Posted by: hagemman | July 5, 2009

EMIL SALIM : MENGOREKSI PASAR

mengoreksi pasarMekanisme pasar telah gagal menangkap isyarat lingkungan hidup dan lingkungan sosial serta semata-mata hanya bereaksi pada rangsangan dan kesempatan ekonomi. Hal ini terbukti sampai sekarang bahwa tak ada pasar untuk barang dan jasa lingkungan, seperti udara bersih, sungai jernih, dan hutan alami yang segar. Tak ada pula pasar untuk jasa kesehatan dan pendidikan bagi anak miskin. Maknanya pasar bereaksi cepat terhadap peluang ekonomi meraih laba, tetapi bungkam terhadap kebutuhan lingkungan hidup serta sosial. Akibatnya nyata lingkungan hidup semakin rusak dan kehidupan sosial semakin timpang dengan kemiskinan yang tak kunjung terkendalikan.

Dalam keadaan demikian, sangatlah penting pernan pemerintah mengoreksi ketimpangan peranan pasar dalam membangun masyarakat. Pembangunan yang didambakan masyarakat bukanlah semata-mata meningkatkan kemajuan ekonomi, tetapi juga kemajuan masyarakat dalam Tanah Air yang hijau lestari. Soalnya manusia bukan hanya insan ekonomi yang memenuhi kebutuhan peut, tetapi juga makhluk-sosial yang membutuhkan ikatan persaudaraan antarkelompok manusia dan manusia alami yang mendambakan perikehidupan alami yang bersih dan hijau menyegarkan. Hal ini semakin meningkat kelak manakala jumlah manusia kian beranjak dari 6 milliar (2000) menjadi 9 milliar (2100) dalam planet Bumi yang tidak bertambah besar.

Karena itu, tumbuh gagasam pembangunan berkelanjutan sejak Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro, Brasil (1992), yang dijabarkan lebih lanjut di Johannesburg, Afrika Selatan (2002). Garis kebijakan pembangunan ini mencakup keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkngan hidup dalam satu napas untuk dilaksanakan secara simultan. Pola pembangunan berkelanjutan ini memerlukan keterlibatan semua pihak dalam proses pelaksanaannya, yakni (1) pihak pemerintah, (2) kalangan pengusaha, dan (3) kelompok masyarakat madani. Ketiga unsur pembangunan ini menduduki fungsi yang berbeda denan sudut kepentingan yang berlainan, tetapi dalam derajat kesetaraan yang sama.

Dalam pola pembangunan ini, pemerintah memberi rangsangan bagi pengusaha dan kelompok masyarakat madani untuk maju berperan serta dalam pembangunan. Begitu pula pengusaha dan kelompok masyarakat madani mengambil prakarsa merintis kerja sama menunjang proses pembangunan berkelanjutan ini. Tujuannya agar mekanisme pasar yang tidak responsif terhadap pola pembanguan berkelanjutan bisa dikoreksi oleh usaha pelaku bisnis/pengusaha dan kelompok masyarakat madani.

Sebagi contoh nyata, Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) telah bekerja sama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mendorong investasi di pasar modal agar mengacu pada cara Sustaonable and Responsible Investment Index dengan nama SRI Kehati Indeks. Untuk tahun 2009 ini telah terpilih sebanyak 30 perusahaan sebagai anggota SRI Kehati Indeks. Dalam hal ini ada enam komponen yang dijadikan tolok ukur bagi peserta emiten ini, yaitu (a) pelestarian lingkungan, (b) pembangunan komunitas sosial, (c) tata kelola perusahaan yang baik, (d) prinsip ketenagakerjaan dengan pekerjaan yang layak, (e) prinsip perilaku bisnis usaha yang baik, dan (f) hak asasi manusia yang di terapkan disamping data ekonomi emiten.

SRI Kehati Indeks mencakup 30 saham emiten SRI yang memiliki kinerja yang baik atas enam komponen di atas disertai kinerja likuiditas dan keuangan yang baik serta pemilikan publik yang tinggi. Emiten indeks ini adalah yang memiliki total aset diatas Rp 1 triliun dan profit earning ratio positif. Secara berkala SRI Kehati melakukan penyesuaian emiten, seperti pembaruan jumlah saham yang beredar dan kejadian yang potensial mempengaruhi komposisi tiap saham dalam indeks. Pemutakhiran anggota saham dilakukan dua kali dalam setahun. Dengan demikian SRI Kehati Indeks menunjukan kinerja emiten dalam mewujudkan pola pembangunan berkelanjutan dan mencakup dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.

Yang menarik adalah bahwa prakarsa mewujudkan SRI Kehati Indeks adalah pihak BEI dan Yayasan Kehati, dua lembaga yang mandiri dari ikatan pemerintah. Kedua lembaga ini bekerja sama atas dasar cita-cita untuk mengoreksi kegagalan pasar dalam menampung isyarat lingkungan hidup dan lingkungan sosial.

Yayasan Kehati sudah berdiri 15 tahun sejak Januari 1994 sebagai lembaga penyandang dana nirlaba dan mandiri yang bertujuan memberikan dukungan dana kepada lembaga swadaya masyarakat yang menggalakan berbagai aktifitas pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Jadi ditengah-tengah kemelut debat tentang neoliberalisme dan ekonomi kerakyatan, kerjsa sama BEI Kehati ini merupakan contoh nyata dari usaha kemandirian masyarakat untuk mengoreksi kekurangan pasar untuk memasukan segi-segi lingkungan hidup dan lingkungan sosial agar menyatu dalam pembangunan ekonomi mewujudkan pola pembangunan berkelanjutan untuk membangun kesejahteraan rakyat.

Sumber : Mengoreksi Pasar – Emil Salim | Kompas, 26.06.2009


Leave a response

Your response:

Categories