Posted by: hagemman | July 30, 2009

MASIH SOAL GULA

gulaKebutuhan gula secara nasional untuk rumah tangga dan industri saat ini 4,3 juta ton per tahun. Namun, produksi gula nasional saat ini 2,7 juta – 2,8 juta ton. Untuk mengatasi kekurangan, pemerintah melakukan impor. Ke depan, pemerintah diharapkan mendukung peningkatan produksi gula sehingga tidak impor.

Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Gula (Ikagi) Adig Suwandi mengatakan hal itu (25/7), pada diskusi seusai temu lapang di PT Gunung Madu Plantations (GMP), Kabupaten Lampung Tengah.

“ Peningkatan produksi gula di Indonesia dari perkebunan tebu di luar Jawa, khususnya Lampung, tidak terlalu bermasalah. Lampung bahkan mampu menyumbang 35 – 40 persen produksi gula nasional, “ ujarnya.

Produksi gula dari Pulau Jawa, lanjut Adig, yang sangat perlu diperhatikan adalah perlunya tata ruang areal budidaya tebu. Selain itu, pola tanam yang tepat dengan diimbangi kebijakan menarik bagi petani tebu.

Di Jawa, tata ruang untuk budidaya tebu tidak terlalu diatur. Kondisi itu membuat petani memiliki kebebasan dalam menggunakan lahan.

“ Ada baiknya petani bergabung dalam kelompok tani tebu sehingga konsolidasi lahan dan budidaya tebu dapat digarap bersama-sama dengan budidaya yang terkontrol, “ kata Adig.

Faktor lain yang juga harus diperhatikan adalah pola tanam. Saat ini, akibat petani tebu di Jawa membutuhkan dana cepat, para petani umumnya lebih suka menanam jagung setelah padi. Sementara itu tanaman tebu ditanam mulai bulan Juli atau Agustus.

Membina petani

Menurut Adig, kompetisi komoditas tersebut menjadikan pasokan tebu di beberapa pabrik gula menjadi berkurang. Dengan demikian, pabrikan gula di Jawa harus terus membina petani tebu untuk mau berbudidaya tebu secara benar.

“ Intinya kebijakan peningkatan produksi gula harus terus digalakkan, “ ujar Adig. Namun, kebijakan itu harus dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang melindungi harga gula dalam negeri sehingga tidak terlalu jauh dari harga gula impor.

Menurut Adig, petani akan tergerak menanam tebu apabila harga gula stabil dan memberi keuntungan bagi petani. Untuk itu, pemerintah juga harus mengendalikan secara ketat impor gula.

Dari sisi pabrikan, pemerintah harus bisa mendorong setiap pabrik gula di Jawa untuk bekerja efisien bagi peningkatan rendemen dan produktifitas gula hasil budidaya petani ataupun pabrikan.

Ketua Ikagi Priyono Basuki menambahkan, setelah belajar langsung di PT Gunung Madu Plantations, petani dan pengelola pabrik gula dapat melihat efisiensi yang terjadi di pabrik gula tersebut. Perusahaan perkebunan itu mampu memadukan praktik-praktik budidaya pertanian tebu yang baik. Demikian pula di sektor pabrik.

Menurut Priyono, belajar dari temu lapang tersebut, komitmen dan disiplin tinggi saat berbudidaya, memanen, dan menggiling mendorong perusahaan mampu menghasilkan tebu dengan rendemen tinggi sekitar 9,24 persen. Selain itu, pengelolaan pabrik yang efisien mampu menghasilkan produk gula berkualitas.

“ Saya kira semua pelaku gula harus belajar dari Gunung Madu, “  ujar Priyono.

Memang benar ucapan Priyono, keberhasilan PT Gunung Madu Plantations (GMP) menarik untuk kita simak. GMP untuk tahun 2009 ini optimis akan mencapai target produksi sebanyak 220.000 ton. Target produksi ini lebih besardari target tahun-tahun sebelumnya sehingga perusahaan mengimbangi dengan upaya-upaya budidaya dan pascapanen secara benar.

Manajer Umum dan Keuangan PT GMP Gunawarman mengatakan (28/7), sejak tahun 2006 hingga 2009 grafik produksi gula perusahaannya terus naik. Tahun 2007, PT GMP memproduksi gula konsumsi 196.000 ton. Tahun 2007, naik menjadi 198.000 ton. Tahun 2008, produksi gula 218.248 ton. Itulah mengapa untuk tahun 2009, PT GMP menargetkan 220.000 ton.

Kiat PT GMP menurut Gunawarman untuk mencapai produksi sebanyak itu, mereka mengatur ketepatan tata budidaya, tata angkut, dan perencanaan giling di pabrik gula. Dengan aset berupa pabrik gula berkapasitas giling hingga 14.000 ton tebu per hari, perusahaan mengatur supaya bahan baku tebu bisa dipasok tepat waktu dan dalam kondisi segar.

Dengan pengaturan tebang yang tepat, pada musim giling yang dimulai April 2009 dan direncanakan selesai Nopember 2009, rata-rata giling selama 4 bulan terakhir akan mencapai 13.500 ton tebu per hari.

Nah, sebagai ilustrasi terkait dengan produksi gula di Kabupaten Banyumas, Jawa tengah, cukup sulit untuk kembali mengembangkan perkebunan tebu. Karena ada beberapa masalah historis dan juga iklim sebagai penghambat. Itulah yang menyebabkan Pabrik Gula Kalibagor, yang berdiri sejak tahun 1839, akhirnya ditutup pada tahun 1995.

Mantan Kepala Unit Pelayanan dan Pengembangan Tebu Rakyat Inti, Achmad Wahyudi mengatakan (28/7), persoalan pola dan sistem pertanian tebu di Banyumas dan beberapa kabupaten di Jateng bagian selatan saat ini dihadapkan pada masalah menyempitnya lahan. “ kalau ada yang tanam tebu saat ini, umumnya ditanam di tegalan. Petani tetap menanami sawah dengan padi, “ katanya.

Sumber  :  Kompas, 28 & 29.07.2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.