Posted by: hagemman | September 5, 2009

IA ADA DI BUKIT PEMBARISAN

macan tutul 01Temuan besar diperoleh LSM Peduli Karnivor Jawa (PKJ), LSM Raksa Bumi Citapen, dan Universitas Kuningan (Uniku) serta didukung oleh Yayasan Mukti Mandiri (YMM). Mereka berhasil mengabadikan macan tutul yang selama ini disebut-sebut sudah punah dalam sebuah potret.

Macan tutul itu dijepret di Bukit Pembarisan, Kuningan Selatan. Berbekal temuan tersebut, mereka menduga bahwa macan tutul (Panthera pardus) masih eksis di kawasan itu. Para peneliti tersebut mempresentasikan temuan mereka di Graha Pena Cirebon pada Selasa malam (1/9).

Didik Raharyono Ssi dari PKJ mengungkapkan, salah satu misi penelitian tersebut adalah membuktikan eksistensi harimau Jawa yang diduga telah lama punah. Berdasarkan pengakuan warga yang pernah melihat karnivor besar itu, membuat Bukit Pembarisan dijadikan sasaran penelitian.

“ Menurut pengamatan kami di Bukit Pembarisan, wilayah Kuningan Selatan, karnivor besar memang hidup disana, “ katanya.

Karena berupaya mendalami asumsi tentang adanya karnivor besar di Bukit Pembarisan, pertengahan 2009, Didik dan rekannya memulai penelitian di hutan Desa Citapen, Kecamatan Hantara. Penelitian diawali dengan investigasi ke masyarakat mengenai karnivor besar yang sering terlihat secara tidak sengaja.

Setelah mendapatkan data yang cukup, penyisiran habitat dilakukan. Penyisiran tersebut melibatkan beberapa anggota. Yakni, Didik Raharyono Ssi dan Dewi Kurnianingsih SPd dari PKJ, Deni dan Edi Junaedi dari Uniku, serta Didik Uhadi dari Raksa Bumi.

Tim berhasil menemukan bukti adanya karnivor besar jenis macan tutul. Indikasinya adalah jejak kaki, kotoran, cakaran pada pohon, dan bulu mangsa. Setelah diteliti, bulu mangsa itu merupakan bagian rambut surili, lutung dan kijang.

“ Jejak macan tutul yang ditemukan berumur dua dan tiga hari. Tim kemudian memasang kamera trap di beberapa jalur yang diduga kerap dilintasi macan tutul. Umpan anjing dan daging kambing tak lupa ikut dipasang guna mengundang kehadiran karnivor, “ papar Didik.

Rupanya, rencana pengambilan gambar melalui kamera trap tidak berjalan mulus. Jasil yang diharapkan tidak kunjung tampak. Selain lokasi lintasan yang tidak bisa dipastikan, umpan yang ditawarkan tampaknya tidak menarik perhatian.

macan tutulPada tanggal 5 Agustus 2009, sebuah kamera berhasil mengambil gambar yang dinantikan. Tubuh seekor macan tutul yang melintasi infrared tertangkap kamera. Didik menjelaskan bahwa kamera trap baru dipasang sekitar dya minggu di antara waktu sebulan yang direncanakan. “ Berdasar penunjuk waktu, macan tutul tersebut terfoto pukul 22.13. Setelah diteliti, jenis kelaminnya jantan dengan panjang 80 sampai 90 cm dan tinggi 45 cm, “ paparnya.

Dengan bukti otentik melalui jepretan kamera trap itu, Didik yang telah 12 tahun bergumul dengan penelitian karnivor besar mengungkapkan, biasanya dalam sekawanan macan tutul terdapat empat hingga lima ekor anggota kelompok. Tapi, hingga saat ini, tim Didik belum bisa memetakan jumlah pasti populasi macan tutul di Bukit Pembarisan, Kuningan. “ Kami masih memerlukan penelitian lanjutan. Yang pasti, berdasar informasi dari masyarakat, ada banyak, “ katanya.

Bukit Pembarisan masuk dalam wilayah empat kabupaten. Yakni, Kuningan, Brebes, Ciamis, dan Cilacap. Dosen Fakultas Kehutanan Uniku Deni menerangkan, Bukit Pembarisan berpeluang besar dihuni karnivor besar. Sebab, daerah hutan di Bukit Pembarisan menyambung dengan hutan Gunung Slamet di Jawa Tengah.

Menurut dia, penemuan habitat macan tutul di hutan Desa Citapen secara langsung bersinggungan dengan lahan milik Perhutani yang sebagian telah siap dipanen. Bila tidak diantisipasi sejak dini, terutama oleh kalangan birokrat yang berwenang, hal tersebit akan berpotensi mengakibatkan konflik keterbatasan lahan.

“ Ujung-ujungnya, kalau lahan hutan terus digarap menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang tak berkesudahan, otomatis ruang gerak karnivor besar akan semakin tersudut. Satwa mangsa macan tutul akan langka. Kemungkinan besar, karnivor besar akan memangsa hewan milik penduduk, “ paparnya.

Selain di hutan Desa Citapen, menurut Deni, penyebaran karnivor besar di Kuningan juga terjadi di Cibinbin, Gunung Pojok Tilu, dan Gunung Bongkok. Pemanfaatan lahan hutan tentu tidak lepas dari aktifitas masyarakat setempat dalam mengelola berbagai hasil pertanian dan perkebunan.

Didik Uhadi dari Raksa Bumi Citapen ingin agar kawasan Bukit Pembarisan dimasukkan dalam zona ekosistem karnivor besar yang dilindungi. Pemerintah dan pihak terkait harus memikirkan kontribusi lain terhadap pemenuhan penghasilan masyarakat yang selama ini bergantung dari hutan. “ Eksistensi macan tutul terbukti ada. Maka, perlu ada reward pada masyarakat setempat agar pemahaman mereka untuk ikut melindungi satwa langka tersebut juga terbentuk dengan baik, “ jelasnya.

Didik menuturkan, persoalan pemburu tak kalah pelik. Saat memburu babi hutan atau bagong, mereka biasanya juga memburu kijang yang jadi mangsa macan tutul. “ Pemahaman untuk masyarakat setempat tak kalah penting dengan penemuan habitat macan tutil di hutan Desa Citapen. Kita tentu mesti menjaga habitat macan tutul agar jangan sampai dirusak, “ tegasnya.

Sumber  :

Dapat Potretnya saat Melintas di Bukit Pembarisan, Kuningan – M. Rona Anggie
Jawa Pos, 03.09.2009

Gambar : LSM Peduli Karnivor Jawa

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: