Siapa yang akan menyelamatkan ekonomi dunia tahun ini ? Lewat tulisannya pada Kompas (3/7) Orin Basuki memaparkan bahwa negara-negara maju menganggap Asia telah banyak menyimpan uang dan kini saat yang tepat untuk membelanjakan dana itu. Cina, India, dan Indonesia diharapkan menjadi sang dewa penolong. Oleh sebab besarnya konsumsi rumah tangga pada ketiga negara ini yang dapat memicu pemulihan perekonomian kawasan dan akhirnya secara global.
Lantas apa manfaat dari tudingan itu bagi perekonomian kita ? Setidaknya, jika tingkat konsumsi rumah tangga di Cina serta India semakin menguat, Indonesia bisa berharap akan mendulang manfaat dari kenaikan ekspor pada Semester II – 2009. Atas dasar inilah pemerintah optimistis, pelambatan ekspor pada paruh kedua tahun 2009 tidak akan separah paruh pertama tahun 2009. Pada Semester II – 2009 ini ekspor diharapkan terkontraksi (tetap bergerak meskipun tidak tumbuh melampaui Semester I – 2009) pada minus 9,7 persen. Itu artinya membaik dibandingkan konstraksi ekspor Semester I -2009 yang minus 16,7 persen.
Pulihnya Cina dan India diharapkan akan menular ke negara-negara di kawasan dalam bentuk penanaman modal. Pemerintah kita berharap pertumbuhan investasi Semester II – 2009 akan mencapa 9,2 persen. Lebih tinggi dari Semester I – 2009, takni 5,6 persen. Pada Semester I – 2009 tercatat nilai investasi berbentuk portofolio di pasar modal yang keluar sebesar 1,178 milliar dollar AS, pada Semester II – 2009 diharapkan ada aliran modal masuk sekitar 420 juta dollar AS. Begitu pun dengan investasi asing dalam aliran modal langsung ke sektor riil diharapkan masih akan ada yang masuk sebesar 1,7 milliar dollar AS pada Semester II – 2009 ini.
Ekspor dan investasi harus tumbuh sebagai pengganti sektor konsumsi rumah tangga yang diperkirakan akan menurun dibanding Semester I – 2009. Tapi Indonesia tidak bisa berharap banyak pada konsumsi rumah tangga pada semester II – 2009 karena sektor ini akan didera tekanan inflasi yang lebih tinggi, juga empat hal lain yaitu : (1) Musim masuk sekolah, (2) Dua kali hari raya keagamaan yaitu Idul Fitri dan Natal, (3) Bulan Ramadhan dan (4) Perayaan Tahun Baru 2010. Empat hal ini akan mengerek harga-harga naik. Atas dasar itu diperkirakan laju inflasi Semester II – 2009 mencapai 5 persen, lebih tinggi daripadaSemester I – 2009 yaitu 4,2 persen.
Indonesia patut memperhitungkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga karena seperti juga pada umumnya negara-negara di Asia, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi 70 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Atas dasar ini, mempertahankan daya beli masyarakat dan menahan harga barang serta jasa merupakan langkah mutlak yang harus dilakukan demi menjaga permintaan domsetik tetap kuat dan terjaga.
Berikut di bawah ini, kita akan mempelajari bagaimana Cina menyiasati menjaga pertumbuhan pasar domestiknya, seperti yang tercantum pada The Economist edisi 27/6 – 3/7 dalam artikelnya yang berjudul Consumer Spending in Asia : Shopaholics Wanted ; Cina sungguh tidak tanggung-tanggung memberikan subsidi kepada penduduk pedesaan yang membeli barang-barang elektronik dan kendaraan. Cina juga memangkas tarif pajak bagi kendaraan rendah emisi serta memberikan subsidi penduduk di perkotaan yang menukarkan produk elektronik lama dengan produk baru.
Juga pemerintah Cina memerintahkan semua BUMN-nya yang sudah masuk pasar modal sejak tahun 2005 agar mentransfer 10 persen dari saham mereka pada Dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) Nasional Cina supaya perusahaan pengelola JPS ini kian kuat struktur permodalannya. Alasannya sederhana, jika penduduk Cina dapat menjadi yakin dengan kondisi keuangannya pada saat pensiun nanti atau pada saat kondisi ekonomi memburuk ; tentu mereka tidak keberatan membelanjakan uangnya saat ini. Cara lain adalah mendorong konsumsi dalam negeri dengan mempermudah prosedur pinjaman bank, alasannya lagi-lagi sederhana bahwa konsumsi yang tinggi akan mendorong perekonomian.
Sumber : Kompas, 03.07.2009









