Posted by: hagemman | July 4, 2009

YANG LAGI NEKAD

korut yg lg nekadKarena tekanan AS serta Dewan Keamanan PBB yang intens sejak melakukan uji coba nuklir tanggal 25 Mei lalu, Korea Utara (Korut) kemarin (2/7) meluncurkan  dua rudal jarak pendek permukaan. Yang pertama tercatat diluncurkan pukul 17:20 dan yang kedua pukul 18.00, waktu setempat, dari Sinsang-ni, dekat kota Wonsan di pesisir Timur. Kedua rudal Korut itu termasuk kategori KN-1 melesat terbang sejauh 100 kilometer. Sesungguhnya rudal ini diyakini memiliki daya jelajah 160 kilometer.

Sebelumnya Korut memang telah menyatakan akan melakukan peluncuran uji cobanya antara tanggal 24 Juni dan 9 Juli 2009 ke kawasan di sekitar Laut Jepang. Korut mengistilahkannya sebagai “latihan penembakan militer”. Diduga kuat dalam rangka latihan ini Korut akan menembakan rudal Scud-B berdaya jelajah 340 kilometer dan Rodong-1 yang memiliki daya jelajah 1.300 kilometer ; yang kemungkinan diluncurkan dari pangkalan militer Gitsaerung di Propinsi Kangwon dan juga dari sebuah basis di Selatan Propinsi Hamgyung.

Kini yang menjadi pertanyaan banyak pihak mengapa Korut begitu nekadnya mengabaikan tekanan negara-negara maju, setelah perundingan enam pihak yang stagnan agar Korut melepaskan ambisi nuklirnya. Beberapa pengamat politik menyatakan bahwa tampaknya Kim Jong-Il (67), yang tengah sakit, sengaja menggelar penembakan rudal itu untuk unjuk kekuatan disamping mempertegas otoritasnya, khususnya saat ia berupaya memuluskan rencana suksesi bagi putera bungsunya.

Padahal siapa pun tahu teknologi Korut dalam hal rudal tidaklah ada apa-apanya dibandingkan AS, misalnya. Sebab teknologi Korut sesungguhnya hanya mengandalkan senjata fisi, termasuk yang dapat dipasang pada hulu ledak (warhead). Sementara AS bukan hanya memiliki senjata fisi melainkan juga senjata fusi. Disamping AS memiliki bom neutron, yaitu pengembangan bom hibrida fisi-fusi yang mampu memusnahkan manusia tanpa merusak infrastruktur di kawasan hunian sasaran.

Reuters pernah mengindikasikan Korut dapat membuat bom-A berbahan peledak plutonium . Tapi pada sisi lain dugaan kuat pula bahwa Korut tidak memiliki reaktor pembiak cepat untuk memproduksi plutonium. Akan tetapi jika reaktor Korut saat ini tidak dioperasikan terlalu lama, yang terbiakan hanya plutonium-239. Isotop-isotop plutonium lain belum sempat terbentuk, terlebih unsur-unsur transuranik yang intinya lebih berat lagi. Jadi, hanya diperlukan pemisahan kimia yang lebih “mudah” dibandingkan pemisahan fisika plutonium-239 dari isotop-isotop plutonium lain. Hanya proses ini tampaknya dilakukan Korut dalam lingkungan yang amat radioaktif dan berbahaya karena plutonium radiotoksik. Soalnya Korut jelas tidak memiliki fasilitas robotika yang canggih. Demikian paparan singkat L. Wilardjo, Guru Besar Ilmu Fisika, Unika Satya Wacana, Salatiga, menulis pada Kompas, 03.07.2009.

Satu hal yang menarik adalah Korut tetap nekad menantang dunia dengan aksinya.  Komodifikasi ambisi nuklirnya nan amat merepotkan kawasan Asia Timur. Terlebih jika Korut sungguh mampu memproduksi dan menjual bom mautnya pada kelompok-kelompok perlawanan ; kita bisa bayangkan dunia yang nir – nuklir akan kian sulit diwujudkan.

Sumber  :  Kompas, 03.07.2009


Leave a response

Your response:

Categories