, Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, itu langsung ke luar rumah.

“ Dari luar, semua rumah saya lihat juga berayun naik-turun selama sekitar satu menit, “ tutur Sutarman, menceritakan saat gempa yang terjadi itu.

Rumah-rumah panggung di Kampung Dukuh masih tetap berayun setelah gempa berhenti, tetapi tidak lama.

“ Namun, tidak ada satu rumah pun yang rusak setelah gempa itu. Padahal, gempa itu menurut saya sudah besar, “ kata Sutarman. Struktur bangunan rumah di Kampung Dukuh yang terdiri dari sambungan kayu-kayu memang membuat bangunan tetap kokoh berdiri walaupun terjadi gempa. Bangunan rumah masih terus berayun setelah gempa, tetapi itu hanya konsekuensi dari struktur bangunan yang mengaitkan satu kayu dengan kayu lainnya.

Hal yang kontras terlihat di sekitar Kampung Dukuh. Tak sedikit rumah bertembok bata di Kecamatan Cikelet rusak. Kalaupun rumah tidak roboh, temboknya retak-retak. Di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, belasan keluarga harus meninggalkan rumah dan tinggal di tenda darurat di pinggir jalan karena rumah mereka ambruk atau tak bisa dihuni lagi.

kearifan lokal hindarkan warga adat dari dampak gempaKuncen (juru kunci) Kampung Dukuh, Lukman Hakim, mengatakan, kerangka rumah warga adat memang hanya menggunakan kayu dengan dinding anyaman bambu (gedek) serta atap anyaman ilalang.

“ Itu adalah tradisi turun-temurun Kampung Dukuh. Warga adat yang masih mau tinggal di wilayah adat hanya boleh membangun rumah seperti itu, “ kata juru kunci ke-14 Kampung Dukuh itu.

Secara turun-temurun diajarkan pula, rumah panggung dengan tulang kayu, dinding anyaman bambu, dan atap anyaman ilalang itu merupakan cara warga adat untuk hidup sederhana.

“ Bentuk dan tipe rumah di sini hampir sama. Itu mengajarkan kepada kami untuk tidak saling iri karena semua sama sederhananya. Di dalam rumah juga tidak banyak isinya, “ tutur Lukman.

Di Kampung Dukuh terdapat sekitar 40 rumah dengan jumlah warga sekitar 300 jiwa. Rumah-rumah itu dibangun searah menghadap timur dengan atap mengarah ke utara dan selatan. Hanya pintu-pintu yang boleh dibuat di arah mana saja.

Kearifan lokal yang sudah di pegang warga adat sejak tahun 1689 itu ternyata tak saja mengajarkan kesederhanaan hidup bagi masyarakat, tetapi juga menghindarkan mereka dari dampak gempa.

Di tempat lain, gempa telah menewaskan puluhan orang dan merusakkan puluhan ribu rumah.

Kepala Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung (ITB) I Wayan Sengara mengatakan, memang sangat masuk akal kalau rumah warga Kampung Dukuh tak rusak ketika terjadi gempa.

“ Rumah panggung dengan dinding anyaman bambu dan atap ilalang memang ringan sehingga ketika terjadi gempa, rumah itu lebih sedikit menyerap getaran dibandingkan dengan rumah tembok, “ kata Wayan.

Rusaknya rumah tembok, ujar Wayan, selain karena lebih berat, juga karena konstruksi tidak bagus.

“ Rumah tembok yang roboh karena gempa umumnya tidak memiliki ikatan-ikatan beton bertulang. Kalaupun ada ikatan-ikatan, cara mengikatnya tidak betul,” kata Wayan.

Bagi wilayah pedesaan dengan kultur warga yang sederhana, rumah panggung masih cocok. Untuk wilayah perkotaan yang lebih modern, konsep rumah panggung sulit diimplementasikan.

“ Jadi, di wilayah perkotaan yang termasuk daerah rawan gempa, seperti Jawa Barat, tidak jadi soal warga membangun rumah bertembok asal konstruksinya pas, pasti aman. Para arsitektur bisa membantu, “ kata Wayan.

Sumber :

Kearifan Lokal Hindarkan Warga Adat dari Dampak Gempa, A. Handoko
Kompas, 14.09.2009
Foto : A Handoko


Responses

  1. memang sekali lagi yg namanya KE ARIFAN LOKAL,yaa terbukti arif karena d mereka sudah buktikan turun temurun,mereka membuat/membangun sesuatu dengan kepekaan bahasa bahasa alam (yg selalu memadukan akal &perasaan).aplagi klu kita mau menggali lebih dlm tentang kearifan lokal tentang tata wilayah,tata wayah,tata lampah dgn bhs sekarang tata ruang dgn lbh dri 3 dimensi. yg disebut TRI TANGTU di buana.sungguh menakjubkan.krena basisnya harmoni dgn alam,sebagai sesama ciptaaNYA.kita ptut blajar dri nenek moyang kita dulu. IT nya mreka dah punya dan canggih,indikator maupun bhsanya FLORA&FAONA & tanda 2 alam.jangan malu2 toh leluhur kita juga

  2. helo…ku asli anak dukuh, ku masih kulih d perguruan tinggi bogor. dukuh masih primitip meskipun begitu anak-anaknya tetap semangat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi seprti kaka saya di kedokteran ugm yogyakarta, seta bnyak lagi keturunan dari dukuh jadi pejabat di lua kota. untuk itu jangan pernah menyerah teman…cayoo .

  3. yang di gambar itu adalah teman – teman saya waktu ngaji namanya:ramdi, irpan, gancleng,dll. haiii….teman-taman.

  4. [...] Pasted from <http://hagemman.wordpress.com/2009/09/18/kearifan-lokal-selamatkan-kampung-dukuh/&gt; [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: